FF Droubble [Myungzy Couple] 60 Second

coverff-60detikver1

Title        : 60 Second             

Author    : Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre       : Fluff, Songfic

Lenght      : Droubble

Rating       : G

Sesekali melangkah dan berhenti. Memandang ke sekeliling kemudian mata kita bertemu. Aku lekas menolehkan kepala. Melihat ke kaki dan perlahan menengadahkan kepala kembali

Mata ini terbelalak. Mulut ku agak ternganga. Hati ku terngiang di telinga

Aku melihat mu datang lagi ke perpustakaan umum ini. Kau tampak manis dengan blezer abu-abu dan jeans biru tua milikmu. Aku mengikutimu ke meja peminjaman buku dan di sana dengan sengaja aku mengintip nama dirimu – Bae Suzy – Nama yang cantik seperti pemiliknya.

Kau berbalik membuatku terkejut karena hanya ada ruang sekitar 15 cm untuk membatasi jarak kita. Ritme jantungku bekerja dua kali lebih cepat dari batas normalnya. Pandanganku tak sedikitpun beralih dari wajahmu yang cantik.

Kisah ini berakhir dalam 60 detik

Kau telah mendatangi hati ini

Aku tak meragukannya 

Dan kau yang membawaku pergi

Waktu yang tak singkat

Sebuah kisah cukup untuk ku

Tak perlu alasan lagi

Kau membuat hati ku berdebar dan tertuju padamu waktu pertama itu

Seketika aku tersadar karena telah menghalangi jalanmu dan kau tersenyum padaku. Senyuman yang indah.

“ Kau menyukai gadis itu ? “

Dia Lee Hoya teman baik sekaligus penjaga perpustakaan ini bertanya padaku. Apa yang harus aku jawab, tentu saja.. Ya aku menyukai gadis itu. Seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta, aku juga sama seperti mereka, mempunyai rasa ingin memiliki gadis itu.

“ Kenapa kau tak mendekatinya ? “ tanya Hoya sembari mencatat judul buku yang akan ku pinjam.

“ Aah entahlah, aku terlalu takut untuk hal itu “

“ Jika kau terlalu takut mendekatinya, lalu kau akan terlalu apa jika kehilangannya ? “

Hoya benar Aku akan terlalu apa jika kehilangannya ? Ya aku akan terlalu sakit jika itu terjadi. Tapi aku sudah pernah mencobanya dan hasilnya seluruh syaraf yang ada di tubuhku mati seketika membuatku terlihat bodoh di hadapannya.

Hari ini seperti biasa aku menunggumu lagi di tempat yang sama. Dan aku benar kau pasti akan datang lagi. Saat kau asik membaca sebuah buku aku mencoba menghampirimu. Aku mulai duduk di hadapanmu. Menyapa sekedarnya dan kau akan selalu tersenyum manis.

“ Sepertinya kau suka sekali ke tempat ini ? “ tanyaku membuatmu mengalihkan pandangan yang semula tertuju pada tulisan-tulisan di buku yang kau pegang kini beralih menatapku dengan ramah.

“ Seperti yang kau lihat, tempat ini tenang, indah, dengan nuansa alam yang membuat kesejukan menghampiri tempat ini. Bukankah kau juga sama ? “

Lagi-lagi aku terlihat bodoh di depanmu karena sebuah pertanyaan yang jelas-jelas aku sudah tahu jawabannya.

 “ Kau Kim Myungsoo kan ? “

Dari mana kau bisa tahu namaku ? Apa kau melakukan hal yang sama sepertiku saat ingin mengetahui namamu ? Sepertinya tidak mungkin karena aku selalu di belakangmu saat ingin meminjam buku.

“ Kau tahu namaku ? “

“ Aah tidak, hanya seseorang telah memberitahuku “ ucapnya lanjut membaca buku.

Mungkinkah itu Hoya ? Tapi Hoya bukan orang seperti itu, dia hanya ingin mengobrol dengan orang yang di kenalnya saja jadi tidak mungkin jika ia mau memberitahu nama temannya kepada seseorang yang tak ia kenal.

