FF Oneshoot [Myungzy Couple] Time Machine

Coverff-Timemachine

Title         : Time Machine

Author    : Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Other

– Park Jiyeon

Genre       : Sad Romance, Songfic, Mistery

Lenght      : Oneshoot

Rating       : PG !5

Gadis berambut panjang itu tersenyum sayu sambil memasukkan beberapa sendok kopi ke dalam cangkir kaca. Sesekali senyumannya terlepas kemudian terpasang lagi begitu seterusnya hingga dia selesai membuat kopi.

Ia bawa secangkir kopi itu menghampiri seorang pria lemah yang terbujur kaku di atas kursi roda. Pria iu tersenyum manis, tapi ada satu hal yang tidak di ketahui bahwa pria itu hanya memaksa untuk tersenyum tanpa ada niat sedikitpun.

“ Kau ingin makan ? “

“ Tidak “

Gadis itu menghela nafas ingin beranjak pergi tapi tangannya di tahan oleh pria lemah itu.

“ Aku ingin kau tetap disini “

Gadis itu luluh melihat ekspresi muram dari pria di hadapannya. Ia kembali duduk sambil menatap kosong kedepan.

1 menit

2 menit

30 menit

1 jam 17 menit

Semua waktu itu hanya di habiskan dengan kesunyian tanpa ada kumunikasi. Tak ada yangtahu perasaan mereka satu sama lain. Sejak kejadian 10 bulan lalu membuat mereka harus terus membohongi diri mereka sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi waktu tetap waktu yang akan terus berjalan ke depan, jika mereka dapat memutarnya berbalik arah itu adalah satu harapan mereka yang selalu mereka nantikan.

Gadis itu tersiksa melihat orang terkasihnya harus duduk di atas kursi yang beroda selama berbulan-bulan atau mungkin bahkan menjadi bertahun-tahun. Di sisi lain pria itu tampak lebih tersakiti untuk harus menerima kenyataan bahwa gadis yang ia cintai harus berpura-pura bahagia, tak pernah ada canda tawa lagi dari gadis itu.

Semua ini salah siapa ? Bagaimana bisa kau menganggap bahwa dirimu benar sementara kenyataan yang ada hanyalah sebuah kepahitan dunia. Ya, mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang telah terjadi.

Sebuah kata cinta tak mampu membuat itu semua menjadi baik bahkan pengucapan kata cinta itu sudah terhenti beberapa bulan yang lalu. Mereka melewati setiap detik yang berjalan seperti orang asing dan hanya ada satu senyuman di setiap harinya.

Suzy memeriksa barang-barang di kantung plastik berwarna putih yanga ada di genggamannya, lengkap. Ia membuka pintu kaca Swalayan itu dan…

Seseorang telah menabrak dirinya membuat beberapa barang di kantung palstik itu berhamburan keluar. Suzy segera merapikan barang-barang itu kembali, dibantu dengan orang yang menabraknya tadi. Ia menoleh, menatap nanar orang yang dihadapannya itu kemudian segera pergi.

“ Suzy-ah “

Suzy menghentikan langkahnya, tubuhnya bergetar, suara lembut itu memanggil namanya. Suara yang yang sangat ia benci dari seorang gadis bernama Park Jiyeon.

Gadis yang bernama Park Jiyeon itu mendekati Suzy. Suzy berbalik menghadap Jiyeon tapi wajahnya menunduk tak berani memandang Jiyeon.

“ Myungsoo, apa dia baik ? “

“ Ya “

Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Suzy. Jawaban itu sangat lemah terdengar, Suzy seperti enggan untuk berbicara dengan Jiyeon. Suzy berlalu meninggalkan Jiyeon yang hanya bisa menatap dirinya dalam kesedihan. Jiyeon tak tinggal diam, ia menarik Suzy masuk ke dalam mobilnya.

“ Aku dan Myungsoo.. tidak.. kau hanya salah paham “

“ Tak apa, aku tak menerima penjelasan lagi. Simpan saja itu semua “

“ Tapi kau membenciku, kumohon dengarkan aku “

Senyuman sinis mulai terlukis di wajah Suzy, ia hempaskan kasar kedua tangan Jiyeon yang memegang jemarinya.

“ Jika kau manusia kau tak seharusnya melakukan itu, karena kau tahu Myungsoo adalah suamiku “

Suzy tengah menangis memeluk sebuah foto. Televisi yang ada dihadapannya menyala, menayangkan sejumlah gambar anak laki-laki dan anak perempuan yang berusia 5 tahun sedang asik bermain.

Ia teringat oleh putranya yang bahkan belum di beri nama. Air matanya tak ingin berhenti terjatuh membuat dadanya semakin sesak.

Dari balik arah Myungsoo menatapnya dengan penuh penyesalan. Ia tahu rasa sakit yang kini singgah di hati Suzy karena itu sama sakitnya dengan perasaannya.

Apa yang bisa Myungsoo lakukan ? Hanyalah diam memandangi tak bergerak sedikitpun.

Tangisan Suzy semakin mengarah pada puncaknya. Tanpa sadar sebingkai foto ditangannya itu terjatuh. Suara pecahan kaca bingkai foto itupun ikut menghiasi tangisan kelu yang Suzy ciptakan.

“ Suzy-ah “

Suzy mendongakkan wajahnya yang terbalut cairan bening mengalir tanpa batas. Ia hampiri orang yang memanggil namanya. Menatap kejam Myungsoo.

