FF Oneshoot [Myungzy Couple] All Because Of You

coverff=allbecause

Title          : All Because Of You

Author      : Vinwi Lee

Cast                    

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre         : Angst

Lenght       : Oneshoot

Rating        : G

 

Myungsoo, pria itu memegang erat kedua lengan Suzy untuk membantu Suzy berjalan. Suzy tak bisa berdiri sempurna melangkah. Kakinya bergetar setiap kali mencoba menyentuh lantai.

Ia harus berpegangan pada sesuatu jika ingin bergerak. Dua buah tongkat sudah menjadi teman baiknya 2 bulan terakhir ini. Tapi Suzy selalu enggan untuk menyentuh kedua tongkat itu di karenakan ia malu dengan keadaannya.

Fisiknya yang cacat akibat kecelakaan kecil yang tidak di sengaja membuat Suzy tak ingin berbaur dengan teman-temannya, bahkan untuk sekedar beristirahat di beranda rumahnya Suzy tidak ingin.

Ia juga tak ingin pergi ke sekolah lantaran setiap kali pergi kesekolah ia hanya mendapat penghinaan. Teman-teman di sekolahnya menjauhi dirinya bukan hanya karena kaki Suzy yang tak bisa berjalan tapi juga karena Suzy adalah siswa yang jahat. Tapi Myungsoo berhasil meyakinkan Suzy untuk tetap pergi kesekolah.

Kini hanya Myungsoo dan sahabatnya yang dengan sepenuh hati ingin berteman dengan Suzy.

Suzy terjatuh setelah beberapa langkah. Perlahan ia mengeluarkan cairan bening dari matanya yang berakhir di bibir mungil merah mudahnya.

“ Kita coba lagi “

“ AKU TIDAK BISA “

“ Kau tak bisa karena belum mencoba “

“ Aku sudah mencobanya “

Air mata Suzy semakin deras mengalir. Ia memukul-mukul kakinya yang tak berdosa. Myungsoo tak tahu harus berbuat apa. Ia memeluk Suzy dari samping. Dalam hatinya tersimpan perasaan bersalah setiap kali mendapati Suzy menangis tak berdaya.

“ Sesuatu takkan bisa terlaksana hanya dengan sekali coba. Kau harus mencobanya setiap kali agar itu bisa berjalan sempurna “

Myungsoo menuntun Suzy berdiri tapi Suzy menolaknya, akhirnya Myungsoo menggendong Suzy dan menaruh tubuh suzy di sofa. Suzy menidurkan kepalanya di badan sofa kemudian perlahan memejamkan mata.

“ Kau belum bersiap-siap ? “

Sahut Myungsoo setelah membuka pintu kamar Suzy. Ia melihat Suzy hanya duduk termenung di tepi kasur tempat tidurnya padahal sejam yang lalu ia sudah menyuruh Suzy untuk memakai seragam sekolahnya.

Myungsoo berjalan ke meja rias dan mengambil sebuah sisir berwarna putih. Myungsoo mulai menyisiri rambut Suzy yang terlihat begitu berantakan. Suzy menghempaskan tangan Myungsoo dari rambut panjangnya membuat sisir putih itu terlepas dari genggaman Myungsoo.

“ Aku tak ingin sekolah “

Myungsoo tersenyum, membungkukkan sedikit tubuhnya untuk dapat menggapai sisir yang terbaring di lantai. Ia kembali menyisiri rambut Suzy, mengikatnya dengan pita biru.

“ Pakailah seragammu, setelah itu kita akan sarapan bersama “

Myungsoo berjalan ke arah pintu, membukanya perlahan kemudian menutupnya kembali. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar Suzy. Tubuhnya terjatuh, ia usap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tak lama Myungsoo kembali masuk kekamar Suzy dan Suzy sudah cantik dengan seragam sekolahnya. Myungsoo mendekati Suzy dan memperbaiki dasi yang terkalung di kerah bajunya.

“ Kau ingat namamu kan ? “

“ Jangan terlalu mengkhawatirkanku “

Di kelas suasana riuh ketika istirahat. Para siswa mulai membicarakan Suzy yang hanya bisa duduk di kursinya. Jieun tak terima sahabatnya terus-terusan di rendahkan, ia menghampiri beberapa siswa yang menghina Suzy.

Rupanya ia tak cukup kuat untuk membela Suzy sendirian, terlalu banyak yang membenci Suzy jadi sekalipun Jieun mengancam mereka, itu takkan menyurutkan kebencian mereka pada Suzy.

Suzy mengambil tongkat yang berada di sebelah kirinya. Mencoba untuk berdiri walau itu sangat susah. Sebisa mungkin Suzy menghampiri Jieun dan itu tak mudah bagi Suzy.

Seorang siswi yang sudah benar-benar muak dengan Suzy, mendorong Suzy tanpa kasihan. Jieun marah, ia balik mendorong siswi yang tadi mendorong Suzy. Jieun berlutut menolong Suzy bangun, ia tolehkan kepalanya dan terhenti di pintu kelas. Di sana Myungsoo hanya berdiri diam melihat Suzy terjatuh.

Myungsoo duduk di tangga halaman sekolahnya. Ia menggosok-gosokkan tangannya kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. Jieun datang menghampiri. Berdiri di hadapannya dengan raut kebenciaan.

“ Kenapa ? “

Myungsoo dengan santainya bertanya pada Jieun yang menatap dirinya dengan penuh amarah.

“ Sampai kapan ? “

Jieun, dia tak suka jika Myungsoo selalu berada didekat Suzy. Meski Myungsoo hanya ingin membantu Suzy tapi tetap saja Jieun tak rela jika Suzy berada dalam lingkungan yang sama dengan Myungsoo.

“ Tak ada urusannya denganmu “

“ Aku akan pastikan kau menyesal jika Suzy tahu akan sebuah kebenaran “

“ Siapa yang lebih jahat aku atau dia ? “

Jieun terdiam. Myungsoo tertawa kecil. Ia langkahkan kakinya sengaja menabrak lengan Jieun.

Myungsoo duduk di kursi meja makan. Bola matanya terfokus pada gitar di pangkuannya sedangkan jemarinya masih saja tak ingin melepaskan senar-senar gitar itu. Sepertinya Myungsoo sedang mencoba menghibur dirinya yang kelelahan dengan bermain gitar.

Tiba-tiba dari arah belakang Suzy datang dengan secangkir kopi di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya berusaha keras menggandeng tongkat untuk membantu ia berjalan. Ia duduk di hadapan Myungsoo.

“ Kenapa kau selalu ada di rumahku ? “

“ Karena untuk menjagamu “

“ Aku bukan anak kecil yang harus di jaga “

“ Memang bukan tapi kau sedang sakit “

Mendengar itu Suzy membanting keras cangkir kopinya di meja, membuat Myungsoo terhenti dari aktivitasnya memetik senar. Pandangannya masih jatuh ke bawah gitar yang di pangkunya, ia tak sedikitpun berniat melihat wajah Suzy.

“ Aku tidak sakit. Kau harus ingat itu “

Suzy sebenarnya marah karena tak suka Myungsoo selalu mengatakan bahwa dirinya sakit tapi ia tak kuasa untuk berbicara kasar atau membentak Myungsoo

Suzy dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Apa yang telah terjadi ia lupa akan segalanya. Ia ingin menangis tetapi tak tahu karena alasan apa. Ketika ingin marah, hal itu tidak bisa di ekspresikan olehnya.

Myungsoo memakai sepatu sport berwarna biru miliknya, kemudian membalut tubuhnya dengan jaket abu-abu. Ia pergi ke sebuah rumah sakit tak jauh dari rumah Suzy. Membuka sebuah pintu kamar tempat seseorang sedang di rawat itulah yang Myungsoo lakukan.

Di sana, di tempat tidur serba putih itu terbaring seorang gadis berambut panjang dengan jarum infus yang menancap tangannya. Sebuah tabung oksigen  terpasang menutupi mulutnya.

Myungsoo mengambil kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur seorang gadis yang matanya terpejam itu. Ia ambil jemari gadis itu kemudian menyelimutinya dengan genggamannya.

“ Tolong tetaplah bertahan. Aku ingin mendengar suara lembutmu yang dulu selalu tertangkap oleh daun telingaku setiap waktu “

Myungsoo tersenyum melihat wajah gadis itu tapi kemudian setets air meluncur dari mata elangnya.

Myungsoo merasakan bahwa gadis itu membalas genggaman tangannya, semakin erat. Tak lama jemari gadis itu mulai melemah dan akhirnya terjatuh.

Myungsoo yang merasa khawatir segera memanggil dokter dengan panik. Myungsoo bertanya ada apa tapi sang dokter hanya diam membisu dan malah melepas tabung oksigen yang sejak 2 bulan lalu sudah menjadi alat bantu pernafasan untuk gadis itu.

Myungsoo memarahi sang dokter, mengusir sang dokter menjauhi gadis itu. Ia kembali menangis, tangan kirinya mengacak-acak rambut hitamnya

Myungsoo menangis dalam kehancuran. Ia tak percaya akan secepat ini kehilangan gadis yang tak berdaya itu. Siapa yang harus di salahkan atas semua ini ? Tidakkah Myungsoo tahu siapa orang itu yang kini juga menderita karena pembalasan Myungsoo.

“ Kenapa kau melakukan itu padanya ? Kenapa kau tega melukainya ? Kenapa kau melakukan ini semua ? Kau teman baikku, kenapa ? “

Suzy ketakutan mendengar banyak pertanyaan dari Myungsoo. Ia bingung kenapa Myungsoo berbicara seperti itu padanya sambil menangis. Apa yang telah ia lakukan ? Apa ia telah melakukan kesalahan yang besar sehingga membuat Myungsoo begitu marah pada dirinya ?

“ Apa yang telah ku lakukan ? “

Myungsoo menatap tajam Suzy, ia benar-benar terlihat marah bahkan lebih dari sekedar itu. Suzy yang tak tahu apa-apa hanya bisa tertunduk, mengingat-ingat sesuatu perbuatannya yang mungkin sangat fatal.