Sebuah hal terindah bagiku karena hari ini aku bisa pulang bersama dirimu. Kenapa aku tak pernah tahu jika kau tinggal satu aparte dengan diriku.

“ Eumm tunggu sebentar Myungsoo-ssi “

Kau masuk ke sebuah toko, seperti toko perhiasan. Sekitar 15 menit aku menunggumu di bawah teriknya sinar matahari. Huh kenapa hari ini matahari bersinar terlalu kuat apa dia tidak tahu jika sinarnya itu membuatku selalu berkeringat.

Kau keluar dari toko itu dengan beberapa tas belanja. Sepertinya aku tak salah lihat, bukankah kau baru saja masuk ke toko perhiasan lalu kenapa kau keluar dengan banyak tas belanja.

“ Maaf membuatmu menunggu “

“ Itu…. “

“ Ah ini hanya barang belanjaanku yang ku titipkan di toko ini “

Tak bisa di ragukan lagi bahwa hatiku benar-benar terikat dalam dirimu. Ini seperti mimpi yang tak pernah tidur. Ini hanya terjadi untuk pertama kalinya dalam hidupku. Dari banyak gadis yang selalu ku pandangi dan hanya kau yang membuatku tak ingin pergi darimu.

Kau tahu perasaanku padamu ? Mungkin suatu saat nanti kau akan tahu dan itu yang kutunggu. 

“ Kau suka membaca buku bertema seperti itu ? tanyaku pada Suzy yang membaca buku tentang psikologis.

Sudah berapa kali aku melihatnya membaca belasan buku dengan tema yang sama. Seharian di perpustakaan ini ia hanya mengambil buku-buku yang sekeluarga.

“ Eumm “

“ Apa kau punya waktu ? “

Dia memasang bola matanya dengan pertanyaan tanpa ucapan. Tampak manis…. Sepertinya begitu.. Menurutku… Yang nantinya akan menjadi sebuah fakta…

“ Kita jalan-jalan.. kajja “

Aku duduk dipinggir jalan melihat Suzy dari belakang yang asik menghirup udara sambil bermain-main dengan daun-daun kering yang tiduran ditapak jalan. Padahal ada aku didekatnya, kenapa dia harus mengajak daun tak bernyawa itu bermain.

“ Berhentilah menganggu daun-daun itu ? “

Suzy yang mendengarnya menolahkan kepalanya kearah ku, kemudian berbalik lagi menatap daun-daun kering itu dan mengambil selembar daun kering itu lalu ia berjalan kearahku. Dia merentangkan telapak tangannya yang berisi daun kering ke padaku. Ku tatap wajahnya dengan raut bingung.

“ Kenapa ? “

Suzy tak menjawab hanya terus menyodor-nyodorkan tangannya. Ia mengambil tanganku dan menaruh daun kering itu ditanganku. Setelah memperhatikan daun kering itu aku rasa tak ada yang istimewa jadi aku lantas meremasnya dan membuangnya.

“ Kenapa kau membuangnya ? “

“ Apa aku harus menyimpannya ? “

“ Bagaimana jika kau menjadi daun itu, tergeletak di jalanan tanpa ada yang memperdulikan. ? Apa kau tak kasihan melihat daun-daun itu ? “

“ Tapi aku kan bukan daun itu “

“ Huh “

Kulihat dia memainkan ponselnya dan mengetik sesuatu, sepertinya cukup serius.

“ Ada apa ? “ tanyaku dan dia hanya menggeleng.

Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Bertanya terus padanya itu bukanlah obrolan yang membuatku nyaman, justru malah semakin mendatangkan kecanggungan diantara kami.

Mungkin butuh sedikit waktu lagi untukku bisa merasa santai saat didekatnya. Aku benar-benar menyukai saat dimana aku bisa duduk bersebelahan seperti ini dengan dirinya walau aku akui aku gugup dengan adegan seperti ini.

