FF Oneshoot [Myungzy Couple] Time Machine

Coverff-Timemachine

Title         : Time Machine

Author    : Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Other

– Park Jiyeon

Genre       : Sad Romance, Songfic, Mistery

Lenght      : Oneshoot

Rating       : PG !5

Gadis berambut panjang itu tersenyum sayu sambil memasukkan beberapa sendok kopi ke dalam cangkir kaca. Sesekali senyumannya terlepas kemudian terpasang lagi begitu seterusnya hingga dia selesai membuat kopi.

Ia bawa secangkir kopi itu menghampiri seorang pria lemah yang terbujur kaku di atas kursi roda. Pria iu tersenyum manis, tapi ada satu hal yang tidak di ketahui bahwa pria itu hanya memaksa untuk tersenyum tanpa ada niat sedikitpun.

“ Kau ingin makan ? “

“ Tidak “

Gadis itu menghela nafas ingin beranjak pergi tapi tangannya di tahan oleh pria lemah itu.

“ Aku ingin kau tetap disini “

Gadis itu luluh melihat ekspresi muram dari pria di hadapannya. Ia kembali duduk sambil menatap kosong kedepan.

1 menit

2 menit

30 menit

1 jam 17 menit

Semua waktu itu hanya di habiskan dengan kesunyian tanpa ada kumunikasi. Tak ada yangtahu perasaan mereka satu sama lain. Sejak kejadian 10 bulan lalu membuat mereka harus terus membohongi diri mereka sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi waktu tetap waktu yang akan terus berjalan ke depan, jika mereka dapat memutarnya berbalik arah itu adalah satu harapan mereka yang selalu mereka nantikan.

Gadis itu tersiksa melihat orang terkasihnya harus duduk di atas kursi yang beroda selama berbulan-bulan atau mungkin bahkan menjadi bertahun-tahun. Di sisi lain pria itu tampak lebih tersakiti untuk harus menerima kenyataan bahwa gadis yang ia cintai harus berpura-pura bahagia, tak pernah ada canda tawa lagi dari gadis itu.

Semua ini salah siapa ? Bagaimana bisa kau menganggap bahwa dirimu benar sementara kenyataan yang ada hanyalah sebuah kepahitan dunia. Ya, mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang telah terjadi.

Sebuah kata cinta tak mampu membuat itu semua menjadi baik bahkan pengucapan kata cinta itu sudah terhenti beberapa bulan yang lalu. Mereka melewati setiap detik yang berjalan seperti orang asing dan hanya ada satu senyuman di setiap harinya.

Suzy memeriksa barang-barang di kantung plastik berwarna putih yanga ada di genggamannya, lengkap. Ia membuka pintu kaca Swalayan itu dan…

Seseorang telah menabrak dirinya membuat beberapa barang di kantung palstik itu berhamburan keluar. Suzy segera merapikan barang-barang itu kembali, dibantu dengan orang yang menabraknya tadi. Ia menoleh, menatap nanar orang yang dihadapannya itu kemudian segera pergi.

“ Suzy-ah “

Suzy menghentikan langkahnya, tubuhnya bergetar, suara lembut itu memanggil namanya. Suara yang yang sangat ia benci dari seorang gadis bernama Park Jiyeon.

Gadis yang bernama Park Jiyeon itu mendekati Suzy. Suzy berbalik menghadap Jiyeon tapi wajahnya menunduk tak berani memandang Jiyeon.

“ Myungsoo, apa dia baik ? “

“ Ya “

Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Suzy. Jawaban itu sangat lemah terdengar, Suzy seperti enggan untuk berbicara dengan Jiyeon. Suzy berlalu meninggalkan Jiyeon yang hanya bisa menatap dirinya dalam kesedihan. Jiyeon tak tinggal diam, ia menarik Suzy masuk ke dalam mobilnya.

“ Aku dan Myungsoo.. tidak.. kau hanya salah paham “

“ Tak apa, aku tak menerima penjelasan lagi. Simpan saja itu semua “

“ Tapi kau membenciku, kumohon dengarkan aku “

Senyuman sinis mulai terlukis di wajah Suzy, ia hempaskan kasar kedua tangan Jiyeon yang memegang jemarinya.

“ Jika kau manusia kau tak seharusnya melakukan itu, karena kau tahu Myungsoo adalah suamiku “

Suzy tengah menangis memeluk sebuah foto. Televisi yang ada dihadapannya menyala, menayangkan sejumlah gambar anak laki-laki dan anak perempuan yang berusia 5 tahun sedang asik bermain.

Ia teringat oleh putranya yang bahkan belum di beri nama. Air matanya tak ingin berhenti terjatuh membuat dadanya semakin sesak.

Dari balik arah Myungsoo menatapnya dengan penuh penyesalan. Ia tahu rasa sakit yang kini singgah di hati Suzy karena itu sama sakitnya dengan perasaannya.

Apa yang bisa Myungsoo lakukan ? Hanyalah diam memandangi tak bergerak sedikitpun.

Tangisan Suzy semakin mengarah pada puncaknya. Tanpa sadar sebingkai foto ditangannya itu terjatuh. Suara pecahan kaca bingkai foto itupun ikut menghiasi tangisan kelu yang Suzy ciptakan.

“ Suzy-ah “

Suzy mendongakkan wajahnya yang terbalut cairan bening mengalir tanpa batas. Ia hampiri orang yang memanggil namanya. Menatap kejam Myungsoo.

“ Jangan menangis “

“ Jangan menangis kau bilang ? Semudah itu kah kau mengatakannya ? Tak tahu kah kau betapa lelahnya aku menahan air mata ini ? “

“ Maafkan aku “

“ HANYA ITU KAH ? Kau rela duduk di kursi roda bodoh ini demi untuk menyelamatkan wanita itu dari pada menyelamatkan putramu sendiri ? Huh ? “

Tubuh Suzy terjatuh ke lantai, tangannya terhempas di kedua kaki Myungsoo. Wajahnya jatuh kebawah, peluh merambat masuk membasahi kening Suzy. Jemarinya gemetar meremas lutut Myungsoo. Tangisannya hilang akal, tak tahu bahwa Suzy lelah menangis seperti itu.