Suzy termenung duduk di kursinya. Seperti biasa suasana kelas selalu menciptakan gemuruh saat istirahat. Suzy melirik kursi yang kosong di belakangnya.

Tak ada Myungsoo, pria itu tak pergi ke sekolah. Sejak kejadian dimana Myungsoo marah padanya, pria itu tak pernah lagi muncul di hadapan Suzy padahal Suzy selalu berharap Myungsoo selalu ada di sampingnya.

Jieun mendekati Suzy dan berlutut di samping meja Suzy.

“ Kau sudah makan “

“ Sudah “

“ Kau sakit, kenapa kau hanya diam sedari tadi ? “

“ Jieun-ah “

“ Eumm “

“ Myungsoo pernah memarahiku dan mengatakan kenapa aku melakukan ini podanya dan kenapa aku tega melukainya. Melukainya ? Apa aku telah melukai sesorang yang berarti untuk Myungsoo ? “

Jieun diam. Ia bingung harus mengatakan apa. Suzy belum saatnya mengetahui semua yang telah terjadi. Jieun berfikir mungkin Suzy lebih baik mengingatnya sendiri daripada harus mendengar cerita dari mulutnya.

Beberapa siswa datang menghampiri Suzy dan Jieun. Salah seorang dari mereka mendaratkan pukulan di meja Suzy membuat Suzy dan Jieun tersentak.

“ Kau senang sekarang Bae Suzy ? “ tanya seorang gadis dengan paras cantik yang bernama Soojung.

“ Apa yang kau bicarakan ? “

“ Tentu saja, kau pasti bahagia kan Suzy-ah karena sekarang tak ada lagi yang menghalangimu mendapatkan Myungsoo “

Jieun menyahut dan membentak mereka. Ia tak ingin Suzy semakin tahu apa yang terjadi. Ini akan menjadi buruk jika Suzy mengetahuinya.

“ Yaa Lee Jieun, kenapa kau selalu membela orang yang bersalah ? Karena dia sahabatmu ? Kau setia sekali “

Jieun tak bisa menahan amarahnya ia menampar Soojung. Soojung yang tak terima memukul Jieun membuat gadis itu tersungkur ke lantai. Semua siswa yang ada di kelas itu terperangah melihat Soojung dan Jieun, salah seorang siswa laki-laki bahkan lari keluar kelas untuk menemui wali kelas mereka.

Sayup-sayup terdengar langkah kaki seseorang menuju arah kelas mereka. Perlahan pintu kelas terbuka.  Seseorang melangkah masuk, dia adalah Myungsoo. Tak perlu basa-basi lagi Myungsoo segera menghampiri Suzy, membantu Suzy berdiri dan membawanya ke halaman sekolah.

Disana mereka saling canggung. Suzy selalu ingin bertanya apa yang terjadi tapi ia takut Myungsoo akan marah seperti waktu itu. Jika saja ada yang ingin memberitahu dirinya kesalahan apa yang telah di lakukannya mungkin ia bisa melakukan yang seharusnya ia lakukan untuk membayar perbuatannya.

“ Apa aku membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga ? “

“ Tidak, kau tidak melakukan apa-apa “ Jawab Myungsoo membuat garis lengkung di bibirnya.

“ Tapi kenapa semua orang membenciku ? “

Satu pertanyaan itu tak bisa Myungsoo jawab. Entah kenapa ia tak bisa membenci Suzy meski Suzy telah membuatnya kehilangan orang yang ia cintai.

Semua ini terlalu aneh untuk Myungsoo, ia membenci Suzy tapi juga merasa bersalah padanya. Semuanya terjadi begitu saja karena sebuah virus hati yang di sebuat iri. Tak ada yang tahu bagaimana semua ini akan berakhir, hanya bayang-bayang kepahitan serta duka yang semakin mendalam menaburi kehidupan Myungsoo dan Suzy.

Suzy menggeram kesal melihat dua insan di hadapannya saling bermain senyum bahagia.  Dia benci ketika selalu mendapati Myungsoo dan Jiyeon selalu bersama berbagi kemesraan. Apalagi ketika Myungsoo berubah tak pernah lagi mempunyai waktu untuk dirinya.

“ Suzy-ah kau ingin ikut denganku dan Myungsoo ke toko buku ? “

Kenapa Jiyeon harus menanyakan itu padaku ? Sudah pasti dia akan semakin memojokkanku dan tersenyum dalam hatinya bahwa dia adalah ratu kemenangan !!! Batin Suzy.

“ Tidak, kalian saja “

Tanpa pamit Jiyeon dan Myungsoo pergi meninggalkan kantin sekolah, membuat Suzy semakin membenci kedua makhluk Tuhan itu karena dirinya benar-benar tak diperdulikan.

Ia melempar gelas kaca berisi air berwarna merah yang sedari tadi ia genggam. Alunan kaca pecah mengedarkan pandangan semua orang untuk beralih menatap Suzy.

Ia mulai pergi meninggalkan tempatnya dan tak peduli dengan semua tatapan mengerikan itu. Tapi seorang siswi menghalangi langkah Suzy dan menyuruhnya untuk membereskan potongan-potongan gelas kaca yang tadi ia jatuhkan. Suzy lagi-lagi mengacuhkannya dan kembali melangkah.

“ Apa kau tidak punya otak ? Gadis bodoh “

Kalimat itu membuat Suzy terhenti dari perjalanannya. Ia balikkan tubuhnya dan mendekati siswi tadi.

“ Apa yang kau katakan ? “

“ Kau ingin aku mengulanginya ? “

Tanpa basa-basi Suzy segera menampar siswi di hadapannya itu, terdengar jelas bahwa tamparan itu sangat keras dan kasar. Semua siswa yang berada disana semakin menegang melihat kefrontalan Suzy yang jelas-jelas di luar terlihat manis dan anggun.

Di depan rumah Suzy, Myungsoo berdiri dengan dinginnya angin yang berhembus kencang. Melayangkan hempasan kedinginan untuk tubuh Myungsoo yang hanya terbalut seragam sekolah.

Berkali-kali ia ingin masuk tapi selalu diurungkan niatnya itu. Rambutnya yang tadi tertata rapi kini sidikit basah karena embun yang berjatuhan. Mata beningnya menatap kedua kakinya yang terbungkus sepatu. Jari-jari tangannya mulai membeku bersamaan dengan bibir merah mudanya yang bergetar kecil.

Suara pintu terbuka terdengar ditelinga Myungsoo. Suzy berada di balik pintu itu dan semakin terlihat jelas oleh Myungsoo ketika Suzy membuka lebar pintu rumahnya.

“ Kenapa kau ada disini ? “ tanya Suzy

“ Untuk menjemputmu kesekolah “

“ Aku tidak akan pergi kesekolah lagi “

“ Kenapa “

“ Harusnya aku yang bertanya kenapa ? Aku tak mengerti apapun tapi kenapa semua yang ada disekolah selalu memperlakukanku dengan buruk. Kenapa ? Apa aku membuat kesalahan ? “

“ Tidak, kau… “

“ Kau bahkan tak mampu memberikan jawabannya “

Myungsoo bodoh tak bisa menebak perasaannya sendiri. Tak berani mengungkapkan semua yang terjadi.Tak berani membenci Suzy walau Suzy telah menghancurkan hatinya.

Myungsoo juga tak pernah membantu Suzy dari perlakuan-perlakuan buruk yang di lakukan teman-temannya lantas kenapa Myungsoo merasa bersalah dan ingin merawat Suzy sampai Suzy sudah kembali menjadi dirinya yang dulu.

Kini ia sedang dalam posisi terlentang di kursi panjang di atas gedung sekolahnya. Ingatannya selalu melayang pada kejadian dimana ia mulai membenci dan merasa bersalah pada seseorang.

Hari ini Jieun menjenguk Suzy karena khawatir Suzy tak masuk sekolah sudah hampir seminggu. Ia duduk di samping Suzy sambil bercengkrama dengan sahabatnya itu.

Suasana hati Suzy ketika ada Jieun didekatnya selaklu berubah menjadi padang hijau luas yang ditumbuhi bunga-bunga cantik serta nyanyian dari sayap-sayap burung yang bertebaran. Ia bahagia karena masih ada Jieun yang menyayangi dirinya

Mereka tertawa sesaat tapi kemudian itu menjadi hening karena Myungsoo datang. Ia menarik lengan Suzy bermaksud untuk membuat Suzy ikut dengan dirinya. Tapi Jieun menghalangi itu, ia terlalu khawatir jika Suzy berada di dekat Myungsoo.

Myungsoo menatap tajam Jieun bertanya-tanya kenapa Jieun harus selalu berfikiran bahwa dirinya akan menyakiti Suzy.

“ Suzy tak boleh pergi denganmu “

“ Siapa yang membuat aturan itu ? Kau kah ? Memang siapa kau ? “

“ Ya aku yang membuatnya dan aku adalah sahabat Suzy jadi aku berhak melarangnya untuk berada didekatmu “

Myungsoo terkekeh mendekatkan wajahnya ke wajah Jieun sambil tersenyum sinis.

“ Apa kau akan bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukannya ? “

“ Itu kesalahanmu karena kau memilih Jiyeon sebagai kekasihmu “

Jiyeon ? Suzy mengingat nama itu. Suzy benar-benar mengingat nama itu tapi ia tak tahu apa hubungan gadis itu dengannya dan Myungsoo. Kekasih Myungsoo ? Jiyeon adalah kekasih Myungsoo lalu bagaimana dengan dirinya, kenapa ia ikut terlibat ?

“ Siapa Jiyeon ? “ tanya Suzy polos.

Semuanya terdiam membungkam. Sepertinya takut untuk menjawab pertanyaan Suzy.

“ Kenapa kalian diam saja ? Siapa Jieyon ? Apa sesuatu terjadi padanya karena diriku ? “

Suzy memegang kepalanya yang merasakan sakit yang teramat. Dadanya tiba-tiba saja menghalau sakit pilu. Entah, ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Samar-samar sedikit demi sedikit bayang-bayang sesuatu bermunculan di otaknya.