Sudah dua hari ini aku tak pernah menemukan sosok dirinya lagi atau mungkin aku terlambat datang sehingga dia sudah pulang. Tetapi dia selalu datang di waktu ini, mungkin saja dia terlalu sibuk hingga tak bisa menyempatkan diri untuk membaca disini.

Aku menghampiri Hoya yang sedang memeriksa buku-buku di raknya. Ku sentuh pundaknya dan dia hanya fokus dengan beberapa buku yang berserakan di lantai.

“ Perlu bantuan ? “

Dia menggeleng pelan, aku mencoba bertanya padanya kenapa Suzy-ssi tak pernah lagi singgah ke tempat ini. Hoya masih sama hanya menggeleng mendengar pertanyaanku.

“ Kau benar-benar menyukainya ? “ tanya Hoya tiba-tiba.

Aku memang benar-benar menyukainya. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta sepanjang aku bernafas, padahal dulu aku selalu mencaci yang namanya cinta. Aku berfikir kenapa semua manusia membumbui hidupnya dengan cinta setiap waktu bukankah masih ada hal yang lebih penting dari itu bahkan sampai ada yang menghancurkan hidup mereka karena cinta. Dan sekarang aku tahu rasanya mencintai sesorang.

“ Bagaimana jika ia bukan milikmu ? “ tanyanya lagi.

“ Jika… itu terjadi.. aku takkan bertemu dengannya lagi. Mungkin itu yang akan ku lakukan nantinya agar aku tak menyimpan rasa memiliki lagi “

“ Apa yang akan kau lakukan untuk bisa mendapatkan hatinya ? “

Hal yang bisa ku lakukan untuk mendapatkan hatinya ? Haruskah aku melakukan semuanya ? Apapun itu apakah aku harus melakukannya ? Tapi aku tak pernah berfikiran seperti itu, kalaupun iya tak ada yang bisa ku lakukan.

Bagaikan butiran salju yang melayang terbang sesuka mereka tanpa sayap yang membawa mereka pada keajaiban kecil namun sangat berarti, seperti itu perasaaku.

Pandangan pertama atau cinta pertama kah ? Mungkin aku akan menyebutnya kebahagian pertama, kebahagian yang benar-benar memberikan sebuah hadiah bahagia yang tak pernah terlintas sebelumnya.

Wajah cantiknya membuatku terkubur dalam hati yang beku karena pancaran indah yang menusuk dari matanya. Senyum manisnya itu mengharuskanku untuk di penjara karena telah berusaha untuk mencuri hatinya.

Dia satu-satunya gadis yang memberiku kesejukan saat hanya memandanginya. Mungkinkah aku bisa memilikinya ? Aku berharap mendapatkannya.

Seseorang mengangetkan ku dari belakang. Dia tak lain adalah Woohyun. Dia selalu saja seperti itu datang tanpa membuat secercih suarapun, entah kenapa saat ia berjalan langkah kakinya itu tak menimbulkan suara sekecil apapun.

“ Akhir-akhir ini kau tampak bahagia “

“ Aku menyukai seorang gadis hyung “ sahut ku.

Gadis itu memang benar Bae Suzy. Gadis yang membawaku pada kebahagiaan. Mungkin terlalu berlebihan sudah harus mencintainya padahal kami baru sehari saling mengenal. Tapi itulah cinta, siapa yang akan peduli jika perasaanmu sudah menggebu seperti ini, menghilangkannya pun percuma tanpa seizin Tuhan yang yang akan berkata untuk menentukan kepada siapa kita akan menaruh hati.

“ Aku pikir kau hanya menyukai Sungyeol “

“ Aku akan menyukainya jika dia seorang gadis. Hyung apa kau sudah siap dengan pesta pernikahanmu ? Aku rasa kau terlalu muda untuk menikah. “

“ Menurutmu bagaimana ? “

“ Kenapa kau harus keras kepala hyung ? “

“ Dan kau kenapa harus keras hati ? “

 Dari dulu aku tak pernah senang memiliki Hyung seperti dirinya. Walau dia baik tapi juga menyebalkan. Itu yang aku tahu nilai plus dari dirinya. Tampan dan elegant tapi ia tak pernah berbagi perasaannya kepada siapapun sekalipun denganku yang sudah sangat lama mengenalnya.