“ Jangan menangis “

“ Jangan menangis kau bilang ? Semudah itu kah kau mengatakannya ? Tak tahu kah kau betapa lelahnya aku menahan air mata ini ? “

“ Maafkan aku “

“ HANYA ITU KAH ? Kau rela duduk di kursi roda bodoh ini demi untuk menyelamatkan wanita itu dari pada menyelamatkan putramu sendiri ? Huh ? “

Tubuh Suzy terjatuh ke lantai, tangannya terhempas di kedua kaki Myungsoo. Wajahnya jatuh kebawah, peluh merambat masuk membasahi kening Suzy. Jemarinya gemetar meremas lutut Myungsoo. Tangisannya hilang akal, tak tahu bahwa Suzy lelah menangis seperti itu.

Bibir Myungsoo terkunci kepedihan. Matanya bercahaya rasa bersalah tak tersembuhkan. Jemarinya membelai lembut rambut coklat Suzy kemudian menciumnya. Tangan kekarnya ia kalungkan pada pundak Suzy, tapi sedetik kemudian Suzy menepisnya.

Marah ? Tidak, Suzy hanya tidak ingin walau sejujurnya ia butuh ditenangkan dengan pelukan Myungsoo itu. Biarkan saja mereka seperti ini, mereka hanya menunggu waktu untuk menantikan jawaban atas semua masalah yang tumbuh.

Myungsoo membiarkan makan siangnya kesepian, tak sedikitpun ia menyentuhnya. Ia memperhatikan istrinya yang memakan makanannya tanpa ampun. Saat itu juga seseorang telah mengetuk pintu rumah mereka. Suzy membanting sumpitnya merasa kesal karena telah diganggu dari makan siangnya.

Ia membuka pintu, seketika ekpresinya berubah. Dengan cepat ia ingin menutup pintu rumahnya tapi tertahan. Seseorang di balik pintu itu meringis kesakitan karena tangannya sempat terjepit.

“ Kita harus bicara “

Wanita itu Jiyeon, ia mengambil pergelangan tangan Suzy dan membawa Suzy keluar. Setelah dua langkah Suzy melempar kasar tangan Jiyeon. Menghela nafas sebentar dan dengan indahnya tersenyum licik.

“ Bicara disini saja “

“ Kau tidak bisa seperti ini terus “

“ Siapa yang akan peduli ? “

Jiyeon diam mencoba menenangkan dirinya atas sikap Suzy yang sudah benar-benar terpasung oleh ketidaknyataan.

“ Aku dan Myungsoo tak… “

“ Kau dan Myungsoo itu sama saja. Kalian adalah manusia terburuk yang pernah kukenal “

“ Bae Suzy kau boleh menilaiku seperti itu tapi kau salah besar jika berpendapat bahwa Myungsoo adalah seperti yang kau fikirkan “

“ KENAPA KALIAN TAK MATI SAJA HUH ? “

Nada suara Suzy meninggi di batas normal bahkan Myungsoo yang didalam sana masih mampu menangkap getaran di setiap kata yang dilontarkan Suzy. Myungsoo menitikkan sedikit air matanya. Ia sedih karena Suzy berkata seperti itu. Suzy ingin dirinya mati, apakah itu benar yang diinginkan gadis terkasihnya ? Apakah Suzy sangat membenci dirinya ?

Keesokan harinya Suzy tampak berbeda tidak seperti di hari-hari biasanya yang selalu bersikap acuh pada Myungsoo. Dia tampak sedikit lebih lembut terhadap Myungsoo. Menyiapkan sarapan untuk Myungsoo, mencandai Myungsoo dengan leluconnya bahkan sampai membawa Myungsoo berjalan-jalan.

Bisa di bilang itu adalah hari terindah bagi Myungsoo yang memang sudah sangat lama merindukan Suzy yang lembut.

Suzy berlutut merapikan rambut Myungsoo, ia tersenyum manis sambil melihat Myungsoo yang juga menyunggingkan sedikit garis dibibirnya. Tangannya kemudian beralih menyentuh jemari Myungsoo yang kedinginan.

“ Kita berpisah saja “

Kalimat Suzy itu membuat Myungsoo amat sangat terkejut. Garis senyum dibibirnya itu menghilang digantikan oleh raut wajah sedih yang khawatir. Jari-jari tangannya yang tadi hangat karena genggaman Suzy kini berubah kaku membeku.

Suzy menggerakkan kakinya untuk berdiri. Ia mengelus rambut Myungsoo lagi, mendekatkan wajahnya pada rambut Myungsoo dan memberikan sebuah ciuman yang mungkin bisa dikatakan bahwa itu adalah ciuman perpisahan.

“ Maafkan aku, tapi sudah hampir setahun pernikahan kita dan aku masih belum bisa untuk mempercayaimu. Pergilah bersama gadis yang bisa mengerti perasanmu lebih dari diriku “

Untuk yang terakhir kalinya Suzy mendorong kursi roda Myungsoo dan mengantarkannya pulang.

Otak Myungsoo mati, dadanya sesak, bibirnya bergetar kelu membuat kepulan asap dingin keluar dari helaan nafasnya. Myungsoo benar-benar tak berdaya karena disaat terakhir seperti ini ia tak sanggup melontarkan satu katapun dari bibirnya, ia tak punya kekuatan untuk menahan Suzy dan memperbaiki semuanya..