Bibir Myungsoo terkunci kepedihan. Matanya bercahaya rasa bersalah tak tersembuhkan. Jemarinya membelai lembut rambut coklat Suzy kemudian menciumnya. Tangan kekarnya ia kalungkan pada pundak Suzy, tapi sedetik kemudian Suzy menepisnya.

Marah ? Tidak, Suzy hanya tidak ingin walau sejujurnya ia butuh ditenangkan dengan pelukan Myungsoo itu. Biarkan saja mereka seperti ini, mereka hanya menunggu waktu untuk menantikan jawaban atas semua masalah yang tumbuh.

Myungsoo membiarkan makan siangnya kesepian, tak sedikitpun ia menyentuhnya. Ia memperhatikan istrinya yang memakan makanannya tanpa ampun. Saat itu juga seseorang telah mengetuk pintu rumah mereka. Suzy membanting sumpitnya merasa kesal karena telah diganggu dari makan siangnya.

Ia membuka pintu, seketika ekpresinya berubah. Dengan cepat ia ingin menutup pintu rumahnya tapi tertahan. Seseorang di balik pintu itu meringis kesakitan karena tangannya sempat terjepit.

“ Kita harus bicara “

Wanita itu Jiyeon, ia mengambil pergelangan tangan Suzy dan membawa Suzy keluar. Setelah dua langkah Suzy melempar kasar tangan Jiyeon. Menghela nafas sebentar dan dengan indahnya tersenyum licik.

“ Bicara disini saja “

“ Kau tidak bisa seperti ini terus “

“ Siapa yang akan peduli ? “

Jiyeon diam mencoba menenangkan dirinya atas sikap Suzy yang sudah benar-benar terpasung oleh ketidaknyataan.

“ Aku dan Myungsoo tak… “

“ Kau dan Myungsoo itu sama saja. Kalian adalah manusia terburuk yang pernah kukenal “

“ Bae Suzy kau boleh menilaiku seperti itu tapi kau salah besar jika berpendapat bahwa Myungsoo adalah seperti yang kau fikirkan “

“ KENAPA KALIAN TAK MATI SAJA HUH ? “

Nada suara Suzy meninggi di batas normal bahkan Myungsoo yang didalam sana masih mampu menangkap getaran di setiap kata yang dilontarkan Suzy. Myungsoo menitikkan sedikit air matanya. Ia sedih karena Suzy berkata seperti itu. Suzy ingin dirinya mati, apakah itu benar yang diinginkan gadis terkasihnya ? Apakah Suzy sangat membenci dirinya ?

Keesokan harinya Suzy tampak berbeda tidak seperti di hari-hari biasanya yang selalu bersikap acuh pada Myungsoo. Dia tampak sedikit lebih lembut terhadap Myungsoo. Menyiapkan sarapan untuk Myungsoo, mencandai Myungsoo dengan leluconnya bahkan sampai membawa Myungsoo berjalan-jalan.

Bisa di bilang itu adalah hari terindah bagi Myungsoo yang memang sudah sangat lama merindukan Suzy yang lembut.

Suzy berlutut merapikan rambut Myungsoo, ia tersenyum manis sambil melihat Myungsoo yang juga menyunggingkan sedikit garis dibibirnya. Tangannya kemudian beralih menyentuh jemari Myungsoo yang kedinginan.

“ Kita berpisah saja “

Kalimat Suzy itu membuat Myungsoo amat sangat terkejut. Garis senyum dibibirnya itu menghilang digantikan oleh raut wajah sedih yang khawatir. Jari-jari tangannya yang tadi hangat karena genggaman Suzy kini berubah kaku membeku.

Suzy menggerakkan kakinya untuk berdiri. Ia mengelus rambut Myungsoo lagi, mendekatkan wajahnya pada rambut Myungsoo dan memberikan sebuah ciuman yang mungkin bisa dikatakan bahwa itu adalah ciuman perpisahan.

“ Maafkan aku, tapi sudah hampir setahun pernikahan kita dan aku masih belum bisa untuk mempercayaimu. Pergilah bersama gadis yang bisa mengerti perasanmu lebih dari diriku “

Untuk yang terakhir kalinya Suzy mendorong kursi roda Myungsoo dan mengantarkannya pulang.

Otak Myungsoo mati, dadanya sesak, bibirnya bergetar kelu membuat kepulan asap dingin keluar dari helaan nafasnya. Myungsoo benar-benar tak berdaya karena disaat terakhir seperti ini ia tak sanggup melontarkan satu katapun dari bibirnya, ia tak punya kekuatan untuk menahan Suzy dan memperbaiki semuanya..

Suzy masih berbaring di tempat tidurnya padahal waktu sudah menulis angka 10 pagi. Ia terus memandangi sisa tempat tidurnya yang dulu ada seseorang yang menempatinya. 3 minggu sudah ia beraktivitas seorang diri. Suzy, ia tahu bahwa ia sangat menyesal.

Sendirian di ruangan ini tak seperti biasanya. Cerita yang Suzy buat dengan Myungsoo menjadi sia-sia, Hubungan mereka hancur dengan mudahnya Hanya satu kesalahan yang mendapatkan sebuah penyesalan. Walau Myungsoo mencoba mengatakannya, luka yang membalut hati Suzy takkan sembuh dengan mudah.

Waktu yang Suzy lalui sendiri terasa begitu lambat tanpa Myungsoo. Suzy sadar bahwa ini hukuman yang terasa berat baginya. Terakhir kali ia mengucapkan kata itu, dan sampai sekarang masih terngiang membuat hatinya semakin sakit bila mengingat.

Meski aku egois itu karena aku mencintaimu !! Batin Suzy.

_

_

Suzy menyisir rambutnya. Memakai jaket coklat hijaunya dengan rapi kemudian dengan gesit meninggalkan rumahnya sendiri. Ia tiba di sebuah rumah, ya rumah Myungsoo, Dia rindu dengan pria itu.

Seseorang wanita  kira-kira dengan usia 31 tahun membukakan pintu untuk Suzy. Matanya memandang Suzy heran kemudian tersenyum. Suzy membungkukkan badannya lalu bertanya dimana Myungsoo.

“ Myungsoo tidak ada. Dia berada di luar negeri sekarang sejak 2 minggu yang lalu “

“ Dia sendiri ? “

“ Tidak, dia bersama Jiyeon “

Kedua pernyataan itu semakin membuat Suzy menyesal melepaskan Myungsoo. Ia sangat merindukan Myungsoo, ia lepas ketakutannya untuk bertemu dengan Myungsoo hanya sekedar untuk bisa melihat wajah Myungsoo. Tapi ia terlambat, Myungsoo sekarang berada sangat jauh darinya.