“ Hyung bagaimana rasanya akan menikah dengan orang yang kau cintai ? “

“ Sama seperti saat kau jatuh cinta “

“ Kau tampan hyung “ pujiku pada Woohyun.

Bagaimana tidak, setiap pria yang akan menikah dan memakai jas pernikahannya pasti akan terlihat tampan. Hari ini sangat ku tunggu karena aku akan melihat Woohyun, sahabatku bahagia dan itu pasti secara otomatis membuat dia berhenti untuk tidak pernah mengangguku karena ia sudah punya teman baru nantinya.

Percaya atau tidak, sampai sekarang ia tak pernah memberitahu siapa kekasihnya. Bahkan hanya sekedar nama dia enggan memberitahunya, alasannya “ Itu tak penting bagimu “ begitu katanya. Memang tidak begitu penting tapi itu juga sedikit penting untuk ku ketahui. Ini hanya sebuah acara pernikahan yang tak terlalu besar jadi belum terlambat untuk Woohyun memperkenalkan kekasihnya itu padaku.

Kini aku kembali ke tempat dudukku karena acara sudah akan dimulai. Ponsel di saku celanaku berdering, segera ku raih ponselku dan meninggalkan altar pernikahan Woohyun hyung.

Aku mencari tempat yang dirasa tidak akan menggangguku menjawab telfon yang ternyata dari Sungyeol. Disini, dilorong menuju altar ini aku menghentikan langkahku dan mulai menjawab panggilan Sungyeol.

Cukup lama sekitar 20 menit sungyeol di telfon hanya mengoceh tanpa sebab sedangkan aku dengan setia hanya bisa mendesah mendengar dia berbicara dengan tanpa intonasi yang jelas.

Tak tahan karena ocehannya yang tak jelas aku mematikan ponsel dengan paksa. Ku balikkan badanku dan tanpa sengaja menabrak seseorang, seorang gadis mempelai wanita Woohyun lebih tepatnya.

Aku tak bisa berkutik, tubuhku kaku saat itu juga. Gadis itu menatapku sambil tersenyum. Benarkah ini sebuah kenyataan ? Aku… aku berdiri dihadapan calon istri Woohyun. Dia kah gadis yang akan menjadi bagian hidup Woohyun ? Gadis yang sangat cantik dengan pita putih di sisi kiri rambutnya.

Gadis itu berlalu dari hadapanku, dengan anggunnya menuju altar pernikahan. Tapi aku, entah kenapa tak bisa menggerakkan kakiku dan hanya berdiri diam ditempatku dengan tatapan Kosongku, dan kedua bibirku yang kehabisan kata-kata.

Sepertinya acara pertukaran cincin sudah dilakukan dan aku yakin Woohyun dan gadis itu sekarang sudah menjadi.. ahh bersatu dalam ikatan pernikahan. Aku mencoba melangkah, tubuhku muncul dari balik pintu, pandanganku langsung tertuju pada Woohyun yang mencium bibir istrinya.

Gadis yang mengenakan gaun putih panjang itu aku mengenalnya. Gadis yang belum lama ini ku kenal di sebuah perpustakaan umum. Sudah bisa di tebak siapa gadis itu ? Ya dia adalah Bae Suzy. Haruskah aku mempercayai semua kenyataan ini atau malah bergelayut di dalam kehancuran seorang diri

Sekarang aku tahu alasan mengapa orang-orang di luar sana menangis karena cinta. Kenyataan bahwa kau bukan milikku sungguh terjadi. Aku tahu apa yang akan ku lakukan sekarang, membiarkanmu tak masuk dalam hatiku karena aku tak punya cukup bukti untuk mengharapkanmu. Seperti ini kah rasanya mencintaimu Bae Suzy ?

Kau lenyap dari hidupku dan aku tak menahanmu kembali. Waktu yang singkat, kau gadis yang cantik. Jumlah waktu yang tak singkat bahwa aku telah melihat hatimu. Tak perlu alasan lagi kau telah tuntas menyelesaikannya dan aku melepasmu pergi. Kedua kisahku, saat suka dan luka mencintaimu itu adalah kenangan yang kau berikan untuk hatiku.