Jieun terkejut memegang bahu Suzy untuk memastikan apakah sahabatnya baik-baik saja. Suzy terjatuh mengeluh kesakitan sambil berteriak kecil. Beberapa detik kemudian pandangannya mulai kabur dan menjadi gelap seketika.

Myungsoo tak kalah khawatirnya dengan Jieun. Ia segera meraih tubuh Suzy, menidurkan kepala Suzy di pangkuannya, mencoba memanggil-manggil nama Suzy tapi tetap saja Suzy tak mampu mendengarnya dan tetap memejamkan matanya.

“ Suzy-ah kumohon dengarkan aku “

Rintihan Jiyeon tak diperdengarkan oleh Suzy. Suzy murka, hatinya benar-benar hancur karena mencintai Myungsoo dan harus menerima kanyataan bahwa Jiyeon sudah merebut hati Myungsoo dan semua perhatian Myungsoo.

Dia menangis dalam hatinya tapi ia benar-benar memasang wajah iblis. Saat itu semua siswa sedang berolahraga di ruang permainan bola basket. Suzy membawa Jiyeon ke atas gedung sekolah. Awalnya Jiyeon merasa Suzy ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya, ya memang penting untuk membuat ketakutan datang menghampiri Jiyeon ketika Suzy mulai  mendorong kepala Jiyeon ke dinding dan sukses mengeluarkan darah.

“ Kau sialan Park Jiyeon. Kenapa kau harus datang dihidup Myungsoo dan merubah semuanya. Sejak adanya dirimu Myungsoo tak pernah lagi memberikan perhatiannya padaku, ia tak lagi ingin bermain denganku –TEMAN BAIKNYA SEJAK KECIL – Ia bahkan hanya berucap satu kata padaku setiap harinya. Kau tahu aku lebih dulu mencintai Myungsoo sebelum akhirnya kau datang dan memutar semuanya menjadi dipihakmu. Kau merebut semua perhatian teman-temanku, Kau merebut kasih sayang Ayah dariku. KAU SAMA SEPERTI IBUMU, IBUMU MEREBUT AYAHKU DARI IBUKU DISAAT IBUKU SEDANG SAKIT KERAS DAN SEKARANG KAU MEREBUT MYUNGSOO. KAU BRENGSEK “

Mata Suzy mulai dikepung oleh butiran-butiran yang mirip seperti kaca. Cairan bening meluncur dari matanya. Tapi ia melarang air matanya untuk terus terjatuh, ia menghapusnya dan tertawa kearah Jiyeon.

Ia berjalan mendekati Jiyeon, merampas kasar lengan Jiyeon dan menyeretnya ke tepi gedung.

“ Jika aku tak bisa mendapatkan yang kuinginkan maka kau harus mati “

Tanpa perintah Suzy dengan tenaga yang ia miliki mendorong tubuh Jiyeon ke bawah dan…

“ JIYEON-AH “

Sebuah suara memudarkan tawa iblis Suzy. Ia melihat sumber suara dan mendapati Myungsoo berdiri di hadapannya. Ia terkejut melihat bola mata Myungsoo yang menatapnya dengan kebencian. Myungsoo segera berlari untuk menolong Jiyeon dan ketika Myungsoo akan menuruni tangga tangannya sudah lebih dulu di tarik Suzy.

Suzy meminta maaf tapi Myungsoo sudah benar-benar membenci Suzy karena percuma Suzy meminta maaf pada dirinya. Ia tak percaya Suzy berani melakukan itu pada Jiyeon. Yang ia tahu Suzy adalah gadis terbaik yang ia miliki tapi kenapa sekarang gadis terbaiknya itu berubah menjadi orang yang tak punya hati.

Suzy tetap memegang erat tangan Myungsoo. Myungsoo berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Suzy, dengan keras ia menarik tangannya membuat Suzy yang menggenggam erat tangannya ikut terlempar membuat tubuh Suzy tak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat kakinya sudah berada diujung anak tangga yang paling atas.

Myungsoo terkejut melihat Suzy terjatuh dari tangga setinggi 7 meter. Kepala Suzy membentur pagar tangga membuat Suzy tak sadarkan diri.

Myungsoo melihat Suzy yang duduk membelakanginya. Sejak kemarin gadis itu tak mengucapkan sepatah kata untuk Myungsoo, sekedar untuk menyapapun tidak.

Saat jam pelajaran telah selesai Myungsoo mengikuti Suzy dari belakang. Walau Myungsoo melihat Suzy kesulitan untuk berjalan tapi ia sama sekali tak berniat untuk membantu. Yang ia lakukan hanya mengikuti setiap langkah gadis itu yang entah akan pergi kemana.

Suzy menyadari keberadaan Myungsoo tapi ia kembali tak perduli dengan itu, hanya fokus pada dirinya sendiri itu yang ia perdulikan.

Orang-orang mulai sibuk mencari perlindungan karena air langit yang kini sedikit demi sedikit terjatuh dari tidur panjangnya di awan hitam. Suzy tetap kukuh untuk terus berjalan hingga ia sampai ke suatu tempat yang ingin ia kunjungi. Myungsoo yang di belakangnyapun juga tetap pada pendiriannya mengikuti kemana langkah Suzy akan membawa dirinya bersama terpaan air hujan yang semakin deras.

Tak lama Suzy berhenti dan Myungsoo melakukan hal yang sama.

Lama — Cukup lama mereka berdiri di bawah dinginnya langit yang menangis. Sebagai pria Myungsoo tak berniat melindungi kepala Suzy dari hantaman hujan dan dengan teganya membiarkan Suzy sakit nantinya.

Suzy pun akan menolak jika Myungsoo melakukan itu dan lebih memilih terpenjara dalam hujan.

“ Sampai kapan kau akan terus mengikutiku ? “ tanya Suzy tapi Myungsoo hanya diam.

“ Sampai kau mendapat bayaran atas meninggalnya kekasihmu, Park… Ji… Yeon… “ sambung gadis itu.

Bola mata Myungsoo terbelalak tak percaya dengan kalimat yang keluar dari bibir manis Suzy.

Suzy sudah kembali !! Batin Myungsoo. Ia bahagia sekaligus takut.

“ Apa tongkat ini belum bisa membayarnya.. Myungsoo-ah ? “

Gadis itu ingin menangis lagi entah untuk yang keberapa kalinya tapi Myungsoo yang dihadapannya mampu membuat Suzy untuk menahan tangisannya.

Tanpa sadar Suzy masih menyimpan perasaannya pada Myungsoo dan itu satu alasan Suzy untuk memutuskan takkan lagi menjadi bagian dari hidup Myungsoo seperti saat dulu mereka bersama sebagai sepasang sahabat.

Suzy kini sudah mengingat semuanya. Ia sudah tahu kesalahan terbesarnya, ia sudah tahu kenapa Myungsoo memarahinya, ia tahu kenapa Myungsoo mau merawat dirinya disaat semua orang menjauhi dan membenci dirinya. Dan Suzy merasa takkan pantas lagi menjadi teman baik Myungsoo. Ia terlalu mencintai Myungsoo dan itu sesuatu yang berbahaya karena Suzy takkan rela jika Myungsoo bersama gadis lain.

Myungsoo membuka pintu ruang olahraga basket dan didalam sana ia menemukan Suzy sedang duduk manis dengan earphone ditelinganya. Gadis itu hanya memandangi ring basket tanpa melakukan aktivitas apapun, ia bahkan sejak pagi tadi hanya berada disana.

Sejak ia menginjakkan kaki disekolah itu pagi tadi, ia tak berniat untuk mendapatkan pelajaran, hanya untuk sekedar melewati kelasnya ia tak pernah berfikiran untuk melakukan itu.

Sejak hari itu juga Suzy tak berbicara pada Myungsoo. Saat Myungsoo datang kerumahnya Suzy tak lagi membukakan pintu untuk Myungsoo dan tentu saja Myungsoo juga takkan bisa masuk sendiri karena Suzy mengunci pintu rumahnya. Telfon dan sms Myungsoo juga tak pernah ditanggapi.

Myungsoo mendekat kearah Suzy berdiri tepat dihadapan gadis itu. Hanya dengan melihat sepatunya saja Suzy sudah tahu bahwa itu Myungsoo, sontak saja ia segera meraih tongkat di sebelah kanannya. Ia beranjak dari tenpat duduknya dan melangkah pergi tanpa sedikitpun melihat wajah Myungsoo.

Lagi-lagi Suzy menghindar. Myungsoo berlari dan menyetop langkah Suzy. Tatapan Suzy hanya tertuju pada lantai seperti tak berani melihat Myungsoo.

“ Kenapa kau menghindariku ? “

“ Aku tak menghindar “

“ Ketika aku menghampirimu dan saat itu juga kau beranjak pergi, apa itu tidak bisa disebut menghindar ? “

Bukannya menjawab Suzy malah kembali melangkah secepat mungkin.

“ KENAPA ? “ Myungsoo berteriak membuat suaranya bergema memenuhi seluruh ruangan. Suzy terlonjak kecil hingga ia reflek melepaskan tongkatnya dan tentu saja ia juga ikut terjatuh. Myungsoo berniat menolong tapi Suzy malah melempar tangan Myungsoo saat Myungsoo mencoba membantu dirinya berdiri.

“ Aku tak menghindar, itu hanya perasaanmu “

Suzy menunggu pesawat yang akan membawanya ke Singapure. Ia masih punya waktu 15 menit sebelum pesawatnya menaiki udara. Waktu itu ia gunakan untuk mengucapkan salam perpisahan pada Myungsoo. Ia masih duduk di ruang tunggu tapi Myungsoo belum juga datang.

Saat keresahan menghantui Suzy akhirnya Myungsoo datang 5 menit sebelum Suzy pergi. Myungsoo terenga-engah mengatur nafasnya karena sepertinya ia berlari untuk sampai di tempat Suzy menunggu. Suzy tersenyum dan tanpa sadar memeluk Myungsoo.