Suzy meneteskan air matanya perlahan. Jika Suzy bisa melintasi waktu dan angkasa, Suzy ingin menjumpai Myungsoo. Jika saja Suzy tidak memutuskan sesuatu secara sepihak mungkin ia takkan menyesal seperti sekarang.

Suzy berharap bisa menemukan mesin waktu, agar dia bisa bertemu dengan Myungsoo kembali. Suzy tak meminta apapun, sebelum semuanya terlupakan dan hanya menjadi sekilas memory tak terpandang, ia hanya ingin dapat melihat senyum Myungsoo.

***

“ Kau akan pulang besok ? “

Seorang pria mengedarkan pandangannya ke arah orang yang memakai jas putih dan kacamata. Pria itu mengangguk kemudian meluruskan lagi pandangannya.

“ Aku merindukan seseorang disana “

Pria itu memejamkan matanya, mengepalkan tangannya dan menaruhnya di dadanya.

Bagaimana kabarmu ?

Sebuah toko pakaian anak kecil kini berdiri di pusat kota Daegu. Sebuah bangunan yang cukup sukses karena produk yang mendukung berkualitas baik tanpa menyinggahkan alasan mengeluh karena penetapan atas harga. Toko itu di pegang oleh seorang wanita berusia 28 tahun yang bernama Bae Suzy.

Tak jarang Suzy memberi diskon yang besar untuk para tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tokonya. Ia tak peduli jika ia akan rugi nantinya, ia hanya ingin banyak anak-anak yang menyukai pakaian di tokonya.

Seorang anak laki-laki datang menghampiri Suzy yang sedang sibuk melayani pelanggan lain. Anak laki-laki itu memegang sehelai kaos berwarna oranye yang lucu.

Suzy merendahkan tubuhnya setara dengan anak laki-laki itu.

“ Kau suka dengan baju ini ? “

Anak kecil itu dengan semangat mengangguk bahagia.

“ Kau bisa memilikinya, karena ini adalah hadiah untukmu “

“ Benarkah ? Terima kasih nunna “

Anak kecil itu kemudian mengecup pipi lembut Suzy membuat Suzy tersenyum geli bukan karena ciumannya tapi karena panggilan kakak yang ditujukkan padanya.

“ Siapa namamu ? “

“ Heungsoo-ah “

Panggilan itu membuat anak kecil yang bersama Suzy menoleh kebelakang. Ia berlari kearah wanita yang memanggil namanya.

“ Eomma “

Suzy mendongakkan kepalanya sembari berdiri.Ia terkejut melihat dua orang yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Kedua orang itu menghampiri Suzy tapi Suzy malah memundurkan satu langkah kakinya.

“ Suzy-ah “

Suzy tahu betul suara itu. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. – Myungsoo – dia yang menyebut nama Suzy tadi. Ia yang berdiri di hadapan Suzy bersama dengan Jiyeon disamping kirinya. Ia yang 5 tahun menghilang dari hadapan Suzy dan kini kembali terlihat oleh bola mata Suzy.

Myungsoo tak lagi berdiri bersama kursi roda yang sangat setia membantunya kemanapun. Myungsoo berdiri dengan kedua kakinya yang sudah mampu menopang tubuhnya. Butuh 5 tahun bagi Myungsoo untuk dapat berjalan seperti sejak pertama kali ia bsa berjalan, meski saat ini kedua kakinya belum sepenuhnya sembuh total.

Dalam hati hasrat Suzy ingin memeluk Myungsoo, tapi ia tak bisa. Jiyeon mendekati dirinya kemudian menenggelamkan tubuh Suzy pada pelukan Jiyeon.

“ Aku ingin kau mendengar sebuah kenyataan “

“ Tak perlu “

“ Dengarkan dulu… Jangan pernah berfikir bahwa Heungsoo adalah anak Myungsoo. Aku dan dia tak ada hubungan apa-pun. Kau adalah adikku, tak mungkin jika aku mengkhianatimu. Kejadian itu aku benar-benar minta maaf karena saat itu aku dan Myungsoo sedang hilang kesadaran. Tapi kau harus tahu bahwa Heungsoo bukanlah putra Myungsoo… Maafkan aku, telah memisahkanmu pada putramu “

Suzy menatap Myungsoo yang masih berada di hadapannya sambil mendekap Heungsoo dengan tangan kirinya. Jiyeon melepaskan pelukannya. Kemudian digantikan oleh Myungsoo yang mulai mendekati Suzy.

“ Aku merindukanmu. Kau percaya padaku ? “

***

“ YAA KIM MYUNGSOO “

Suzy berteriak sambil mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Ia tertinggal jauh oleh Myungsoo yang memang sengaja mengayuh lebih cepat agar Suzy tak bisa menggapainya.

Karena terlalu bersemangat mengayuh, Suzy sampai tidak memperhatikan jalan yang ia lalui. Ban sepedanya menabrak batu yang cukup besar membuat Suzy terjatuh dari sepedanya.

Myungsoo yang menyadari tak ada lagi teriakan-teriakan Suzy, mengerem sepedanya mendadak. Ia balikkan tubuhnya. Panik, ia panik melihat Suzy terjatuh dari sepeda dan tak sadarkan diri. Myungsoo segera menjatuhkan sepedanya dan berlari menghampiri Suzy.

“ Suzy-ah… Suzy-ah… Buka matamu.. Bae Suzy “

Myungsoo terus berteriak histeris menggoyang-goyangkan bahu Suzy. Ia tampak khawatir terlebih Suzy tak merespon panggilannya.

_

_

Tiba-tiba Suzy membuka matanya dan tertawa lepas. Ia memasang muka ejekan dan melemparkannya pada Myungsoo. Myungsoo yang merasa kesal karena berhasil di tipu oleh Suzy, merangkul leher Suzy kemudian memeluknya dari belekang. Mereka tertawa bersama.