FIN

Semoga ini FF ada yang suka ya,, dan maafin Author gak menyatukan Myungzy…. Sekali-kali kan gak apa-apa…

Rencananya Author mau bikin Myungzy di 6o detik-60 detik yang lainnya,, Jadi kasih semangat terus ya untuk Auhtor… Jangan lupa coment berupa kritiknya Auhtor tunggu…

Gomawo ^^

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Because I Want To Know Your Heart

Coverff-becauseiwant-toknowyour-heart

Title           : Because I Want To Know Your Heart 

Author       : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre         : Sad, Hurt, Fluff

Lenght        : Oneshoot

Rating         : G

Author Note           : Ide cerita murni dari otak Author tapi sedikit terinspirasi dengan salah satu FF Kpopers. Cast Kim Myungsoo aka L juga milik Author, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

— Aku Mencintaimu —

Dua kata yang diberikan Myungsoo untukku saat salju mulai mengurung kota Seoul. Tapi sepertinya itu hanya permainan canda belaka seorang Kim Myungsoo.

Ia tak benar-benar serius mengatakan itu karena ia sama sekali tak memberikan perhatiannya padaku. Myungsoo bahkan saat ini sedang mencoba mendekati seorang gadis yang ia akui, ia menyukainya. Dan itu sudah jelas menjelaskan bahwa Myungsoo hanya bercanda dan kata itu bukan menunjuk ke arah dua insan melainkan hanya ungkapan rasa sayang kepada seorang teman.

Tapi sejak hari dia mengucapkan kata itu, takkan ada satu siswa pun yang mendapati aku dan Myungsoo bersama. Ya, sejak saat itu Myungsoo memisahkan dirinya dariku, kami tak pernah bermain bersama lagi bahkan untuk sekedar pulang bersama Myungsoo tak mau melakukannya lagi.

Ku lihat Myungsoo sedang membaca sebuah buku di kelas, pekerjaannya saat jam istirahat. Aku menghampirinya duduk miring di kursi depan mejanya. Pandangannya tak berpaling dari bukunya, tak menghiraukanku seperti aku tak terlihat olehnya.

“ Myungsoo-ah “

“ Eummm “

Dia hanya berdehem kecil, ada apa dengannya ? Hanya untuk menjawab panggilanku dia tak juga mau.

“ Kau tak pulang bersamaku lagi hari ini ? “

“ Maafkan aku, tapi aku akan pergi dengan Jiyeon “

Myungsoo menutup bukunya menatapku sedetik dengan sedikit senyuman kematiannya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku.

Lagi, untuk yang ke 27 kalinya ia beralasan membuat janji dengan Jiyeon agar bisa menghindar untuk tak pulang bersamaku. Ini sudah hampir satu bulan kami tak pernah bersama karena semua alasan-alasan yang sama dari Myungsoo.

Begitu besarkah cinta Myungsoo pada Jiyeon hingga bisa melupakan ku sebagai temannya.

Jujur saja aku mencintai Myungsoo, aku bahagia dia mengatakan itu padaku dan aku terluka karena dia menjauhiku. Aku kesapian berhari-hari tanpa dirinya. Menangis karena dia tak ingin lagi bersama ku untuk sekedar menjadi temanku.

Dia manis dan hangat tapi semua itu hanya dirinya yang dulu sebelum ia berubah menjadi dingin setelah melontarkan kalimat itu.

“ Myungsoo-ah “

Tak ada jawaban dari seseorang yang kupanggil itu. Sangat kejam.. Beginikah dia memperlakukanku setelah berhasil memecahkan hatiku. Orang yang selama ini aku kagumi, orang yang mengaku menyayangiku sebagai temannya, orang yang selalu ada sejak 2 tahun terakhir untukku, tapi kini orang itu sudah tiada. Tak ada lagi orang yang akan menatapku dengan tatapan pemubunuhnya atau tersenyum dengan senyuman mematikannya… Yang ada hanya seseorang yang tak pernah menganggapku ada karena seorang gadis yang baru saja ia kenal tak lebih dari 4 bulan.