“ Maafkan aku “

Suzy melepaskan pelukannya. Raut wajah Myungsoo menggambarkan kesedihan dan Suzy bisa menebak itu. Sekuat hati Suzy mencoba untuk tetap tenang di depan Myungsoo.

“ Maaf, mungkin kesalahan yang ku perbuat tidak akan bisa mendapatkan permintaan maaf. Mungkin juga takkan bisa di bayar dengan apapun, tapi mungkin aku bisa mendapatkan sedikit balasan yaitu menyesal. Aku mencintaimu dan aku tak pantas untuk menjadi sahabatmu lagi apalagi untuk sampai mendapatkan hatimu.. itu hal yang mustahil “

“ Suzy-ah… Aku.. “

“ Terima kasih karena sudah ingin menyempatkan waktumu untuk menemuiku disini “

Perintah untuk segera menaiki pesawat sudah terngiang di telinga Suzy. Segera ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah seharusnya. Tanpa di ketahui Myungsoo Suzy melangkah meninggalkan Myungsoo dengan air mata yang mengalir pelan.

“ Suzy-ah “

Panggilan itu Suzy mendengarnya dan dia tak ingin merespon. Sejenak mata Myungsoo berkaca-kaca, hatinya perih menerima kenyataan bahwa Suzy akan meninggalkan dirinya terlebih ia sama sekali tak bisa berbuat apapun untuk menghentikan takdir didepan matanya.

Sosok Suzy semakin menghilang dari pandangan Myungsoo, ia terjatuh ke bawah dengan air mata yang juga bermain riang di pipinya.

“ Aku tak ingin kau pergi Suzy-ah…. Kenapa tak kau biarkan aku mencoba untuk mencintaimu “

FIN

Author sebenarnya malu buat post FF ini, solanya alurnya gak asik buat Author, ini juga kurang maksimal.. Tapi daripada percuma Author bikin ya udah deh dipost aja,,, Semoga aja ada yang suka..

Author butuh komen berupa kritik ya…

Gomawo ^^

Iklan

FF Oneshoot [Myungzy Couple] Time Machine

Coverff-Timemachine

Title         : Time Machine

Author    : Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Other

– Park Jiyeon

Genre       : Sad Romance, Songfic, Mistery

Lenght      : Oneshoot

Rating       : PG !5

Gadis berambut panjang itu tersenyum sayu sambil memasukkan beberapa sendok kopi ke dalam cangkir kaca. Sesekali senyumannya terlepas kemudian terpasang lagi begitu seterusnya hingga dia selesai membuat kopi.

Ia bawa secangkir kopi itu menghampiri seorang pria lemah yang terbujur kaku di atas kursi roda. Pria iu tersenyum manis, tapi ada satu hal yang tidak di ketahui bahwa pria itu hanya memaksa untuk tersenyum tanpa ada niat sedikitpun.

“ Kau ingin makan ? “

“ Tidak “

Gadis itu menghela nafas ingin beranjak pergi tapi tangannya di tahan oleh pria lemah itu.

“ Aku ingin kau tetap disini “

Gadis itu luluh melihat ekspresi muram dari pria di hadapannya. Ia kembali duduk sambil menatap kosong kedepan.

1 menit

2 menit

30 menit

1 jam 17 menit

Semua waktu itu hanya di habiskan dengan kesunyian tanpa ada kumunikasi. Tak ada yangtahu perasaan mereka satu sama lain. Sejak kejadian 10 bulan lalu membuat mereka harus terus membohongi diri mereka sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi waktu tetap waktu yang akan terus berjalan ke depan, jika mereka dapat memutarnya berbalik arah itu adalah satu harapan mereka yang selalu mereka nantikan.

Gadis itu tersiksa melihat orang terkasihnya harus duduk di atas kursi yang beroda selama berbulan-bulan atau mungkin bahkan menjadi bertahun-tahun. Di sisi lain pria itu tampak lebih tersakiti untuk harus menerima kenyataan bahwa gadis yang ia cintai harus berpura-pura bahagia, tak pernah ada canda tawa lagi dari gadis itu.

Semua ini salah siapa ? Bagaimana bisa kau menganggap bahwa dirimu benar sementara kenyataan yang ada hanyalah sebuah kepahitan dunia. Ya, mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang telah terjadi.

Sebuah kata cinta tak mampu membuat itu semua menjadi baik bahkan pengucapan kata cinta itu sudah terhenti beberapa bulan yang lalu. Mereka melewati setiap detik yang berjalan seperti orang asing dan hanya ada satu senyuman di setiap harinya.

Suzy memeriksa barang-barang di kantung plastik berwarna putih yanga ada di genggamannya, lengkap. Ia membuka pintu kaca Swalayan itu dan…

Seseorang telah menabrak dirinya membuat beberapa barang di kantung palstik itu berhamburan keluar. Suzy segera merapikan barang-barang itu kembali, dibantu dengan orang yang menabraknya tadi. Ia menoleh, menatap nanar orang yang dihadapannya itu kemudian segera pergi.

“ Suzy-ah “

Suzy menghentikan langkahnya, tubuhnya bergetar, suara lembut itu memanggil namanya. Suara yang yang sangat ia benci dari seorang gadis bernama Park Jiyeon.

Gadis yang bernama Park Jiyeon itu mendekati Suzy. Suzy berbalik menghadap Jiyeon tapi wajahnya menunduk tak berani memandang Jiyeon.

“ Myungsoo, apa dia baik ? “

“ Ya “

Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Suzy. Jawaban itu sangat lemah terdengar, Suzy seperti enggan untuk berbicara dengan Jiyeon. Suzy berlalu meninggalkan Jiyeon yang hanya bisa menatap dirinya dalam kesedihan. Jiyeon tak tinggal diam, ia menarik Suzy masuk ke dalam mobilnya.

“ Aku dan Myungsoo.. tidak.. kau hanya salah paham “

“ Tak apa, aku tak menerima penjelasan lagi. Simpan saja itu semua “

“ Tapi kau membenciku, kumohon dengarkan aku “

Senyuman sinis mulai terlukis di wajah Suzy, ia hempaskan kasar kedua tangan Jiyeon yang memegang jemarinya.

“ Jika kau manusia kau tak seharusnya melakukan itu, karena kau tahu Myungsoo adalah suamiku “

Suzy tengah menangis memeluk sebuah foto. Televisi yang ada dihadapannya menyala, menayangkan sejumlah gambar anak laki-laki dan anak perempuan yang berusia 5 tahun sedang asik bermain.

Ia teringat oleh putranya yang bahkan belum di beri nama. Air matanya tak ingin berhenti terjatuh membuat dadanya semakin sesak.

Dari balik arah Myungsoo menatapnya dengan penuh penyesalan. Ia tahu rasa sakit yang kini singgah di hati Suzy karena itu sama sakitnya dengan perasaannya.

Apa yang bisa Myungsoo lakukan ? Hanyalah diam memandangi tak bergerak sedikitpun.

Tangisan Suzy semakin mengarah pada puncaknya. Tanpa sadar sebingkai foto ditangannya itu terjatuh. Suara pecahan kaca bingkai foto itupun ikut menghiasi tangisan kelu yang Suzy ciptakan.

“ Suzy-ah “

Suzy mendongakkan wajahnya yang terbalut cairan bening mengalir tanpa batas. Ia hampiri orang yang memanggil namanya. Menatap kejam Myungsoo.

“ Jangan menangis “

“ Jangan menangis kau bilang ? Semudah itu kah kau mengatakannya ? Tak tahu kah kau betapa lelahnya aku menahan air mata ini ? “

“ Maafkan aku “

“ HANYA ITU KAH ? Kau rela duduk di kursi roda bodoh ini demi untuk menyelamatkan wanita itu dari pada menyelamatkan putramu sendiri ? Huh ? “

Tubuh Suzy terjatuh ke lantai, tangannya terhempas di kedua kaki Myungsoo. Wajahnya jatuh kebawah, peluh merambat masuk membasahi kening Suzy. Jemarinya gemetar meremas lutut Myungsoo. Tangisannya hilang akal, tak tahu bahwa Suzy lelah menangis seperti itu.

Bibir Myungsoo terkunci kepedihan. Matanya bercahaya rasa bersalah tak tersembuhkan. Jemarinya membelai lembut rambut coklat Suzy kemudian menciumnya. Tangan kekarnya ia kalungkan pada pundak Suzy, tapi sedetik kemudian Suzy menepisnya.

Marah ? Tidak, Suzy hanya tidak ingin walau sejujurnya ia butuh ditenangkan dengan pelukan Myungsoo itu. Biarkan saja mereka seperti ini, mereka hanya menunggu waktu untuk menantikan jawaban atas semua masalah yang tumbuh.

Myungsoo membiarkan makan siangnya kesepian, tak sedikitpun ia menyentuhnya. Ia memperhatikan istrinya yang memakan makanannya tanpa ampun. Saat itu juga seseorang telah mengetuk pintu rumah mereka. Suzy membanting sumpitnya merasa kesal karena telah diganggu dari makan siangnya.

Ia membuka pintu, seketika ekpresinya berubah. Dengan cepat ia ingin menutup pintu rumahnya tapi tertahan. Seseorang di balik pintu itu meringis kesakitan karena tangannya sempat terjepit.

“ Kita harus bicara “

Wanita itu Jiyeon, ia mengambil pergelangan tangan Suzy dan membawa Suzy keluar. Setelah dua langkah Suzy melempar kasar tangan Jiyeon. Menghela nafas sebentar dan dengan indahnya tersenyum licik.

“ Bicara disini saja “

“ Kau tidak bisa seperti ini terus “

“ Siapa yang akan peduli ? “

Jiyeon diam mencoba menenangkan dirinya atas sikap Suzy yang sudah benar-benar terpasung oleh ketidaknyataan.