Suzy masih berbaring di tempat tidurnya padahal waktu sudah menulis angka 10 pagi. Ia terus memandangi sisa tempat tidurnya yang dulu ada seseorang yang menempatinya. 3 minggu sudah ia beraktivitas seorang diri. Suzy, ia tahu bahwa ia sangat menyesal.

Sendirian di ruangan ini tak seperti biasanya. Cerita yang Suzy buat dengan Myungsoo menjadi sia-sia, Hubungan mereka hancur dengan mudahnya Hanya satu kesalahan yang mendapatkan sebuah penyesalan. Walau Myungsoo mencoba mengatakannya, luka yang membalut hati Suzy takkan sembuh dengan mudah.

Waktu yang Suzy lalui sendiri terasa begitu lambat tanpa Myungsoo. Suzy sadar bahwa ini hukuman yang terasa berat baginya. Terakhir kali ia mengucapkan kata itu, dan sampai sekarang masih terngiang membuat hatinya semakin sakit bila mengingat.

Meski aku egois itu karena aku mencintaimu !! Batin Suzy.

_

_

Suzy menyisir rambutnya. Memakai jaket coklat hijaunya dengan rapi kemudian dengan gesit meninggalkan rumahnya sendiri. Ia tiba di sebuah rumah, ya rumah Myungsoo, Dia rindu dengan pria itu.

Seseorang wanita  kira-kira dengan usia 31 tahun membukakan pintu untuk Suzy. Matanya memandang Suzy heran kemudian tersenyum. Suzy membungkukkan badannya lalu bertanya dimana Myungsoo.

“ Myungsoo tidak ada. Dia berada di luar negeri sekarang sejak 2 minggu yang lalu “

“ Dia sendiri ? “

“ Tidak, dia bersama Jiyeon “

Kedua pernyataan itu semakin membuat Suzy menyesal melepaskan Myungsoo. Ia sangat merindukan Myungsoo, ia lepas ketakutannya untuk bertemu dengan Myungsoo hanya sekedar untuk bisa melihat wajah Myungsoo. Tapi ia terlambat, Myungsoo sekarang berada sangat jauh darinya.

Suzy meneteskan air matanya perlahan. Jika Suzy bisa melintasi waktu dan angkasa, Suzy ingin menjumpai Myungsoo. Jika saja Suzy tidak memutuskan sesuatu secara sepihak mungkin ia takkan menyesal seperti sekarang.

Suzy berharap bisa menemukan mesin waktu, agar dia bisa bertemu dengan Myungsoo kembali. Suzy tak meminta apapun, sebelum semuanya terlupakan dan hanya menjadi sekilas memory tak terpandang, ia hanya ingin dapat melihat senyum Myungsoo.

***

“ Kau akan pulang besok ? “

Seorang pria mengedarkan pandangannya ke arah orang yang memakai jas putih dan kacamata. Pria itu mengangguk kemudian meluruskan lagi pandangannya.

“ Aku merindukan seseorang disana “

Pria itu memejamkan matanya, mengepalkan tangannya dan menaruhnya di dadanya.

Bagaimana kabarmu ?

Sebuah toko pakaian anak kecil kini berdiri di pusat kota Daegu. Sebuah bangunan yang cukup sukses karena produk yang mendukung berkualitas baik tanpa menyinggahkan alasan mengeluh karena penetapan atas harga. Toko itu di pegang oleh seorang wanita berusia 28 tahun yang bernama Bae Suzy.

Tak jarang Suzy memberi diskon yang besar untuk para tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tokonya. Ia tak peduli jika ia akan rugi nantinya, ia hanya ingin banyak anak-anak yang menyukai pakaian di tokonya.

Seorang anak laki-laki datang menghampiri Suzy yang sedang sibuk melayani pelanggan lain. Anak laki-laki itu memegang sehelai kaos berwarna oranye yang lucu.

Suzy merendahkan tubuhnya setara dengan anak laki-laki itu.

“ Kau suka dengan baju ini ? “

Anak kecil itu dengan semangat mengangguk bahagia.

“ Kau bisa memilikinya, karena ini adalah hadiah untukmu “

“ Benarkah ? Terima kasih nunna “

Anak kecil itu kemudian mengecup pipi lembut Suzy membuat Suzy tersenyum geli bukan karena ciumannya tapi karena panggilan kakak yang ditujukkan padanya.

“ Siapa namamu ? “

“ Heungsoo-ah “

Panggilan itu membuat anak kecil yang bersama Suzy menoleh kebelakang. Ia berlari kearah wanita yang memanggil namanya.

“ Eomma “

Suzy mendongakkan kepalanya sembari berdiri.Ia terkejut melihat dua orang yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Kedua orang itu menghampiri Suzy tapi Suzy malah memundurkan satu langkah kakinya.

“ Suzy-ah “

Suzy tahu betul suara itu. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. – Myungsoo – dia yang menyebut nama Suzy tadi. Ia yang berdiri di hadapan Suzy bersama dengan Jiyeon disamping kirinya. Ia yang 5 tahun menghilang dari hadapan Suzy dan kini kembali terlihat oleh bola mata Suzy.

Myungsoo tak lagi berdiri bersama kursi roda yang sangat setia membantunya kemanapun. Myungsoo berdiri dengan kedua kakinya yang sudah mampu menopang tubuhnya. Butuh 5 tahun bagi Myungsoo untuk dapat berjalan seperti sejak pertama kali ia bsa berjalan, meski saat ini kedua kakinya belum sepenuhnya sembuh total.