 

FIN

Halo apa kabar readers ? Auhtor mau kasih FF penghibur aja nih buat kalian.. Author bingung mau gimanain end-nya, jadi maafin ya kalau kurang ng’feel… Terserah deh kalian mau coment atau nggak Author gak maksa kok, kalian udah mau baca aja Auhtor udah terima kasih…
Dan satu lagi Author benar-benar berharap kalau Myungzy itu real ^^

Iklan

FF Ficlet [Myungzy Couple] | Only Tears

coverff-Only Tearskjm

Title          : Only Tears

Author      : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast          

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre        : Sad

Lenght       : Ficlet

Rating        : T

Semoga suka…. 🙂

Aku melihatmu duduk di atas gedung sekolah, menenggelamkan wajahmu diantara kedua tanganmu yang bersandar pada lututmu. Menikmati setiap sentuhan air hujan yang meringkuk masuk membasahi tubuhmu dan tak peduli jika akan datang angin kencang nantinya yang mungkin akan memakanmu dalam dingin hempasannya.

Kau menangis, setidaknya itu yang ku ketahui dari isakan tangismu yang cukup jelas tertangkap oleh telingaku.

Kenapa ? Kenapa kau menangis ?

Apa yang membuatmu menangis ?

Aku menghampirimu, duduk disamping tubuhmu dan ikut merasakan kerasnya hantaman air langit yang terjatuh, hujan… sebuah anugerah dari Tuhan yang sangat aku cintai. Aku bertanya padamu dalam hening tapi kau hanya diam dalam selimut tangismu.

Tampaknya hujan tak lagi menemanimu namun kau tetap pada posisimu yang kali ini air matamu juga ikut berhenti mengalir. Tak lama kau bangun dari dudukmu, pergi meninggalkanku dan mengacuhkanku yang masih disampingmu.

Haruskah kau seperti ini Bae Suzy ?

∞            

 

 

Hari ini langit tersenyum cerah untukku, tapi kau… kau masih asik bersahabat dengan kesedihan. Kau duduk mematung di kursimu dan tak jarang menyembunyikan wajahmu.

Sepertinya kau tampak bosan dengan pelajaran Kang Songsaengnim hingga kau berkali-kali menutup wajahmu dengan buku. Tapi tunggu… tidak.. kau tidak bosan, kau sedang memikirkan sesuatu yang selalu saja mengiris tipis-tipis batinmu. Kau benar-benar kehilangan ragamu sampai-sampai tak mendengar desahan-desahan keras Kang Songsaengnim yang memanggilmu.

Akhirnya setelah beberapa kali mencoba memanggilmu, kau tersadar dari lamunanmu. Kang songsaengnim menyuruhmu keluar untuk mencuci muka tapi kau dengan acuh tak menuruti perintahnya, kau mengambil ransel putihmu kemudian melangkah keluar kelas.

Woohyun melakukan hal yang sama denganmu, ia berlari kecil menghampirimu agar bisa sejajar dengan langkahmu. Aku menatap kalian di pintu kelas. Suasana terkesan canggung tapi kau tak marah ketika Woohyun mengalungkan tangannya di bahu kecil milikmu.

Apa yang kau lakukan Suzy-ah ? Apa kau tak memikirkan perasaan kekasihmu yang melihatmu dengan santai di peluk pria lain ?

Kau tak peduli dengan kekasihmu yang berdiri terluka di depan pintu kelas ? Kenapa kau melakukan ini ?

Tak lama Woohyun melangkah menjauhimu hingga tak terlihat lagi oleh pandanganku yang masih memperhatikanmu. Ku lihat kau sedang duduk di kantin sekolah kita. Raut wajah murungmu membuat hatiku semakin terluka. Perih rasanya harus menyaksikan pertunjukkan ini.

Aku ingin memelukmu dalam dekapan yang lembut dan hangat, tapi aku tak bisa.

Kenapa ? Aku hanya ingin memelukmu.. Tak adakah kesempatan untukku melakukannya ?

Aku mencoba melangkahkan kakiku menghampirimu, namun terhenti dalam dua langkah kecil karena Woohyun sudah lebih dulu mengambil tempat di sebelahmu.

Woohyun mengatakan sesuatu padamu, entah apa kalimatnya aku tak bisa mendengarnya. Wajahmu tiba-tiba saja melukis kesenduan kalbu setelah mendengar ucapan Woohyun yang tampaknya sungguh sangat serius.

Dalam beberapa detik kau menangis, ya menangis lagi. Begitu mudahkah kau menangis ? Kau bahkan belum ada 24 jam setelah kemarin menangis ria di bawah hujan.

Woohyun menarik tubuhmu dalam pelukannya dan kau sama sekali tak menolaknya. Ku lihat ia mengelus lembut rambut panjangmu seperti yang dulu kulakukan kepadamu dan hanya sekali kulakukan.

Ini menyakitkan.. Kau menangis dalam pelukan Woohyun dan bukan padaku. Kenapa kau seperti ini Suzy-ah ? Apa yang telah ku lakukan padamu hingga kau selalu memberi tangis kehancuran untukku ?

Kau beranjak pergi bersama Woohyun dengan mobil AUDY miliknya dan aku mengikuti kalian di belakang. Kau dan Woohyun berhenti di suatu tempat, ya tempat dimana seseorang dapat mengirimkan seuntai doa untuk orang yang telah tiada.

Kau berhenti di depan meja salah satu orang yang telah meninggal dan meletakkan sebuket bunga kecil. Disana terletak dengan rapi sebuah frame foto dengan nama di bawahnya…. KIM MYUNG SOO….

 —- Kenapa kau meninggalkanku secepat ini Myungsoo-ah ? Apa kau tidak mencintaiku ? Kau seharusnya bertahan hidup jika kau mencintaiku….. —-

Lirihan itu… Lirihan yang keluar dari bibir manismu membuat tubuhku lemas seketika dalam penyesalan. Menyadarkanku dengan kejadian 4 hari lalu yang menimpaku saat ingin membeli hadiah ulang tahun untukmu.

Maafkan aku tak bisa bertahan melawan kecelakaan itu..

Maafkan aku harus membuatmu terus menangis…

Aku mencintaimu.. Dan akan terus mencintaimu hingga aku tak dapat lagi merasakan hal yang disebut cinta itu.