“ Aku dan Myungsoo tak… “

“ Kau dan Myungsoo itu sama saja. Kalian adalah manusia terburuk yang pernah kukenal “

“ Bae Suzy kau boleh menilaiku seperti itu tapi kau salah besar jika berpendapat bahwa Myungsoo adalah seperti yang kau fikirkan “

“ KENAPA KALIAN TAK MATI SAJA HUH ? “

Nada suara Suzy meninggi di batas normal bahkan Myungsoo yang didalam sana masih mampu menangkap getaran di setiap kata yang dilontarkan Suzy. Myungsoo menitikkan sedikit air matanya. Ia sedih karena Suzy berkata seperti itu. Suzy ingin dirinya mati, apakah itu benar yang diinginkan gadis terkasihnya ? Apakah Suzy sangat membenci dirinya ?

Keesokan harinya Suzy tampak berbeda tidak seperti di hari-hari biasanya yang selalu bersikap acuh pada Myungsoo. Dia tampak sedikit lebih lembut terhadap Myungsoo. Menyiapkan sarapan untuk Myungsoo, mencandai Myungsoo dengan leluconnya bahkan sampai membawa Myungsoo berjalan-jalan.

Bisa di bilang itu adalah hari terindah bagi Myungsoo yang memang sudah sangat lama merindukan Suzy yang lembut.

Suzy berlutut merapikan rambut Myungsoo, ia tersenyum manis sambil melihat Myungsoo yang juga menyunggingkan sedikit garis dibibirnya. Tangannya kemudian beralih menyentuh jemari Myungsoo yang kedinginan.

“ Kita berpisah saja “

Kalimat Suzy itu membuat Myungsoo amat sangat terkejut. Garis senyum dibibirnya itu menghilang digantikan oleh raut wajah sedih yang khawatir. Jari-jari tangannya yang tadi hangat karena genggaman Suzy kini berubah kaku membeku.

Suzy menggerakkan kakinya untuk berdiri. Ia mengelus rambut Myungsoo lagi, mendekatkan wajahnya pada rambut Myungsoo dan memberikan sebuah ciuman yang mungkin bisa dikatakan bahwa itu adalah ciuman perpisahan.

“ Maafkan aku, tapi sudah hampir setahun pernikahan kita dan aku masih belum bisa untuk mempercayaimu. Pergilah bersama gadis yang bisa mengerti perasanmu lebih dari diriku “

Untuk yang terakhir kalinya Suzy mendorong kursi roda Myungsoo dan mengantarkannya pulang.

Otak Myungsoo mati, dadanya sesak, bibirnya bergetar kelu membuat kepulan asap dingin keluar dari helaan nafasnya. Myungsoo benar-benar tak berdaya karena disaat terakhir seperti ini ia tak sanggup melontarkan satu katapun dari bibirnya, ia tak punya kekuatan untuk menahan Suzy dan memperbaiki semuanya..

Suzy masih berbaring di tempat tidurnya padahal waktu sudah menulis angka 10 pagi. Ia terus memandangi sisa tempat tidurnya yang dulu ada seseorang yang menempatinya. 3 minggu sudah ia beraktivitas seorang diri. Suzy, ia tahu bahwa ia sangat menyesal.

Sendirian di ruangan ini tak seperti biasanya. Cerita yang Suzy buat dengan Myungsoo menjadi sia-sia, Hubungan mereka hancur dengan mudahnya Hanya satu kesalahan yang mendapatkan sebuah penyesalan. Walau Myungsoo mencoba mengatakannya, luka yang membalut hati Suzy takkan sembuh dengan mudah.

Waktu yang Suzy lalui sendiri terasa begitu lambat tanpa Myungsoo. Suzy sadar bahwa ini hukuman yang terasa berat baginya. Terakhir kali ia mengucapkan kata itu, dan sampai sekarang masih terngiang membuat hatinya semakin sakit bila mengingat.

Meski aku egois itu karena aku mencintaimu !! Batin Suzy.

_

_

Suzy menyisir rambutnya. Memakai jaket coklat hijaunya dengan rapi kemudian dengan gesit meninggalkan rumahnya sendiri. Ia tiba di sebuah rumah, ya rumah Myungsoo, Dia rindu dengan pria itu.

Seseorang wanita  kira-kira dengan usia 31 tahun membukakan pintu untuk Suzy. Matanya memandang Suzy heran kemudian tersenyum. Suzy membungkukkan badannya lalu bertanya dimana Myungsoo.

“ Myungsoo tidak ada. Dia berada di luar negeri sekarang sejak 2 minggu yang lalu “

“ Dia sendiri ? “

“ Tidak, dia bersama Jiyeon “

Kedua pernyataan itu semakin membuat Suzy menyesal melepaskan Myungsoo. Ia sangat merindukan Myungsoo, ia lepas ketakutannya untuk bertemu dengan Myungsoo hanya sekedar untuk bisa melihat wajah Myungsoo. Tapi ia terlambat, Myungsoo sekarang berada sangat jauh darinya.

Suzy meneteskan air matanya perlahan. Jika Suzy bisa melintasi waktu dan angkasa, Suzy ingin menjumpai Myungsoo. Jika saja Suzy tidak memutuskan sesuatu secara sepihak mungkin ia takkan menyesal seperti sekarang.

Suzy berharap bisa menemukan mesin waktu, agar dia bisa bertemu dengan Myungsoo kembali. Suzy tak meminta apapun, sebelum semuanya terlupakan dan hanya menjadi sekilas memory tak terpandang, ia hanya ingin dapat melihat senyum Myungsoo.

***

“ Kau akan pulang besok ? “

Seorang pria mengedarkan pandangannya ke arah orang yang memakai jas putih dan kacamata. Pria itu mengangguk kemudian meluruskan lagi pandangannya.

“ Aku merindukan seseorang disana “

Pria itu memejamkan matanya, mengepalkan tangannya dan menaruhnya di dadanya.

Bagaimana kabarmu ?

Sebuah toko pakaian anak kecil kini berdiri di pusat kota Daegu. Sebuah bangunan yang cukup sukses karena produk yang mendukung berkualitas baik tanpa menyinggahkan alasan mengeluh karena penetapan atas harga. Toko itu di pegang oleh seorang wanita berusia 28 tahun yang bernama Bae Suzy.

Tak jarang Suzy memberi diskon yang besar untuk para tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tokonya. Ia tak peduli jika ia akan rugi nantinya, ia hanya ingin banyak anak-anak yang menyukai pakaian di tokonya.

Seorang anak laki-laki datang menghampiri Suzy yang sedang sibuk melayani pelanggan lain. Anak laki-laki itu memegang sehelai kaos berwarna oranye yang lucu.

Suzy merendahkan tubuhnya setara dengan anak laki-laki itu.

“ Kau suka dengan baju ini ? “

Anak kecil itu dengan semangat mengangguk bahagia.

“ Kau bisa memilikinya, karena ini adalah hadiah untukmu “

“ Benarkah ? Terima kasih nunna “

Anak kecil itu kemudian mengecup pipi lembut Suzy membuat Suzy tersenyum geli bukan karena ciumannya tapi karena panggilan kakak yang ditujukkan padanya.

“ Siapa namamu ? “

“ Heungsoo-ah “

Panggilan itu membuat anak kecil yang bersama Suzy menoleh kebelakang. Ia berlari kearah wanita yang memanggil namanya.

“ Eomma “

Suzy mendongakkan kepalanya sembari berdiri.Ia terkejut melihat dua orang yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Kedua orang itu menghampiri Suzy tapi Suzy malah memundurkan satu langkah kakinya.

“ Suzy-ah “

Suzy tahu betul suara itu. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. – Myungsoo – dia yang menyebut nama Suzy tadi. Ia yang berdiri di hadapan Suzy bersama dengan Jiyeon disamping kirinya. Ia yang 5 tahun menghilang dari hadapan Suzy dan kini kembali terlihat oleh bola mata Suzy.

Myungsoo tak lagi berdiri bersama kursi roda yang sangat setia membantunya kemanapun. Myungsoo berdiri dengan kedua kakinya yang sudah mampu menopang tubuhnya. Butuh 5 tahun bagi Myungsoo untuk dapat berjalan seperti sejak pertama kali ia bsa berjalan, meski saat ini kedua kakinya belum sepenuhnya sembuh total.

Dalam hati hasrat Suzy ingin memeluk Myungsoo, tapi ia tak bisa. Jiyeon mendekati dirinya kemudian menenggelamkan tubuh Suzy pada pelukan Jiyeon.

“ Aku ingin kau mendengar sebuah kenyataan “

“ Tak perlu “

“ Dengarkan dulu… Jangan pernah berfikir bahwa Heungsoo adalah anak Myungsoo. Aku dan dia tak ada hubungan apa-pun. Kau adalah adikku, tak mungkin jika aku mengkhianatimu. Kejadian itu aku benar-benar minta maaf karena saat itu aku dan Myungsoo sedang hilang kesadaran. Tapi kau harus tahu bahwa Heungsoo bukanlah putra Myungsoo… Maafkan aku, telah memisahkanmu pada putramu “

Suzy menatap Myungsoo yang masih berada di hadapannya sambil mendekap Heungsoo dengan tangan kirinya. Jiyeon melepaskan pelukannya. Kemudian digantikan oleh Myungsoo yang mulai mendekati Suzy.

“ Aku merindukanmu. Kau percaya padaku ? “

***

“ YAA KIM MYUNGSOO “

Suzy berteriak sambil mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Ia tertinggal jauh oleh Myungsoo yang memang sengaja mengayuh lebih cepat agar Suzy tak bisa menggapainya.

Karena terlalu bersemangat mengayuh, Suzy sampai tidak memperhatikan jalan yang ia lalui. Ban sepedanya menabrak batu yang cukup besar membuat Suzy terjatuh dari sepedanya.

Myungsoo yang menyadari tak ada lagi teriakan-teriakan Suzy, mengerem sepedanya mendadak. Ia balikkan tubuhnya. Panik, ia panik melihat Suzy terjatuh dari sepeda dan tak sadarkan diri. Myungsoo segera menjatuhkan sepedanya dan berlari menghampiri Suzy.