Dalam hati hasrat Suzy ingin memeluk Myungsoo, tapi ia tak bisa. Jiyeon mendekati dirinya kemudian menenggelamkan tubuh Suzy pada pelukan Jiyeon.

“ Aku ingin kau mendengar sebuah kenyataan “

“ Tak perlu “

“ Dengarkan dulu… Jangan pernah berfikir bahwa Heungsoo adalah anak Myungsoo. Aku dan dia tak ada hubungan apa-pun. Kau adalah adikku, tak mungkin jika aku mengkhianatimu. Kejadian itu aku benar-benar minta maaf karena saat itu aku dan Myungsoo sedang hilang kesadaran. Tapi kau harus tahu bahwa Heungsoo bukanlah putra Myungsoo… Maafkan aku, telah memisahkanmu pada putramu “

Suzy menatap Myungsoo yang masih berada di hadapannya sambil mendekap Heungsoo dengan tangan kirinya. Jiyeon melepaskan pelukannya. Kemudian digantikan oleh Myungsoo yang mulai mendekati Suzy.

“ Aku merindukanmu. Kau percaya padaku ? “

***

“ YAA KIM MYUNGSOO “

Suzy berteriak sambil mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Ia tertinggal jauh oleh Myungsoo yang memang sengaja mengayuh lebih cepat agar Suzy tak bisa menggapainya.

Karena terlalu bersemangat mengayuh, Suzy sampai tidak memperhatikan jalan yang ia lalui. Ban sepedanya menabrak batu yang cukup besar membuat Suzy terjatuh dari sepedanya.

Myungsoo yang menyadari tak ada lagi teriakan-teriakan Suzy, mengerem sepedanya mendadak. Ia balikkan tubuhnya. Panik, ia panik melihat Suzy terjatuh dari sepeda dan tak sadarkan diri. Myungsoo segera menjatuhkan sepedanya dan berlari menghampiri Suzy.

“ Suzy-ah… Suzy-ah… Buka matamu.. Bae Suzy “

Myungsoo terus berteriak histeris menggoyang-goyangkan bahu Suzy. Ia tampak khawatir terlebih Suzy tak merespon panggilannya.

_

_

Tiba-tiba Suzy membuka matanya dan tertawa lepas. Ia memasang muka ejekan dan melemparkannya pada Myungsoo. Myungsoo yang merasa kesal karena berhasil di tipu oleh Suzy, merangkul leher Suzy kemudian memeluknya dari belekang. Mereka tertawa bersama.

 

FIN

Halo apa kabar readers ? Auhtor mau kasih FF penghibur aja nih buat kalian.. Author bingung mau gimanain end-nya, jadi maafin ya kalau kurang ng’feel… Terserah deh kalian mau coment atau nggak Author gak maksa kok, kalian udah mau baca aja Auhtor udah terima kasih…
Dan satu lagi Author benar-benar berharap kalau Myungzy itu real ^^

Iklan

FF Chapter [MyungJin Couple] | Love And Age Part 1

FFCover-Loveandage-part1

Title              : Love And Age [Part 1]

Author          : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myongsoo

– Park Hyojin

Support cast

– Kim Namjoo

– No Minwoo

– Kim Kyoung Jae

Genre              : Romance, Sad

Lenght            : Chapter

Rating             : PG 15

AUTHOR POV

 

          Musim dingin sudah mulai meracuni kota Seoul, Angin setiap detiknya menari di sepanjang jalan tanpa batasan waktu. Daun-daun yang tenang pun ikut menikmati tarian angin yang  menghempas mereka. Hyojin dan sahabatnya Namjoo yang baru saja meninggalkan sekolah mereka kini berjalan kaki untuk bergegas pulang, mereka bisa merasakan kedinginan udara kota Seoul siang itu. Candaan mereka mampu menghangatkan suhu tubuh mereka, walau pada logikanya itu mustahil.

          Tiba-tiba seorang pria berjas hitam yang tampak elegan menabrak Hyojin yang masih asik bercanda ria dengan Namjoo. Pria itu bernama Kim Myungsoo. Hyojin yang tersohor ke lantai jalanan meringis kesakitan, sedangkan sahabatnya Namjoo ikut terduduk memegangi lengan Hyojin.

          Myungsoo segera menolong Hyojin berdiri, seketika syaraf otaknya berhenti. Ia terdiam dalam waktu yang cukup lama setelah Hyojin menoleh kearahnya. Entah apa yang terjadi Myungsoo merasakan ritme detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

          Wajahnya… Sangat manis !! Batin Myungsoo.

          “ Ahjussi “ panggil Hyojin karena bingung dengan tingkah laku Myungsoo.

          Myungsoo tak mengindahkan panggilan Hyojin. Pada detik panggilan terakhir barulah Myungsoo sadar dari lamunannya. Myungsoo segera memegang lengan Hyojin berniat untuk membantu Hyojin berdiri.

          “ Sebaiknya kau lebih berhati-hati dan memperhatikan langkahmu agar kau tidak menabrak orang lagi “ ujar Myungsoo kemudian berlalu meninggalkan Hyojin dan Namjoo.

          Hyojin tercengang dengan kalimat yang di lontarkan Myungsoo, bukankah yang salah itu Myungsoo. Myungsoo yang menabrak dirinya lantas mengapa Hyojin yang diberi nasihat oleh Myungsoo.