 

END

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Remember Love For Me

Cover-ff-remember-loveforme

Title        : Remember Love For Me

Author    : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Other cast

– Lee Byung Hun (L.Joe)

Genre        : Sad, Drama

Lenght       : Oneshoot

Rating        : T      

Author Note           : Insiprasi FF ini Dari MV Kim Sunggyu – 60s. FF dan ide cerita FF ini murni milik Author, dan cast Kim Myungsoo aka L hanya milik Author seorang, bukan milik WoolimEnt, Inspirit, Elements, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

 

–Happy Reading–

Butuh kekuatan super bagiku meninggalkanmu, mungkin juga aku butuh ilmu sihir untuk terus mencintaimu. Semua takkan mudah bagiku. Hanya memberikan alasanpun aku tak sanggup melakukannya. Hatiku terluka, sangat terluka lebih dari yang kau fikirkan.

Sekarang, dan untuk selamanya aku duduk di cafe ini seorang diri. Takkan ada lagi seorang pria tampan bermata elang dan senyuman kematiannya yang akan duduk tepat di hadapanku. Memberikan candaan yang selalu berhasil membuatku tersenyum.

Aku Bae Suzy seorang gadis yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati Kim Myungsoo, pria dingin dengan tatapan pembunuhnya kini dengan bodohnya melepaskan Kim Myungsoo tanpa sebuah alasan.

Aku berjalan menapaki daun-daun kering yang menjatuhkan diri mereka dari pohon. Bertemankan angin malam yang membeku aku berdiri di pinggir jalan menatap sekeliling orang yang berlalu-lalang di hadapanku menginjakkan kaki mereka di zebra cross.

Seseorang di seberang sana berdiri kaku dengan tatapan kesedihannya. Tak berhenti menatapku dengan kehancuran yang ku lukis di hatinya. Membuang semua cinta yang tumbuh dengan indah dan dengan mudahnya kuhancurkan dengan satu kata.

Maafkan aku !!

Mungkin aku egois, menghancurkan secara sepihak tanpa memikirkan perasaanmu. Tapi aku lebih bahagia kau menikah dengannya, dengan seseorang yang membutuhkan cintamu lebih dari diriku.

∞            

 “ Kau baik-baik saja ? “

Seseorang bertanya padaku. Dia adalah Lee Byunghun. Sahabat baikku sekaligus saudara tiriku karena Ayahku menikah dengan Ibunya. Sahabat yang selalu menemaniku sejak sebelum ia menjadi keluargaku.

“ Tentu saja “ jawabku tersenyum sekaligus berbohong mencoba untuk terlihat bahagia didepannya mengganggap seolah-olah tak terjadi apapun.

“ Kau akan datang ? “

Aku mengangguk, tentu saja aku akan datang di hari pernikahan orang yang kucintai. Itu sangat mudah untuk kulakukan lebih mudah dari pada berjanji selalu mencintainya.

 “ Bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman ? “ ajak Byunghun.

Mungkin aku bisa menerima tawarannya sekaligus melepas kegundahan yang sejak kemarin menyelimuti otakku. Aku dan Byunghun pergi ketaman untuk sekedar bermain-main.

“ Tunggu disini jangan kemana-mana “ ujar Byunghun.           

Dia meninggalkanku sendiri, entah dia akan kemana yang jelas aku hanya bisa mengikuti nasihatnya untuk menunggu disini sampai dia datang. Aku menatap punggung Byunghun yang sudah semakin menjauh, menyandarkan tubuhku yang cukup lelah.

Tak lama Byunghun datang dan memyodorkan ice cream coklat kepadaku. Aku pun tanpa berfikir lagi langsung mengambil ice cream coklat itu. Menyeruputnya sedikit demi sedikit.

“ Euumm sangat lezat “ ucapku yang masih memakan ice cream.

Aku dan Byunghun menikmati ice cream masing-masing dan tak jarang kami saling bertukar santap, Byunghun bahkan berkali-kali menyuapi ku dengan ice cream cappucinonya. Ya begitulah kami bersikap layaknya pasangan kekasih bahkan itu sudah sejak kami berumur 7 tahun.

Bisa di bilang kami adalah sahabat sejati yang akhirnya di persatukan oleh ikatan persaudaraan. Aku sungguh beruntung bisa memiliknya, sahabat yang akan selalu memberikan semua semangatnya untukku. Jika muncul pertanyaan siapa yang lebih tua dari kami ? sudah jelas Byunghun akan menjawabnya dengan antusias bahwa dia satu tahun lebih tua dariku..

Kini langit sudah mengecat dirinya berwarna oranye, sangat indah. Aku dan Byunghun bergegas untuk pulang. Saat kami melawati sebuah cafe klasik yang terletak tak jauh dari taman, aku tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat aku kenal dari luar cafe.

Jung Eunji gadis yang akan menjadi pasangan hidup Myungsoo kini tengah duduk dihadapan Myungsoo. Mereka bercanda ria Myungsoo bahkan terlihat selalu tersenyum menikmati kebersamaan mereka berdua.

Apa Myungsoo bahagia ?

Dia bahagia bersama Eunji ?

Jika benar, itu akan menjadi kabar baik dan buruk untukku. Aku mencoba untuk tak menangis, aku sudah bisa mengontrol diriku untuk takkan pernah menangis dengan semua tindakan yang kupilih.

 Tanpa sadar Byunghun menolehkan wajahku yang masih asik memperhatikan Eunji dan Myungsoo. Aku menatap Byunghun dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

“ Jangan dilihat “ ucap Byunghun.

Aku menundukkan kepalaku mungkin Byunghun benar, aku tak perlu terus memperhatikan mereka. Aku tak ada hubungan lagi dengan mereka. Dan tak terduga olehku saat aku ingin kembali melihat mereka, Myungsoo kini berada tepat disampingku. Dia hanya menatapku tanpa lagi memberikan senyuman kepadaku seperti saat aku dan dirinya masih bersama.

Dan saat ini aku benar-benar tak bisa mengurung cairan bening itu terus bersandar di mataku. Aku menumpahkan semuanya, membiarkan mereka keluar dengan riangnya.

Jari-jari Myungsoo dengan lembutnya menyentuh wajahku, menghapus air yang bercucuran di pipiku. Tak ada senyuman sedikitpun darinya membuatku semakin ingin menangis.

Aku menghempaskan tangannya yang masih mencoba menghapus air mataku. Kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan Byunghun yang masih terdiam kaku.