“ Suzy-ah… Suzy-ah… Buka matamu.. Bae Suzy “

Myungsoo terus berteriak histeris menggoyang-goyangkan bahu Suzy. Ia tampak khawatir terlebih Suzy tak merespon panggilannya.

_

_

Tiba-tiba Suzy membuka matanya dan tertawa lepas. Ia memasang muka ejekan dan melemparkannya pada Myungsoo. Myungsoo yang merasa kesal karena berhasil di tipu oleh Suzy, merangkul leher Suzy kemudian memeluknya dari belekang. Mereka tertawa bersama.

 

FIN

Halo apa kabar readers ? Auhtor mau kasih FF penghibur aja nih buat kalian.. Author bingung mau gimanain end-nya, jadi maafin ya kalau kurang ng’feel… Terserah deh kalian mau coment atau nggak Author gak maksa kok, kalian udah mau baca aja Auhtor udah terima kasih…
Dan satu lagi Author benar-benar berharap kalau Myungzy itu real ^^

FF Oneshoot [MyungYeol Couple] | A Memorable Regret

Light Abstract (74)

 

Title            : A Memorable Regret

Author        : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast            

– Kim Myungsoo

– Lee Sungyeol

Other

– Kevin Woo

Genre          : Sad, Shoujo-ai (No YAOI)

Lenght         : Oneshoot

Rating          : PG 16

 

Cast Lee Sungyeol adalah milik Kim Myungsoo dan Cast Kim Myungsoo adalah milik Author

Author bawa FF Khusus MYS…

Happy Reading

 

 

Seorang pria tampan kini tengah duduk berdua dengan seorang pria yang cukup di kategorikan imut. Mereka adalah Kim Myungsoo dan Lee Sungjong  Duduk bersampingan dengan sangat mesra membuat siapapun yang melihat mereka akan iri kepada Sungjong karena bisa duduk mengobrol berdua dengan Myungsoo yang notabene pria paling populer dan pastinya sangat tampan.

Dari kejauhan tampak seorang pria manis bernama Lee Sungyeol sedang memperhatikan Myungsoo dan Sungjong dengan tatapan sendunya. Ia menundukkan kepalanya membalikkan tubuhnya bersandar pada dinding sekolahnya.

Dengan gontai ia berjalan keluar gerbang sekolah. Menatap hujan yang mulai terjatuh menimpa tubuhnya yang lemah. Ia mainkan jemarinya di bawah rimai air langit. Sejenak ia tak merasakan lagi hujan yang menghantam basah tubuhnya. Ia mendongakkan kepalanya, payung… seseorang sedang melindunginya dengan sebuah payung transparan.

“ Kevin-ah “ sahutnya lemah.                       

Orang yang memayunginya itu adalah Kevin teman sekelasnya. Kevin membuat sesimpul senyuman dan melemparkannya pada Sungyeol namun Sungyeol menerimanya dengan senyuman pasrah yang dipaksakan.

“ Jangan bersedih, semua bukan salahmu ataupun salahnya. Semua ini terjadi karena roda yang berputar “ ujar Kevin mencoba memberi semangat pada Sungyeol yang di lihatnya sedang tak baik-baik saja.

Sungyeol mengangguk pelan mencoba tersenyum seikhlasnya.

∞     

  “ Myungsoo-ah “

Sungyeol menghampiri Myungsoo yang sedang duduk mematung seorang diri di kantin sekolah, padahal siswa-siswa yang lain sedang mengantri untuk mendapatkan makan siang mereka tapi Myungsoo.. Ia hanya duduk diam memperhatikan siswa-siswa yang lain.

Myungsoo tak menghiraukan Sungyeol, ia tetap diam tanpa mengalihkan pandangannya dan tak berniat sedikitpun untuk melihat Sungyeol yang kini sudah berada tepat di hadapan Myungsoo.

Panggilan-panggilan Sungyeol sama sekali tak tertangkap oleh telinga Myungsoo lebih tepatnya sengaja tak menggubris.

Kali ini Sungyeol tak merubah posisinya ia justru berdiri semakin dekat di hadapan Myungsoo dan itu membuat Myungsoo risih akan tingkahnya.

“ Yaa, apa yang kau lakukan ? Aku sudah menyuruhmu jangan pernah menggangguku lagi. “

Sungyeol diam menatap Myungsoo yang mulai pergi meninggalkannya. Myungsoo membenci dirinya… Myungsoo benar-benar membencinya… Ini bukan Myungsoo yang dulu yang pernah Sungyeol kenal, Myungsoo yang ini berbeda karena kesalahan yang Sungyeol buat tanpa izin dari Myungsoo.

Beberapa siswa yang melihat Myungsoo marah meninggalkan Sungyeol segera mengeluarkan ejekan kepahitan dari bibir manis mereka. Karena Sungyeol Myungsoo menjadi arogant, karena Sungyeol pula Myungsoo tak ingin lagi bersosialisasi dengan siswa lain kecuali Sungjong.

Sungyeol yang tak tahan akan hal itu menghampiri beberapa siswa itu dan tanpa perintah langsung memberi hadiah berupa sebuah pukulan yang cukup keras yang mampu membuat bibir siswa itu mengalirkan darah perlahan.

Semua siswa terkejut, bagaimana tidak Sungyeol yang di kenal sangat baik dan sangat membenci perkelahian kini dengan mudahnya memukul salah satu siswa dengan ganas.

Ternyata bukan hanya Myungsoo yang berubah, Sungyeol pun kehilangan dirinya yang dulu selalu ceria, senang berbagi, bercanda tawa bahkan sampai mengerjai siswa-siswa di Gyeongsan Sciense High School dan sekarang hanya ada Lee Sungyeol yang selalu murung, putus asa, dan lebih senang menyendiri.

Lagi-lagi Sungyeol harus melihat pemandangan yang menyakitkan. Myungsoo sedang menggenggam erat jemari tangan Sungjong. Sesekali merapikan rambut depan Sungjong, merangkul bahu ke kecil Sungjong, mengacak rambut hitam berkilau milik Sungjong.

Mereka berdua – Myungsoo dan Sungjong – berlalu melewati Sungyeol yang merasa seluruh tubuhnya seperti di sengat listrik, Fikiran yang berterbangan tak tentu arah, tatapan kosong menggelayuti perihnya hati Sungyeol saat itu.

Padahal matahari di atas sana dengan mudahnya sedang bersinar cerah tapi mengapa Sungyeol tak bisa melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Dia merindukan Myungsoo, merindukan sentuhan tangan Myungsoo yang selalu memeluknya dengan lembut.

Hanya Myungsoo yang bisa membuat Sungyeol tersenyum karena pada kenyataannya saat Myungsoo tak lagi ada di sampingnya, ia tak lagi memiliki seutas tali senyum pada dirinya bahkan Kevin yang selalu ada untuknya yang tak kalah terpujanya dengan Myungsoo tak mampu membuat Sungyeol menyungginggankan sedikit bibir pinknya.

Walau begitu Kevin tak menyerah, sekeras apa Sungyeol acuh pada dirinya Kevin tak pernah takut untuk terus berusaha mengembalikan raga Sungyeol.

Kevin melihatnya, semua yang terjadi pada Sungyeol Kevin melihatnya. Saat Sungyeol menangis, terkulai lemas bahkan sampai kehancuran hati Sungyeol saat melihat Myungsoo dan Sungjong, Kevin melihat itu semua.

Sungyeol menopang ranselnya, berjalan di bawah dinginnya udara kota Gyeongsan. Menapaki kakinya yang di seret lemas di atas lantai jalanan yang terbalut daun-daun kering. Menundukkan kepalanya dan sesekali menghela nafas panjang.

Tak ada banyak orang berkeliaran di luar sana, tampaknya udara yang terlampau dingin membuat semangat sebagian warga Gyeongsan enggan menginjakkan kaki di jalanan dan lebih memilih terkurung di rumah atau kantor tempat mereka bekerja.

Sungyeol mendengar langkah kaki seseorang di balik punggungnya. Ia berhenti dan orang itu melesat melewati Sungyeol. Mata Sungyeol terperanjat kepada orang yang baru saja melalui dirinya. Ia berlari mendapatkan orang itu dan mengambil lengan kekar milik orang itu.

“ Myungsoo-ah “

Dia Myungsoo, pria dingin yang telah di lukai hatinya oleh Sungyeol. Dengan gesit Myungsoo menghempaskan genggaman Sungyeol, memberi isyarat kepada Sungyeol untuk menjauh darinya. Tapi bukan Sungyeol namanya jika akan menyerah untuk mendekati Myungsoo dan mendapatkan hatinya kembali.

“ Ku mohon jangan membenciku “ lirih Sungyeol.

Myungsoo tersenyum kematian dengan sinis, menatap lekat bola mata Sungyeol yang terjaga sketsa-sketsa air kaca.

“ Kau yang membuatku membencimu “ pekik Myungsoo datar.

Ia berbalik meninggalkan Sungyeol yang nyaris saja mengizinkan permata-permata yang tersimpan di matanya bermain riang di wajahnya.

Dua hari sudah Myungsoo tak pernah mendapati Sungyeol menganggu dirinya lagi, Sungyeol bahkan tak pernah terlihat lagi di mana-mana. Dua hari itu semua siswa di kelas tak lagi mengacau bermain, semua diam membungkam mulutnya begitu juga dengan Kevin dan Sungjong.

Di ujung sana terdapat sebuah kursi kosong yang tak lagi di tempati oleh pemiliknya, Sungyeol. Awalnya Myungsoo merasa perubahan itu biasa saja dan masalah Sungyeol tak lagi terlihat, ia berfikiran  mungkin Sungyeol sedang sakit.

Tapi apa hubungannya dengan semua siswa yang mengunci bibir mereka dengan tidak adanya kehadiran Sungyeol ?

Jam istirahat Myungsoo menghampiri Kevin yang berada di halaman sekolah seorang diri. Ia ingin bertanya sesuatu pada Kevin yang raut wajahnya melukis kesedihan.