Aku pergi menjauh darinya dengan kesedihan yang memuncak. Tak akan… Tak akan lagi aku memanggil namanya, berbicara padanya, tersenyum padanya, bahkan untuk sekedar menoleh kepadanya aku tak akan pernah mau lagi.

Untuk terakhir kalinya aku melihatnya sedang menatapku kosong dengan entah apa makna dibalik tatapan pengkhianatannya itu.

2 minggu setelahnya aku dan Myungsoo benar-benar seperti orang asing. Dia penulis naskahnya dan aku hanya mengikuti naskah yang ia buat. Bukankah seperti ini tampak baik untuknya, walau aku akui aku memang sangat-sangat terluka menjauhinya, kehilangan dirinya, dan tak pernah mendengar suara lembut miliknya.

Aku menapaki lorong sekolah menuju kelasku. Di ujung sana, tepat di depan pintu kelas sedang terdapat dua sosok tengah tertawa begitu indahnya. Aku ragu untuk terus melangkah ke depan, tapi tak ada kesempatan bagiku untuk melangkah mundur karena bebarapa guru sedang bearada di belakangku memarahi dan memberi hukuman kepada dua orang siswa yang telah melakukan kesalahan.

Berani ? Tentu saja, aku akan menganggap seolah-olah di depan sana tak ada siapapun hanya ada angin lewat yang mengganggu kulit lembutku. Saat sudah sampai pada puncaknya dan akan melangkahkan salah satu kakiku menginjak lantai kelas, tubuh pria yang bernama Kim Myungsoo itu menghalangi jaalanku.

Aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan amarah, berteriak padanya agar ia menyingkir dari hadapanku. Nihil… dia tuli atau pura-pura tak mendengarku ?

Aku benar-benar muak terperangkap di antara kedua insan ini yang telah berkali-kali melukai hatiku. Ku dorong dengan keras tubuh Myungsoo hingga punggungnya mencium daun pintu dengan keras yang bisa kau prediksi bahwa itu sangat sakit.

10 jam berlalu, jarum jam sudah menunjuk pukul 5 sore yang mengharuskan semua siswa harus meninggalkan sekolah. Aku mengabulkan permintaan itu dengan meninggalkan sekolah secepatnya.

“ Kau ingin pulang denganku ? “

Suara itu.. Suara lembut Myungsoo. Benarkah ini ? Dia mengajakku pulang bersamanya. Aku sangat senang, tak bisa terbayarkan betapa senangnya aku saat mendapati Myungsoo yang dulu.

“ A.. “

Aku tak sempat melanjutkan kalimatku setelah tak sengaja menangkap Jiyeon sedang berada di depan pintu kelas yang tampaknya sedang menunggu Myungsoo.

Apa Myungsoo mengajakku pulang bersamanya dan juga Jiyeon ? Semua kesenanganku kabur seketika setelah melintas beberapa fikiran-fikiran yang… enatahlah tak bisa di jelaskan.

“ Tak perlu, aku bisa pulang sendiri “ tukasku dengan nada sedikit meninggi.

Bukan rumah yang ku tuju setelah berhasil bebas dari gerbang sekolah, melainkan menginap beberapa jam di sebuah cafe kecil, cafe klasik yang tak terlalu besar namun masih tetap indah di pandang dengan mata normal. Memesan secangkir kopi dan sepotong kue kecil itu yang akan ku lakukan setelah berhasil mendapat tempat duduk dekat jendela.

2 jam sudah aku di cafe ini. Merasa bosan ? Tidak..Takkan ada seorangpun yang bosan jika berada di cafe ini bahkan meski hanya duduk berjam-jam lamanya tanpa membuka mulut sedetikpun. Aku mengusap wajahku menyandarkan tubuhku di kursi yang aku duduki, aku merasa enggan untuk pulang jadi aku bertahan sedikit lebih lama di cafe ini.