          “ Mengapa semua orang dewasa hanya bisa menyalahkan seorang anak kecil, padahal anak kecil itu tidak bersalah “ ucap Hyojin dengan nada tinggi dan cukup lantang.

          Myungsoo yang saat itu bersama dengan seorang pria yang sebaya dengannya menoleh kearah Hyojin yang kebetulan Myungsoo belum terlalu jauh meninggalkan Hyojin dan Namjoo sehingga ia bisa mendengar jelas ucapan Hyojin barusan.

          Myungsoo kembali menghampiri Hyojin. Saat dirinya tepat sudah berada dihadapan Hyojin, ia justru menyentuh kening Hyojin.

          “ Gadis kecil kau sakit ? “ sahut Myungsoo datar seakan dirinya tak melakukan dosa apapun.

          Hyojin melongak kaget karena Myungsoo dengan berani menyentuh keningnya. Ia hanya bisa menatap heran Myungsoo.

          Myungsoo yang tak mendapatkan respon dari Hyojin melepaskan syal putih yang saat itu ia kenakan. Ia mengalungkan syal itu keleher Hyojin, dan sekali lagi Hyojin  benar-benar terkejut dengan tingkah laku Myungsoo tak terkecuali dengan Namjoo dan pria yang bersama Myungsoo.

          “ Tak apa, kau bisa mengembalikannya jika kita bertemu lagi. Sebaiknya kau segera pulang, cuaca hari ini tidak bagus untuk diajak bermain “ ucap Myungsoo tersenyum.

          “ Dan satu lagi aku tidak setua yang kau fikirkan jadi kau tidak perlu memanggilku Ahjussi “ sambungnya.

          Benar-benar kejadian yang diluar nalar fikiran Hyojin, Myungsoo tanpa merasa bersalah sedikitpun melontarkan kalimat-kalimat yang benar-benar membuat Hyojin berdecak kagum penuh keheranan.

          Untuk pertama kalinya Myungsoo dapat merasakan jantungnya yang berdekup kencang. Tapi mengapa dengan gadis SMA. Wajahnya benar-benar manis Myungsoo bahkan tak berani menatapnya terlalu lama.

          Mungkinkah Myungsoo menyukai Hyojin, atau hanya perasaan sesaat karena wajahnya yang sangat manis.

          “ Kau tak seharusnya seperti itu “ ucap Kyoung Jae tiba-tiba yang tak lain adalah Myungsoo’s Hyung.

          Myungsoo tak menghiraukan Kyoung Jae hanya fokus dengan gitar yang saat ini berada dipangkuannya.

          “ Mengalungkan syal ke lehernya itu sungguh tidak pantas kau lakukan terlebih kau tidak mengenal gadis itu “ sahut Kyoung Jae yang kali ini merampas gitar dari pelukan Myungsoo.

          “ Apa itu sebuah tindakan kriminal ? Aku hanya kasihan melihatnya kedinginan “ balas Myungsoo yang akhirnya membuka mulut.

          “ Jika kau melakukan itu pada gadis seusiamu mungkin mereka akan jatuh hati padamu, tapi dia hanya gadis kecil yang mungkin akan berfikiran yang aneh-aneh tentang dirimu “

          “ Dia gadis yang pintar dia pasti bisa berfikir rasional “ sahut Myungsoo dengan bangganya dan dengan sedikit senyum tipis di bibirnya.

          Kyoung Jae menyerah dan melemparkan gitar Myungsoo yang berhasil di tangkap Myungsoo kemudian ia berlalu dari pandangan Myungsoo.

          Kini ponsel Myungsoo berdering, ia segera mengambil ponselnya yang terletak tepat disampingnya. Sebuah nama terpampang jelas di layar ponsel Myungsoo.  Myungsoo merasa malas untuk menjawab panggilan yang ternyata dari Ayahnya. Ia membiarkan ponselnya tergeletak tanpa menyentuhnya sedikitpun. Sudah berulang-ulang kali ponselnya berdering tapi ia tetap saja sibuk memetik senar-senar gitarnya.

          Ia tahu pasti Ayahnya akan membicarakan masalah perusahaan lagi dan menyuruh dirinya untuk menduduki posisi sebagai Direktur di perusahaan Ayahnya.

          Menjadi anak pemilik perusahaan terrbesar di Seoul tidaklah menyenangkan bagi Myungsoo. Ia sama sekali tak menarik minat untuk berurusan dengan pekerjaan seperti itu.  Ia lebih memilih bermain dengan gitar kesayangannya atau pergi kerumah Sungyeol sahabatnya.

          Walau begitu Myungsoo tetap menjalankan pekerjaan itu karena perintah Halmeoni yang sangat ia sayangi. Permintaan apapun yang diminta Halmeoninya meski itu tak disukai olehnya, ia akan tetap melakukannya karena ia sangat menyayangi Halmeoninya dan tak ingin mengecewakan Halmeoninya.

HYOJIN POV

 

          Hari ini aku bangun lebih pagi hanya sekedar untuk melihat matahari terbit. Sangat indah.

          Setelah puas melihat, aku pergi kekamar mandi bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Setelah keluar dari kamar mandi aku segera membalut tubuhku dengan seragam sekolahku. Seragam yang cantik dan juga sekolah favoritku.

Seoul Internasional High School memang sekolah yang cukup populer aku saja mengagumi keelitan dan keindahannya dan untung saja Ibuku mengizinkanku bersekolah di sana.