“ Kevin hyung “ panggil Myungsoo membuat Kevin menolehkan wajahnya ke arah orang yang menyebut namanya.

“ Apa yang terjadi ? Kenapa akhir-akhir ini kalian tak saling berbincang dan kenapa Sungyeol tak masuk sekolah ? “ tanya Myungsoo yang sejujurnya penasaran dengan Sungyeol.

Kevin diam, pandangannya melihat lantai di bawahnya. Myungsoo kesal berulang kali ia memaksa Kevin untuk berbicara dan sepertinya sangat susah bagi Kevin untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Myungsoo.

“ HYUNG “ nada Myungsoo sedikit meninggi.

“ Sungyeol… dia… dia sudah meninggalkan dunia ini “ gumam Kevin.

 Myungsoo tercengang, apa yang ia dengar ini sungguh tak bisa di terimanya dengan jernih. Ia menatap Kevin parau yang juga menatap dirinya dengan sendu.

“ Dua hari yang lalu ia mendapat sebuah kecelakan sepulang sekolah. Waktu itu aku melihatnya menangis tapi aku tak bisa menolongnya dari hal buruk yang menimpanya itu “

Myungsoo hanya diam membuat langit tiba-tiba saja berubah gelap.

“ Kau tahu Myungsoo, Sungyeol tak pernah berniat menyakitimu. Kau tak tahu betapa hancurnya dia saat terpaksa harus meninggalkanmu, kau tak tahu betapa sakit hatinya terluka saat melihatmu bersama Sungjong. Semua ini ia lakukan untuk Sungjong yang ternyata juga menyukaimu, kau tahu betapa dia sangat menyayangi Sungjong, adiknya “

Myungsoo terjatuh di lantai mendengar semua penjelasan dari Kevin. Kini yang tertinggal hanya penyesalan, rasa marah pada diri sendiri. Sungyeol orang yang ia anggap telah mengkhianatinya ternyata itu hanyalah fikiran pembodohan..

Menyesal.. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Myungsoo. Kehancuran hatinya saat ini sama besarnya dengan terlukanya hati Sungyeol saat Myungsoo membenci dirinya.

Tak bisa mengobati luka Sungyeol adalah kesalahan terbesar untuk Myungsoo. Kini tak ada yang bisa di lakukan selain menyesali kepergian Sungyeol, menatap hampa senyuman Sungyeol yang dulu.

Tak jauh sekitar 3m dari keberadaan Kevin dan Myungsoo, Sungjong berdiri kaku mendengar pembicaraan mereka, Dia menangis….

 

END

 

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Remember Love For Me

Cover-ff-remember-loveforme

Title        : Remember Love For Me

Author    : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Other cast

– Lee Byung Hun (L.Joe)

Genre        : Sad, Drama

Lenght       : Oneshoot

Rating        : T      

Author Note           : Insiprasi FF ini Dari MV Kim Sunggyu – 60s. FF dan ide cerita FF ini murni milik Author, dan cast Kim Myungsoo aka L hanya milik Author seorang, bukan milik WoolimEnt, Inspirit, Elements, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

 

–Happy Reading–

Butuh kekuatan super bagiku meninggalkanmu, mungkin juga aku butuh ilmu sihir untuk terus mencintaimu. Semua takkan mudah bagiku. Hanya memberikan alasanpun aku tak sanggup melakukannya. Hatiku terluka, sangat terluka lebih dari yang kau fikirkan.

Sekarang, dan untuk selamanya aku duduk di cafe ini seorang diri. Takkan ada lagi seorang pria tampan bermata elang dan senyuman kematiannya yang akan duduk tepat di hadapanku. Memberikan candaan yang selalu berhasil membuatku tersenyum.

Aku Bae Suzy seorang gadis yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati Kim Myungsoo, pria dingin dengan tatapan pembunuhnya kini dengan bodohnya melepaskan Kim Myungsoo tanpa sebuah alasan.

Aku berjalan menapaki daun-daun kering yang menjatuhkan diri mereka dari pohon. Bertemankan angin malam yang membeku aku berdiri di pinggir jalan menatap sekeliling orang yang berlalu-lalang di hadapanku menginjakkan kaki mereka di zebra cross.

Seseorang di seberang sana berdiri kaku dengan tatapan kesedihannya. Tak berhenti menatapku dengan kehancuran yang ku lukis di hatinya. Membuang semua cinta yang tumbuh dengan indah dan dengan mudahnya kuhancurkan dengan satu kata.

Maafkan aku !!

Mungkin aku egois, menghancurkan secara sepihak tanpa memikirkan perasaanmu. Tapi aku lebih bahagia kau menikah dengannya, dengan seseorang yang membutuhkan cintamu lebih dari diriku.

∞            

 “ Kau baik-baik saja ? “

Seseorang bertanya padaku. Dia adalah Lee Byunghun. Sahabat baikku sekaligus saudara tiriku karena Ayahku menikah dengan Ibunya. Sahabat yang selalu menemaniku sejak sebelum ia menjadi keluargaku.

“ Tentu saja “ jawabku tersenyum sekaligus berbohong mencoba untuk terlihat bahagia didepannya mengganggap seolah-olah tak terjadi apapun.

“ Kau akan datang ? “

Aku mengangguk, tentu saja aku akan datang di hari pernikahan orang yang kucintai. Itu sangat mudah untuk kulakukan lebih mudah dari pada berjanji selalu mencintainya.

 “ Bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman ? “ ajak Byunghun.

Mungkin aku bisa menerima tawarannya sekaligus melepas kegundahan yang sejak kemarin menyelimuti otakku. Aku dan Byunghun pergi ketaman untuk sekedar bermain-main.

“ Tunggu disini jangan kemana-mana “ ujar Byunghun.           

Dia meninggalkanku sendiri, entah dia akan kemana yang jelas aku hanya bisa mengikuti nasihatnya untuk menunggu disini sampai dia datang. Aku menatap punggung Byunghun yang sudah semakin menjauh, menyandarkan tubuhku yang cukup lelah.

Tak lama Byunghun datang dan memyodorkan ice cream coklat kepadaku. Aku pun tanpa berfikir lagi langsung mengambil ice cream coklat itu. Menyeruputnya sedikit demi sedikit.

“ Euumm sangat lezat “ ucapku yang masih memakan ice cream.

Aku dan Byunghun menikmati ice cream masing-masing dan tak jarang kami saling bertukar santap, Byunghun bahkan berkali-kali menyuapi ku dengan ice cream cappucinonya. Ya begitulah kami bersikap layaknya pasangan kekasih bahkan itu sudah sejak kami berumur 7 tahun.

Bisa di bilang kami adalah sahabat sejati yang akhirnya di persatukan oleh ikatan persaudaraan. Aku sungguh beruntung bisa memiliknya, sahabat yang akan selalu memberikan semua semangatnya untukku. Jika muncul pertanyaan siapa yang lebih tua dari kami ? sudah jelas Byunghun akan menjawabnya dengan antusias bahwa dia satu tahun lebih tua dariku..

Kini langit sudah mengecat dirinya berwarna oranye, sangat indah. Aku dan Byunghun bergegas untuk pulang. Saat kami melawati sebuah cafe klasik yang terletak tak jauh dari taman, aku tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat aku kenal dari luar cafe.

Jung Eunji gadis yang akan menjadi pasangan hidup Myungsoo kini tengah duduk dihadapan Myungsoo. Mereka bercanda ria Myungsoo bahkan terlihat selalu tersenyum menikmati kebersamaan mereka berdua.

Apa Myungsoo bahagia ?

Dia bahagia bersama Eunji ?

Jika benar, itu akan menjadi kabar baik dan buruk untukku. Aku mencoba untuk tak menangis, aku sudah bisa mengontrol diriku untuk takkan pernah menangis dengan semua tindakan yang kupilih.

 Tanpa sadar Byunghun menolehkan wajahku yang masih asik memperhatikan Eunji dan Myungsoo. Aku menatap Byunghun dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

“ Jangan dilihat “ ucap Byunghun.

Aku menundukkan kepalaku mungkin Byunghun benar, aku tak perlu terus memperhatikan mereka. Aku tak ada hubungan lagi dengan mereka. Dan tak terduga olehku saat aku ingin kembali melihat mereka, Myungsoo kini berada tepat disampingku. Dia hanya menatapku tanpa lagi memberikan senyuman kepadaku seperti saat aku dan dirinya masih bersama.

Dan saat ini aku benar-benar tak bisa mengurung cairan bening itu terus bersandar di mataku. Aku menumpahkan semuanya, membiarkan mereka keluar dengan riangnya.

Jari-jari Myungsoo dengan lembutnya menyentuh wajahku, menghapus air yang bercucuran di pipiku. Tak ada senyuman sedikitpun darinya membuatku semakin ingin menangis.

Aku menghempaskan tangannya yang masih mencoba menghapus air mataku. Kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan Byunghun yang masih terdiam kaku.

∞            

Duduk di kasur tempat tidurku saat malam hari sembari memainkan ponsel mungkin adalah kegiatan baru untukku. Aku memang belum bisa melupakan Myungsoo bahkan aku masih menaruh rapi frame foto kami berdua di meja tempat tidurku.

Ku letakkan ponselku dia atas tempat tidur meninggalkannya sendiri sedangkan aku pergi ke kamar Byunghun untuk sekedar mengobrol dengan dirinya.

_

_

Aku kembali ke kamarku untuk istirahat tapi sebelum itu aku sempat mengecek ponselku dan ada sebuah pesan baru dari Myungsoo.

–Temui aku di laut sekarang !!–

Untuk apa dia ingin bertemu dengan ku ? Entahlah apa yang difikirkannya saat ini. Selang beberapa detik ponselku bergetar sebuah pesan baru lagi dari Myungsoo.

–Aku akan tetap disini sampai kau datang.–

Oh Tuhan.. pesan pertamanya itu sudah satu jam yang lalu dan kini dia masih menungguku. Segera ku kenakan jaket putih yang ku gantung di lemari pakaianku. Berlari secepat mungkin agar Myungsoo tak terlalu lama menunggu. Langkah ku terhenti di pinggir jalan memastikan tak ada kendaraan yang melintas agar aku bisa menyeberangi jalan dengan selamat.