KLINGG….

Bunyi gemerling itu menandakan bahwa baru saja ada pelanggan yang datang memasuki cafe ini. Aku mengedarkan pandanganku yang semula menatap keluar jendela kini beralih melihat sosok pelanggan yang baru saja datang.

Tubuhku terkulai lemas di atas kursi setelah melihat sesuatu yang lagi-lagi mengikis permata ketabahanku di setiap detiknya.

Kim Myungsoo dan Park Jiyeon yang kini tengah duduk disalah satu meja tak jauh dari keberadaanku. Myungsoo mengambil makanan yang dipesannya, melayangkan makanan itu ke mulut mungil Jiyeon. Mengelap sisa makanan di bibir pink Jiyeon dengan ibu jarinya.

Aku rindu saat-saat itu, saat di mana aku dan Myungsoo makan bersama setelah pulang sekolah, saling bertukar sesuap makanan. Rindu saat Myungsoo memukul kepalaku, rindu saat Myungsoo tersenyum seperti yang ia berikan sekarang kepada gadis cantik dihadapannya.

Perih itu kembali menemani hatiku. Air mata yang bersorak ingin keluar tak mampu lagi terbelenggu. Aku berlari keluar cafe, terus berlari tanpa peduli kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang yang sewaktu-waktu akan menabrakku tanpa izin.

Aku terjatuh di pinggir jalan dengan air mata yang terus berjatuhan. Orang-orang sekitar yang melihatku hanya bisa memandang nanar keadaanku saat ini.

Menangis.. kenapa aku harus menangis ? Aku benci menangis seperti ini…

Kenapa aku harus lemah ? Kenapa aku terus-terusan terluka.

 Tak adakah satu kebahagian saja yang dengan senang hati mampir ke hatiku ?

Hangat… sebuah tangan mendekap tubuhku, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Kim Myungsoo kini sedang memelukku. Sekarang apa lagi ? permainan apa lagi yang akan di ciptakannya ?

Aku mendorong tubuhnya melepas pelukannya dengan kasar. Menatap dirinya dengan cairan bening yang tergerai lembut di wajahku. Dia menatapku dengan mata elangnya dan menghapus setiap tetes air mata dengan jemari tangannya.

“ Jangan menangis “ ujarnya lemah.

“ Pergilah, aku tak menyuruhmu berada di sini “

Sekali lagi dia memelukku. Pelukan dari Kim Myungsoo yang ku terima untuk pertama kalinya.

“ Maafkan aku membuatmu terluka terlalu lama tapi pada akhirnya aku mencintaimu “

Lagi Myungsoo mengucapkan kata itu lagi. Apakah kali ini sungguhan atau hanya sebuah lolucun baru lagi. Aku menghempaskan tubuhnya perlahan. Di wajah Myungsoo terlukis sketsa kabut kesedihan yang terkurung dalam penyesalan. Ku mohon jangan katakan padaku bahwa ini sebuah kepalsuan.

“ Tidak.. kau mencintai Jiyeon “

“ Kau salah. Waktu itu aku sungguh serius mengatakannya tapi kau tak meresponnya. Kau tak menerima atau menolaknya membuatku berfikir tak ada kesempatan untuk memilikimu… jadi aku mengujinya dengan cara seperti ini “

Isakan tangisku terhenti mendengar kalimat yang di lontarkannya. Myungsoo mencintaiku..

“ Permainan ini sudah berakhir dengan Aku Mencintaimu “

 Ku peluk tubuh Myungsoo dengan erat. Tak ingin melepaskannya walau hanya sedetik. Luka di hatiku dengan mudahnya terobati dengan pengakuan Myungsoo. Aku tak peduli dia membohongiku dan melukaiku selama ini yang aku pedulikan hanyalah mendapatkan kembali seorang Kim Myungsoo.

 Udara yang dingin dimalam hari menyelimuti pelukan kami yang di saksikan olah banyak orang yang melintas serta gelapnya langit kota Seoul yang tersenyum bahagia mewakili perasaanku.

END

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….