∞            

Duduk di kasur tempat tidurku saat malam hari sembari memainkan ponsel mungkin adalah kegiatan baru untukku. Aku memang belum bisa melupakan Myungsoo bahkan aku masih menaruh rapi frame foto kami berdua di meja tempat tidurku.

Ku letakkan ponselku dia atas tempat tidur meninggalkannya sendiri sedangkan aku pergi ke kamar Byunghun untuk sekedar mengobrol dengan dirinya.

_

_

Aku kembali ke kamarku untuk istirahat tapi sebelum itu aku sempat mengecek ponselku dan ada sebuah pesan baru dari Myungsoo.

–Temui aku di laut sekarang !!–

Untuk apa dia ingin bertemu dengan ku ? Entahlah apa yang difikirkannya saat ini. Selang beberapa detik ponselku bergetar sebuah pesan baru lagi dari Myungsoo.

–Aku akan tetap disini sampai kau datang.–

Oh Tuhan.. pesan pertamanya itu sudah satu jam yang lalu dan kini dia masih menungguku. Segera ku kenakan jaket putih yang ku gantung di lemari pakaianku. Berlari secepat mungkin agar Myungsoo tak terlalu lama menunggu. Langkah ku terhenti di pinggir jalan memastikan tak ada kendaraan yang melintas agar aku bisa menyeberangi jalan dengan selamat.

Ku lihat seseorang sedang duduk di tengah tarian ombak laut di malam hari. Dia pasti Myungsoo, aku melangkahkan kaki menghampirinya duduk tepat disampingnya.

Hening

_

Myungsoo tetap diam begitupun dengan diriku. Apa yang harus aku katakan, melihat wajahnya saja aku tak mempunyai keberanian. Sungguh ironis memang, semua tindakan yang ku pilih mampu merubah kepribadian Myungsoo yang selalu ceria menampakkan senyuman indahnya namun sekarang hanya ada ekpsresi datar dan dingin yang terlihat.

“ Kau baik ? Kau tidur dengan baik akhir-akhir ini ? “ tanyanya memecah keheningan.

“ Eumm “ aku mengangguk pelan dengan sedikit senyuman “ Kau baik ? “ lanjutku bertanya padanya.

“ Tidak sebaik yang kau harapkan “

Mendengar jawabannya kini aku mengerti. Aku mngerti perasaannya sama dengan yang saat ini aku alami. Haruskah aku menyakitinya seperti ini ? Jangan katakan apapun karena aku takkan sanggup mendengarnya.

“ Aku ingin merayakan perpisahan kita disini “ ujar Myungsoo membuatku terkejut.

“ Myungsoo-ah “

“ Yaa Bae Suzy… bukankah ini yang kau mau ? Berpisah dengan ku itu kan yang kau mau ? Aku akan mengabulkannya, mari kita mengakhirinya disini “

Suaranya sendu namun sangat tegas. Benar, memang benar aku yang menginginkan hubungan ini berakhir. Bukankah ini sangat bagus sesuai rencanaku. Tapi aku benar-benar tak bisa berbohong lagi, aku benar-benar… Tak bisa, tak bisa di jelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum.

Aku menatapnya dan kulihat pergelangan tangannya. Gelang itu ? Myungsoo masih mengenakannya. Ini buruk sangat buruk.

“ Tentu saja “ balasku

Myungsoo mendongakkan kepalanya ke arahku. Tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan mata elang yang kini tengah melihatku, bukan juga bibir manis dari Kim Myungsoo yang kini tengah tersenyum untukku. Semuanya.. semuanya tatapan dan senyuman kebencian.

∞            

Akhirnya hari ini tiba, hari dimana aku tak bisa mnegharapkan Kim Myungsoo untuk selamanya. Hari yang akan mengubah hidupku mulai detik ini. Aku mengenakan dress putih selutut berlengan pendek, gaun yang sangat manis. Sengaja aku tak memakai higheels karena aku lebih nyaman mengenakan sepatu sport berwarna putih kesayanganku.

Byunghun dengan senang hati mengantarkanku ke pernikahan Kim Myungsoo dan Jung Eunji.

Pernikahan ?

Kim Myungsoo dan Jung Eunji.

_

_

Aku memasuki altar tempat pernikahan Myungsoo dan Eunji. Semua orang sudah berkumpul disana, duduk diposisi mereka masing-masing dan aku ikut mengambil bagian dan duduk di kursi yang masih kosong tepat di belakang mereka menyaksikan dimulainya acara pengikatan dua insan.

Kim Myungsoo terlihat sangat tampan dengan jas pengantinnya, benar-benar elegan dan menambah nilai plus akan ketampanannya. Jung Eunji pun tak kalah gaun pengantinnya memperlihatkan kecantikan yang lebih darinya, sangat serasi dengan ketampanan Kim Myungsoo. Dengan lembut langkahnya berjalan menghampiri Myungsoo yang mungkin sudah menunggu dirinya.

Acara pengikatanpun telah tiba. Haruskah aku berada disini menyaksikan Kim Myungsoo orang yang masih aku cintai bertukar cincin dengan seorang gadis yang aku putuskan akan menjadi pasangan hidupnya.

Tidak… aku rasa aku tidak akan melakukan itu. Aku terlalu sakit, ya sangat sakit karena tindakan bodohku. Aku beranjak dari posisiku melangkahkan kaki dari altar pernikahan. Terus berjalan mengikuti langkahku yang tak tentu arah.

Akhirnya aku memutuskan pergi ke taman, mungkin disana aku bisa lebih tenang.

_

Dan aku salah bukan tenang yang aku dapatkan tapi sakit yang teramat terus saja menghajar batinku.

Menangis.. hanya itu yang bisa ku lakukan. Menangis dalam kehancuran yang kuciptakan sendiri, menyesal dalam kepahitan yang ku taburkan di hatiku dan Myungsoo.

Air mataku tak henti-hentinya bermain di wajahku. Aku mencintai Myungsoo, sangat mencintainya dan aku benar-benar menyesal melepaskannya pergi.

_

Dan sebuah tangan kini sedang membasuh wajahku dengan lembut. Ia berlutut dihadapanku dengan senyuman yang selama ini aku rindukan.

“ Myungsoo “ lirihku.