Setelah kurasa semua yang kukenakan sudah terpasang rapi aku segera keluar kamar dan menuju meja makan untuk sarapan jika tidak Ibu akan memarahiku habis-habisan. Bisa dibayangkan sendiri hanya karena tidak sarapan kau bisa tidak diizinkan keluar rumah seharian dan itu membuatku takut karena biasanya sehabis pulang sekolah aku akan pergi ke sebuah Espresso Cafe yang tak terlalu besar hanya sebuah cafe  kecil.

Disana aku bekerja bersama Namjoo, bukan apa-apa aku hanya kesepian jika dirumah seharian tanpa seorangpun yang menamaniku. Dan jika Ibuku mengetahui aku bekerja di Espresso Cafe aku tak tahu hukuman apa lagi yang akan diciptakannya.

“ Hari ini kau tidak perlu sekolah “ sahut Ibuku memulai pembicaraan.

“ Apa ? Tapi kenapa ? “ tanyaku tak percaya.

Ibuku tak menjawab pertanyaanku dia hanya menatapku sesaat dan kemudian melangkah keluar rumah. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ? Menetap dirumah seorang diri seharian penuh ?

Aah Ibuku  benar-benar tak mengerti dengan keinginanku. Dia dengan kuasanya menyuruhku untuk tidak bersekolah, dia bahkan tak memberitahu alasannya kenapa.

Sudah berjam-jam aku hanya duduk di sofa memandangi layar televisi yang menyala, bermain-main dengan tombol remote yang berada digenggaman tangan kiriku berharap menemukan acara yang bisa menghilangkan kebosanan ini. Karena tak juga menemukan sesuatu yang menarik akhirnya aku memutuskan untuk masuk kerja lebih awal, lebih baik tubuhku kelelahan daripada harus lumpuh berjam-jam diatas sofa.

Seragam coklat dan topi putih yang kini kukenakan. Aku berdiri dibalik box kaca dan dengan setia menunggu pelanggan memesan kopi sesuai rasa favorit mereka masing-masing. Aku mendengar beberapa pelanggan wanita sedang membicarakan sesuatu, semakin terdengar jelas bahwa mereka sedang membicarakan Ayahku.

“ Benar-benar diluar dugaan, pria berwibawa seperti itu sanggup membunuh “

“ Itu karena ia menyelamatkan seseorang “

“ Tapi orang itu benar-benar tidak tahu berterima kasih. Seharusnya ia bisa memberikan saksi pembelaan agar bisa mengurangi hukuman pria itu “

Aku masih termenung mendengar ocehan wanita-wanita penggosip itu, apa mereka tidak tahu kalau aku adalah anak dari pria yang mereka bicarakan itu. Mereka kan penggosip sejati seharusnya mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih mengenai Ayahku.

Tapi ini memang bukan salah mereka, wajar saja jika mereka membicarakannya. Semua orang diluar sana juga pasti melakukan hal yang sama bahkan wartawan-wartawan sekalipun. Ini juga bukan salah Ayah atau salahku, ini semua salah seseorang yang aku sangat mengenalnya.

Seperti biasa aku dan Namjoo pulang bersama. Tapi kali ini aku jalan lebih dulu karena Namjoo harus mengerjakan sesuatu.

Aku menuggu didepan gerbang sekolah karena tidak mungkin aku meninggalkan Namjoo. Selama apapun ia aku akan tetap menunggunya karena itulah kami, Hyojin dan Namjoo yang selalu setia untuk menunggu dalam hal apapun.

Aku melirik jam tangan biru yang melilit pergelangan tanganku. Angin berhembus kencang meniup tubuhku yang sedang berdiri seorang diri. Langit yang cerah seakan tersenyum padaku dan awan-awan putih diatas sana seolah-olah ikut melindungiku dibawah sini.

“ Hyojin-ah “ sahut Namjoo tiba-tiba menyentuh pundakku.

Entah sejak kapan ia disitu aku bahkan tak mendengar langkah kakinya. Aku tersenyum dan kemudian merangkul tangannya, melangkahkan kaki bersama-sama karena itu yang selalu kami lakukan.

“ Mengenai laki-laki yang kemarin bukankah ia sangat tampan Hyojin-ah ? “ tanya Namjoo yang kujawab dengan senyuman tipis tak berarti.

“ Bukankah kau selalu memimpikan pangeran setampan drinya ? “ lanjutnya.

“ Dia benar-benar tampan dari apa yang ku impikan, tapi sikapnya kemarin itu sungguh aneh “

“ Lalu apa rencanamu ? “

Tidak bisakah sahabatku ini tidak bertanya terus atau mengganti topik pembicaraan, aku sedang tidak ingin membahas hal itu lagi mengingatnya saja aku benar-benar tak habis fikir dengan Ahjussi itu.

Aku menghentikan langkahku dan mulai membuka resleting ransel putihku mengambil sesuatu yang terbungkus.

Tak selang beberapa detik ponsel Namjoo berdering, ia pun segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Kulihat raut sedih diwajahnya saat sedang mendengar seseorang diseberang sana berbicara padanya.

“ Hyojin-ah sepertinya aku tidak bisa bekerja hari ini. Hyejoo sakit aku harus menjaganya “ ucap Namjoo murung.

“ Tak apa, aku akan mengizinkanmu. Pulanglah “

Namjoo tersenyum kemudian dengan gesit berlari meninggalkanku. Aku melihat punggungnya semakin jauh lantas aku melanjutkan perjalananku. Aku berjalan menundukkan kepalaku dengan kedua tangan kumasukkan di saku jas sekolahku. Aku berjalan lemas karena tak ada Namjoo dan sesekali menendang kerikil yang menganggu langkahku.