Tapi kenapa Myungsoo bisa ada disini bukankah dia seharusnya sekarang sedang memasangkan cincin ke jari manis Eunji. Apa yang ia lakukan ? apa ia sudah gila ?

Dia mengahapus air mataku dan aku menggeleng-gelengkan kepalaku lemah sembari menjauhkan tangannya dari wajahku.

“ Ya aku sudah gila. Aku bodoh karena menuruti permintaanmu yang jelas-jelas kau tak tulus menginginkannya “ ujar Myungsoo seakan ia tahu isi hatiku.

“ Aku takkan menikah dengan siapapun karena aku hanya mencintaimu “ sambungnya.

Senyuman itu, senyuman asli dari Kim Myungsoo. Nyatakah ini semua, aku sedang tak bermimpi kan ?

Lagi, cairan bening mengalir dari mataku, aku menatapnya, dia masih sama hanya memberikan senyuman mematikannya.

Myungsoo menyelimuti tubuhku dengan pelukannya, erat namun lembut. Pelukan yang kurindukan kehangatannnya. Pelukan yang memberikan kesejukan dihatiku.

“ Berjanjilah akan tetap saling mencintai dan berhenti ketika kita benar-benar tak bisa melakukannya lagi “

END

 

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Because I Want To Know Your Heart

Coverff-becauseiwant-toknowyour-heart

Title           : Because I Want To Know Your Heart 

Author       : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre         : Sad, Hurt, Fluff

Lenght        : Oneshoot

Rating         : G

Author Note           : Ide cerita murni dari otak Author tapi sedikit terinspirasi dengan salah satu FF Kpopers. Cast Kim Myungsoo aka L juga milik Author, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

— Aku Mencintaimu —

Dua kata yang diberikan Myungsoo untukku saat salju mulai mengurung kota Seoul. Tapi sepertinya itu hanya permainan canda belaka seorang Kim Myungsoo.

Ia tak benar-benar serius mengatakan itu karena ia sama sekali tak memberikan perhatiannya padaku. Myungsoo bahkan saat ini sedang mencoba mendekati seorang gadis yang ia akui, ia menyukainya. Dan itu sudah jelas menjelaskan bahwa Myungsoo hanya bercanda dan kata itu bukan menunjuk ke arah dua insan melainkan hanya ungkapan rasa sayang kepada seorang teman.

Tapi sejak hari dia mengucapkan kata itu, takkan ada satu siswa pun yang mendapati aku dan Myungsoo bersama. Ya, sejak saat itu Myungsoo memisahkan dirinya dariku, kami tak pernah bermain bersama lagi bahkan untuk sekedar pulang bersama Myungsoo tak mau melakukannya lagi.

Ku lihat Myungsoo sedang membaca sebuah buku di kelas, pekerjaannya saat jam istirahat. Aku menghampirinya duduk miring di kursi depan mejanya. Pandangannya tak berpaling dari bukunya, tak menghiraukanku seperti aku tak terlihat olehnya.

“ Myungsoo-ah “

“ Eummm “

Dia hanya berdehem kecil, ada apa dengannya ? Hanya untuk menjawab panggilanku dia tak juga mau.

“ Kau tak pulang bersamaku lagi hari ini ? “

“ Maafkan aku, tapi aku akan pergi dengan Jiyeon “

Myungsoo menutup bukunya menatapku sedetik dengan sedikit senyuman kematiannya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku.

Lagi, untuk yang ke 27 kalinya ia beralasan membuat janji dengan Jiyeon agar bisa menghindar untuk tak pulang bersamaku. Ini sudah hampir satu bulan kami tak pernah bersama karena semua alasan-alasan yang sama dari Myungsoo.

Begitu besarkah cinta Myungsoo pada Jiyeon hingga bisa melupakan ku sebagai temannya.

Jujur saja aku mencintai Myungsoo, aku bahagia dia mengatakan itu padaku dan aku terluka karena dia menjauhiku. Aku kesapian berhari-hari tanpa dirinya. Menangis karena dia tak ingin lagi bersama ku untuk sekedar menjadi temanku.

Dia manis dan hangat tapi semua itu hanya dirinya yang dulu sebelum ia berubah menjadi dingin setelah melontarkan kalimat itu.

“ Myungsoo-ah “

Tak ada jawaban dari seseorang yang kupanggil itu. Sangat kejam.. Beginikah dia memperlakukanku setelah berhasil memecahkan hatiku. Orang yang selama ini aku kagumi, orang yang mengaku menyayangiku sebagai temannya, orang yang selalu ada sejak 2 tahun terakhir untukku, tapi kini orang itu sudah tiada. Tak ada lagi orang yang akan menatapku dengan tatapan pemubunuhnya atau tersenyum dengan senyuman mematikannya… Yang ada hanya seseorang yang tak pernah menganggapku ada karena seorang gadis yang baru saja ia kenal tak lebih dari 4 bulan.

Aku pergi menjauh darinya dengan kesedihan yang memuncak. Tak akan… Tak akan lagi aku memanggil namanya, berbicara padanya, tersenyum padanya, bahkan untuk sekedar menoleh kepadanya aku tak akan pernah mau lagi.

Untuk terakhir kalinya aku melihatnya sedang menatapku kosong dengan entah apa makna dibalik tatapan pengkhianatannya itu.

2 minggu setelahnya aku dan Myungsoo benar-benar seperti orang asing. Dia penulis naskahnya dan aku hanya mengikuti naskah yang ia buat. Bukankah seperti ini tampak baik untuknya, walau aku akui aku memang sangat-sangat terluka menjauhinya, kehilangan dirinya, dan tak pernah mendengar suara lembut miliknya.

Aku menapaki lorong sekolah menuju kelasku. Di ujung sana, tepat di depan pintu kelas sedang terdapat dua sosok tengah tertawa begitu indahnya. Aku ragu untuk terus melangkah ke depan, tapi tak ada kesempatan bagiku untuk melangkah mundur karena bebarapa guru sedang bearada di belakangku memarahi dan memberi hukuman kepada dua orang siswa yang telah melakukan kesalahan.

Berani ? Tentu saja, aku akan menganggap seolah-olah di depan sana tak ada siapapun hanya ada angin lewat yang mengganggu kulit lembutku. Saat sudah sampai pada puncaknya dan akan melangkahkan salah satu kakiku menginjak lantai kelas, tubuh pria yang bernama Kim Myungsoo itu menghalangi jaalanku.

Aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan amarah, berteriak padanya agar ia menyingkir dari hadapanku. Nihil… dia tuli atau pura-pura tak mendengarku ?

Aku benar-benar muak terperangkap di antara kedua insan ini yang telah berkali-kali melukai hatiku. Ku dorong dengan keras tubuh Myungsoo hingga punggungnya mencium daun pintu dengan keras yang bisa kau prediksi bahwa itu sangat sakit.

10 jam berlalu, jarum jam sudah menunjuk pukul 5 sore yang mengharuskan semua siswa harus meninggalkan sekolah. Aku mengabulkan permintaan itu dengan meninggalkan sekolah secepatnya.

“ Kau ingin pulang denganku ? “

Suara itu.. Suara lembut Myungsoo. Benarkah ini ? Dia mengajakku pulang bersamanya. Aku sangat senang, tak bisa terbayarkan betapa senangnya aku saat mendapati Myungsoo yang dulu.

“ A.. “

Aku tak sempat melanjutkan kalimatku setelah tak sengaja menangkap Jiyeon sedang berada di depan pintu kelas yang tampaknya sedang menunggu Myungsoo.

Apa Myungsoo mengajakku pulang bersamanya dan juga Jiyeon ? Semua kesenanganku kabur seketika setelah melintas beberapa fikiran-fikiran yang… enatahlah tak bisa di jelaskan.

“ Tak perlu, aku bisa pulang sendiri “ tukasku dengan nada sedikit meninggi.

Bukan rumah yang ku tuju setelah berhasil bebas dari gerbang sekolah, melainkan menginap beberapa jam di sebuah cafe kecil, cafe klasik yang tak terlalu besar namun masih tetap indah di pandang dengan mata normal. Memesan secangkir kopi dan sepotong kue kecil itu yang akan ku lakukan setelah berhasil mendapat tempat duduk dekat jendela.

2 jam sudah aku di cafe ini. Merasa bosan ? Tidak..Takkan ada seorangpun yang bosan jika berada di cafe ini bahkan meski hanya duduk berjam-jam lamanya tanpa membuka mulut sedetikpun. Aku mengusap wajahku menyandarkan tubuhku di kursi yang aku duduki, aku merasa enggan untuk pulang jadi aku bertahan sedikit lebih lama di cafe ini.

KLINGG….

Bunyi gemerling itu menandakan bahwa baru saja ada pelanggan yang datang memasuki cafe ini. Aku mengedarkan pandanganku yang semula menatap keluar jendela kini beralih melihat sosok pelanggan yang baru saja datang.

Tubuhku terkulai lemas di atas kursi setelah melihat sesuatu yang lagi-lagi mengikis permata ketabahanku di setiap detiknya.

Kim Myungsoo dan Park Jiyeon yang kini tengah duduk disalah satu meja tak jauh dari keberadaanku. Myungsoo mengambil makanan yang dipesannya, melayangkan makanan itu ke mulut mungil Jiyeon. Mengelap sisa makanan di bibir pink Jiyeon dengan ibu jarinya.

Aku rindu saat-saat itu, saat di mana aku dan Myungsoo makan bersama setelah pulang sekolah, saling bertukar sesuap makanan. Rindu saat Myungsoo memukul kepalaku, rindu saat Myungsoo tersenyum seperti yang ia berikan sekarang kepada gadis cantik dihadapannya.

Perih itu kembali menemani hatiku. Air mata yang bersorak ingin keluar tak mampu lagi terbelenggu. Aku berlari keluar cafe, terus berlari tanpa peduli kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang yang sewaktu-waktu akan menabrakku tanpa izin.

Aku terjatuh di pinggir jalan dengan air mata yang terus berjatuhan. Orang-orang sekitar yang melihatku hanya bisa memandang nanar keadaanku saat ini.

Menangis.. kenapa aku harus menangis ? Aku benci menangis seperti ini…

Kenapa aku harus lemah ? Kenapa aku terus-terusan terluka.

 Tak adakah satu kebahagian saja yang dengan senang hati mampir ke hatiku ?

Hangat… sebuah tangan mendekap tubuhku, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Kim Myungsoo kini sedang memelukku. Sekarang apa lagi ? permainan apa lagi yang akan di ciptakannya ?

Aku mendorong tubuhnya melepas pelukannya dengan kasar. Menatap dirinya dengan cairan bening yang tergerai lembut di wajahku. Dia menatapku dengan mata elangnya dan menghapus setiap tetes air mata dengan jemari tangannya.

“ Jangan menangis “ ujarnya lemah.

“ Pergilah, aku tak menyuruhmu berada di sini “

Sekali lagi dia memelukku. Pelukan dari Kim Myungsoo yang ku terima untuk pertama kalinya.

“ Maafkan aku membuatmu terluka terlalu lama tapi pada akhirnya aku mencintaimu “

Lagi Myungsoo mengucapkan kata itu lagi. Apakah kali ini sungguhan atau hanya sebuah lolucun baru lagi. Aku menghempaskan tubuhnya perlahan. Di wajah Myungsoo terlukis sketsa kabut kesedihan yang terkurung dalam penyesalan. Ku mohon jangan katakan padaku bahwa ini sebuah kepalsuan.

“ Tidak.. kau mencintai Jiyeon “

“ Kau salah. Waktu itu aku sungguh serius mengatakannya tapi kau tak meresponnya. Kau tak menerima atau menolaknya membuatku berfikir tak ada kesempatan untuk memilikimu… jadi aku mengujinya dengan cara seperti ini “

Isakan tangisku terhenti mendengar kalimat yang di lontarkannya. Myungsoo mencintaiku..

“ Permainan ini sudah berakhir dengan Aku Mencintaimu “

 Ku peluk tubuh Myungsoo dengan erat. Tak ingin melepaskannya walau hanya sedetik. Luka di hatiku dengan mudahnya terobati dengan pengakuan Myungsoo. Aku tak peduli dia membohongiku dan melukaiku selama ini yang aku pedulikan hanyalah mendapatkan kembali seorang Kim Myungsoo.

 Udara yang dingin dimalam hari menyelimuti pelukan kami yang di saksikan olah banyak orang yang melintas serta gelapnya langit kota Seoul yang tersenyum bahagia mewakili perasaanku.

END

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….