Langkahku terhenti karena seseorang berhenti tepat di hadapanku.

Kenapa dia berhenti didepanku ? Mengganggu saja.

Aku mendongakkan kepalaku dan kudapati orang yang berdiri di hadapanku saat ini adalah Pria yang kemarin bertingkah aneh padaku.

Dia membungkukkan badannya tapi aku hanya bisa berdiri diam tanpa kata.

Kenapa tiba-tiba dia bisa ada disini ?

“ Senang bisa bertemu kembali “ ucapnya.

Tapi aku tak senang bertemu denganmu Ahjussi bodoh.

“ Kenapa ? “ dia menatapku heran dengan senyuman manis penjilatnya itu.

Aku menyodorkan bingkisan yang kuambil tadi. Dia menatapku dan bertanya isi bingkisan itu. Bingkisan itu berisi syal putih yang waktu itu tanpa berfikir panjang ia berikan padaku.

Dia tersenyum dan bukannya mengambil bingkisan itu dia malah menanyakan namaku.

Apa dia gila ? Tidak mungkin kan aku berbicara dengan orang tidak sehat kejiwaannya.

“ Hyojin, Park Hyojin “ jawabku

“ Kau bisa memanggilku Myungsoo. Apa kau baru pulang sekolah ? “ tanyanya lagi dan akupun dengan lelah hati mengangguk.

“ Apa kau ingin makan siang denganku? “

Apa ? Apa yang dikatakannya ? Makan siang ? Ya ampun dia sudah gila atau tidak waras. Mengajak orang yang tak dikenalnya makan siang tanpa basa-basi, aku benar-benar merinding dibuatnya.

“ Maafkan aku, tapi aku harus segera pulang “ tolakku sedikit berbohong.

“ Kalau begitu bisakah aku mengantarkanmu pulang ? “

Aigho… Sepertinya dia sedikit terganggu. Pertama ia dengan keberaniannya mengalungkan syal keleherku, tanpa rasa malu ia memberi tawaran makan siang bersama dan sekarang dengan wajah polosnya itu dia berkata ingin mengantarku pulang !! Dia bahkan tak mengenalku.

Apa ini yang selalu ia lakukan pada semua orang yang belum ia kenal. Benar-benar orang aneh.

Karena merasa risih dengan paksa aku memberikan bingkisan itu dan segera menghilang dari hadapannya.

“ Tunggu !! “

Langkah ku terhenti. Sekarang apa lagi ? Langkahku bahkan belum yang kelima. Aku mengela nafas mengirupnya dengan tenang dan menghempaskannya dengan lembut kemudian menoleh kearahnya.

“ Aku harap kita dapat bertemu lagi “ ucapnya dan begitu saja meninggalkanku tanpa permisi.

Oh Tuhan… sepertinya dia benar-benar pasien rumah sakit jiwa yang kabur dari perawatannya.

Ini gila, sangat gila. Dia berharap bertemu denganku kembali ? Itu benar-benar menyimpang dari keinginanku.

Aku sungguh menyesal selalu memimpikan pangeran seperti itu. Sangat berbeda dengan pangeran yang ku impikan.

AUTHOR POV

 

          Hari itu Hyojin terlibat perkelahian disekolahnya. Hyojin memukul teman wanitanya hingga membuat teman wanitanya itu mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.

          Hyojin-pun tak kalah, ia juga mendapat pukulan di tangannya. Sebuah pukulan yang sangat keras dari tongkat besi hingga membuat tulang sendi tangan kanan Hyojin sedikit retak.

          Tak puas hanya memukul wajah teman wanitanya, Hyojin juga mendorong kasar tubuh teman wanitanya itu kedinding dan sukses membuat teman wanitanya meringis kesakitan dan akhirnya pingsan. Entah apa yang menuntut Hyojin melakukan itu semua, yang ia tahu saat itu hanya-lah perasaan marah yang berlebih dengan teman wanitanya itu.

          Hyojin masih duduk di sofa rumahnya terperanjat dengan kemarahan Ibunya yang tak pernah habis fikir dengan tindakan Hyojin. Hyojin tak berkutik dia dengan setia mendengarkan bentakan yang dilontarkan dari bibir Ibunya.

          “ Apa kau sudah gila ? Kau itu adalah seorang gadis, sekarang lihat temanmu !! Dia sekarang terbaring dirumah sakit dan belum sadarkan diri “

          “ Aku tak menyuruhnya seperti itu “ sahut Hyojin datar.

          “ PARK HYOJIN !!! Apa kau ingin seperti Abeoji ? Huh ? “

          Hyojin tersentak ia diam lalu tersenyum penuh keterpaksaan.

          “ Ya, aku ingin seperti Abeoji. Aku ingin berada di sel kantor polisi bersama Abeoji, jauh dari Eomeoni itu yang kuinginkan “

          Hyojin beranjak dari duduknya memerintahkan kakinya melangkah keluar rumah secepat mungkin. Panggilan dari Ibunya tak lagi ia pedulikan meski Ibunya sudah berulang kali meneriaki namanya tapi ia tetap acuh dengan semua itu.

          Dengan gontai ia pergi ke cafe tempat ia bekerja dengan tangan kirinya yang masih memegang tangan kanannya. Sakit itu yang pasti ia rasakan, untuk sekedar menggerakkan tanggannya sesentipun ia tak mampu.

          Hyojin membuka pintu kaca Espresso Cafe. Namjoo yang kebetulan sedang membersihkan beberapa meja dengan refleks melemarkan kain yang ia gunakan untuk membersihkan meja itu ke lantai.

          Namjoo menghampiri Hyojin yang terlihat tidak baik-baik saja. Ia menuntun sahabatnya itu ke salah satu meja mengambil kotak pertolongan pertama dan memperban tangan kanan sahabatnya itu.

          “ Kenapa kau memukulnya ? “ tanya Namjoo sedikit kesal dengan tindakan Hyojin.

          “ Hanya ingin memukul “ jawab Hyojin tak berdosa.

          “ Haissh.. kau ini selalu saja “

          Namjoo memukul kepala Hyojin tapi Hyojin tak sedikitpun marah atau meringis kesakitan ia hanya memperhatikan jemari-jemari Namjoo yang sedang asik memperban tangannya. Namjoo menyarankan Hyojin untuk kerumah sakit agar tangannya bisa mendapatkan perawatan yang efektif namun Hyojin dengan tegasnya menolak dan Namjoo-pun tak bisa berbuat apa-apa.

          Ia meninggalkan sahabatnya itu dan kembali mengerjakan tugasnya yang terhenti tadi.

Hyojin pun tak tahu apa yang harus ia lakukan beruntung Bibi Jang pemilik cafe tersebut memberikannya libur hari itu. Hyojin hanya bisa duduk manis memperhatikan Namjoo bekerja atau melihat beberapa pelanggan yang berdatangan karena pulang keumahpun tak akan berarti baginya.

          Tidak cukup membosankan bagi Hyojin duduk berpuluh-puluh menit di cafe itu. Dia hanya senang melihat banyak pelanggan yang berkeliaran keluar masuk mendorong dan menarik pintu kaca cafe itu.

          Namjoo datang dengan membawa secangkir Cappucino hangat kesukaan Hyojin. Ia sodorkan cangkir itu kepada Hyojin dan Hyojin-pun tersenyum mengambil secangkir Cappucino itu dengan tangan kirinya.

          “ Hyojin-ah aku dengar pria yang waktu itu adalah anak dari pemilik perusahaan sepatu terbesar di Seoul “

          “ Kau bahkan lebih kaya darinya “ ujar Hyojin sembari menyeruput Capuccino miliknya.

          “ Apa ? Tapi.. itu kan milik Arabeoji bukan milikku “

          “ Tak ada bedanya. Kau, aku dan Ahjussi itu sama-sama  anak pengusaha. Jika dia kaya, kau dan aku juga semestinya seperti itu walau nama kita tak ada didaftar harta itu Hahaha “ Hyojin tertawa lepas sedangkan Namjoo diam tak mengerti ucapan Hyojin.

          “ Hmm.. apa kau menyukainya ? “

          Tak ada secercah suarapun yang keluar dari mulut Hyojin, ia hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan sahabatnya itu.

          “ Bagaimana dengan Minwoo ? “ lanjutnya.

          Hyojin menatap Namjoo lekat menaruh cangkir Capuccino yang sedari tadi ia pegang. Menghela nafas dan sedikit memperbaiki posisi duduknya.

          “ Namjoo-ah… Tidakkah kau menyukainya ? “

          Mendengar ucapan Hyojin, Namjoo menundukkan wajahnya ia merasa seluruh energinya terkuras dan kini ia sangat lemah. Namjoo bangkit dan segera meninggalkan Hyojin. Hyojin tak merasa bersalah mengenai itu. Ia membiarkan Namjoo seperti itu tanpa mencoba menenangkannya.

          Dan tak diduga kini orang yang tengah membuat Namjoo lemas karena mendengar namanya tiba didepan mata Hyojin. Minwoo yang melihat Hyojin segera menghampirinya dan duduk tepat dikursi yang Namjoo tempati sebelumnya. Namjoo-pun merasakan kehadiran Minwoo tapi ia tetap berdiri mematung ditempatnya.

          Perasaan Namjoo kacau. Apakah ia harus ikut berkumpul bersama Hyojin dan Minwoo atau tetap diposisinya sampai ia benar-benar merasa tenang. Dan pilihan kedua jatuh ketangannya. Ia pergi ke dapur tempat cafe tersebut merebahkan tubuhnya ke kursi meja makan dan tak lupa menidurkan kepalanya sembari memendamkan wajahnya pada kedua tangannya.

          Setelah beberapa menit ia terbuai dalam kesendiriannya, seseorang dengan lembut menyentuhkan tangannya ke pundak Namjoo.

          “ Namjoo-ah “ suara yang lembut ciri khas seorang No Minwoo.

          Namjoo yang terkejut mendengar suara itu masih tak berani mengangkat wajahnya. Ia tetap diam hingga membuat Minwoo terus memanggil-manggil namanya.

          “ Pergilah, aku sedang tak enak badan dan aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk dirimu “ ujar Namjoo angkat bicara masih dengan wajah yang tenggelam.

          Minwoo tak menjawab apapun tangannya masih memegang pundak Namjoo. Sesaat kemudian Namjoo tak merasakan lagi ada sesuatu yang menyentuhnya, ia angkat wajahnya dan tak ada siapa-siapa disana hanya dia sendiri.

TBC

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….