Ku lihat seseorang sedang duduk di tengah tarian ombak laut di malam hari. Dia pasti Myungsoo, aku melangkahkan kaki menghampirinya duduk tepat disampingnya.

Hening

_

Myungsoo tetap diam begitupun dengan diriku. Apa yang harus aku katakan, melihat wajahnya saja aku tak mempunyai keberanian. Sungguh ironis memang, semua tindakan yang ku pilih mampu merubah kepribadian Myungsoo yang selalu ceria menampakkan senyuman indahnya namun sekarang hanya ada ekpsresi datar dan dingin yang terlihat.

“ Kau baik ? Kau tidur dengan baik akhir-akhir ini ? “ tanyanya memecah keheningan.

“ Eumm “ aku mengangguk pelan dengan sedikit senyuman “ Kau baik ? “ lanjutku bertanya padanya.

“ Tidak sebaik yang kau harapkan “

Mendengar jawabannya kini aku mengerti. Aku mngerti perasaannya sama dengan yang saat ini aku alami. Haruskah aku menyakitinya seperti ini ? Jangan katakan apapun karena aku takkan sanggup mendengarnya.

“ Aku ingin merayakan perpisahan kita disini “ ujar Myungsoo membuatku terkejut.

“ Myungsoo-ah “

“ Yaa Bae Suzy… bukankah ini yang kau mau ? Berpisah dengan ku itu kan yang kau mau ? Aku akan mengabulkannya, mari kita mengakhirinya disini “

Suaranya sendu namun sangat tegas. Benar, memang benar aku yang menginginkan hubungan ini berakhir. Bukankah ini sangat bagus sesuai rencanaku. Tapi aku benar-benar tak bisa berbohong lagi, aku benar-benar… Tak bisa, tak bisa di jelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum.

Aku menatapnya dan kulihat pergelangan tangannya. Gelang itu ? Myungsoo masih mengenakannya. Ini buruk sangat buruk.

“ Tentu saja “ balasku

Myungsoo mendongakkan kepalanya ke arahku. Tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan mata elang yang kini tengah melihatku, bukan juga bibir manis dari Kim Myungsoo yang kini tengah tersenyum untukku. Semuanya.. semuanya tatapan dan senyuman kebencian.

∞            

Akhirnya hari ini tiba, hari dimana aku tak bisa mnegharapkan Kim Myungsoo untuk selamanya. Hari yang akan mengubah hidupku mulai detik ini. Aku mengenakan dress putih selutut berlengan pendek, gaun yang sangat manis. Sengaja aku tak memakai higheels karena aku lebih nyaman mengenakan sepatu sport berwarna putih kesayanganku.

Byunghun dengan senang hati mengantarkanku ke pernikahan Kim Myungsoo dan Jung Eunji.

Pernikahan ?

Kim Myungsoo dan Jung Eunji.

_

_

Aku memasuki altar tempat pernikahan Myungsoo dan Eunji. Semua orang sudah berkumpul disana, duduk diposisi mereka masing-masing dan aku ikut mengambil bagian dan duduk di kursi yang masih kosong tepat di belakang mereka menyaksikan dimulainya acara pengikatan dua insan.

Kim Myungsoo terlihat sangat tampan dengan jas pengantinnya, benar-benar elegan dan menambah nilai plus akan ketampanannya. Jung Eunji pun tak kalah gaun pengantinnya memperlihatkan kecantikan yang lebih darinya, sangat serasi dengan ketampanan Kim Myungsoo. Dengan lembut langkahnya berjalan menghampiri Myungsoo yang mungkin sudah menunggu dirinya.

Acara pengikatanpun telah tiba. Haruskah aku berada disini menyaksikan Kim Myungsoo orang yang masih aku cintai bertukar cincin dengan seorang gadis yang aku putuskan akan menjadi pasangan hidupnya.

Tidak… aku rasa aku tidak akan melakukan itu. Aku terlalu sakit, ya sangat sakit karena tindakan bodohku. Aku beranjak dari posisiku melangkahkan kaki dari altar pernikahan. Terus berjalan mengikuti langkahku yang tak tentu arah.

Akhirnya aku memutuskan pergi ke taman, mungkin disana aku bisa lebih tenang.

_

Dan aku salah bukan tenang yang aku dapatkan tapi sakit yang teramat terus saja menghajar batinku.

Menangis.. hanya itu yang bisa ku lakukan. Menangis dalam kehancuran yang kuciptakan sendiri, menyesal dalam kepahitan yang ku taburkan di hatiku dan Myungsoo.

Air mataku tak henti-hentinya bermain di wajahku. Aku mencintai Myungsoo, sangat mencintainya dan aku benar-benar menyesal melepaskannya pergi.

_

Dan sebuah tangan kini sedang membasuh wajahku dengan lembut. Ia berlutut dihadapanku dengan senyuman yang selama ini aku rindukan.

“ Myungsoo “ lirihku.

Tapi kenapa Myungsoo bisa ada disini bukankah dia seharusnya sekarang sedang memasangkan cincin ke jari manis Eunji. Apa yang ia lakukan ? apa ia sudah gila ?

Dia mengahapus air mataku dan aku menggeleng-gelengkan kepalaku lemah sembari menjauhkan tangannya dari wajahku.

“ Ya aku sudah gila. Aku bodoh karena menuruti permintaanmu yang jelas-jelas kau tak tulus menginginkannya “ ujar Myungsoo seakan ia tahu isi hatiku.

“ Aku takkan menikah dengan siapapun karena aku hanya mencintaimu “ sambungnya.

Senyuman itu, senyuman asli dari Kim Myungsoo. Nyatakah ini semua, aku sedang tak bermimpi kan ?

Lagi, cairan bening mengalir dari mataku, aku menatapnya, dia masih sama hanya memberikan senyuman mematikannya.

Myungsoo menyelimuti tubuhku dengan pelukannya, erat namun lembut. Pelukan yang kurindukan kehangatannnya. Pelukan yang memberikan kesejukan dihatiku.

“ Berjanjilah akan tetap saling mencintai dan berhenti ketika kita benar-benar tak bisa melakukannya lagi “

END

 

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Because I Want To Know Your Heart

Coverff-becauseiwant-toknowyour-heart

Title           : Because I Want To Know Your Heart 

Author       : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre         : Sad, Hurt, Fluff

Lenght        : Oneshoot

Rating         : G

Author Note           : Ide cerita murni dari otak Author tapi sedikit terinspirasi dengan salah satu FF Kpopers. Cast Kim Myungsoo aka L juga milik Author, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

— Aku Mencintaimu —

Dua kata yang diberikan Myungsoo untukku saat salju mulai mengurung kota Seoul. Tapi sepertinya itu hanya permainan canda belaka seorang Kim Myungsoo.

Ia tak benar-benar serius mengatakan itu karena ia sama sekali tak memberikan perhatiannya padaku. Myungsoo bahkan saat ini sedang mencoba mendekati seorang gadis yang ia akui, ia menyukainya. Dan itu sudah jelas menjelaskan bahwa Myungsoo hanya bercanda dan kata itu bukan menunjuk ke arah dua insan melainkan hanya ungkapan rasa sayang kepada seorang teman.

Tapi sejak hari dia mengucapkan kata itu, takkan ada satu siswa pun yang mendapati aku dan Myungsoo bersama. Ya, sejak saat itu Myungsoo memisahkan dirinya dariku, kami tak pernah bermain bersama lagi bahkan untuk sekedar pulang bersama Myungsoo tak mau melakukannya lagi.

Ku lihat Myungsoo sedang membaca sebuah buku di kelas, pekerjaannya saat jam istirahat. Aku menghampirinya duduk miring di kursi depan mejanya. Pandangannya tak berpaling dari bukunya, tak menghiraukanku seperti aku tak terlihat olehnya.

“ Myungsoo-ah “

“ Eummm “

Dia hanya berdehem kecil, ada apa dengannya ? Hanya untuk menjawab panggilanku dia tak juga mau.

“ Kau tak pulang bersamaku lagi hari ini ? “

“ Maafkan aku, tapi aku akan pergi dengan Jiyeon “

Myungsoo menutup bukunya menatapku sedetik dengan sedikit senyuman kematiannya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku.

Lagi, untuk yang ke 27 kalinya ia beralasan membuat janji dengan Jiyeon agar bisa menghindar untuk tak pulang bersamaku. Ini sudah hampir satu bulan kami tak pernah bersama karena semua alasan-alasan yang sama dari Myungsoo.

Begitu besarkah cinta Myungsoo pada Jiyeon hingga bisa melupakan ku sebagai temannya.

Jujur saja aku mencintai Myungsoo, aku bahagia dia mengatakan itu padaku dan aku terluka karena dia menjauhiku. Aku kesapian berhari-hari tanpa dirinya. Menangis karena dia tak ingin lagi bersama ku untuk sekedar menjadi temanku.

Dia manis dan hangat tapi semua itu hanya dirinya yang dulu sebelum ia berubah menjadi dingin setelah melontarkan kalimat itu.

“ Myungsoo-ah “

Tak ada jawaban dari seseorang yang kupanggil itu. Sangat kejam.. Beginikah dia memperlakukanku setelah berhasil memecahkan hatiku. Orang yang selama ini aku kagumi, orang yang mengaku menyayangiku sebagai temannya, orang yang selalu ada sejak 2 tahun terakhir untukku, tapi kini orang itu sudah tiada. Tak ada lagi orang yang akan menatapku dengan tatapan pemubunuhnya atau tersenyum dengan senyuman mematikannya… Yang ada hanya seseorang yang tak pernah menganggapku ada karena seorang gadis yang baru saja ia kenal tak lebih dari 4 bulan.

Aku pergi menjauh darinya dengan kesedihan yang memuncak. Tak akan… Tak akan lagi aku memanggil namanya, berbicara padanya, tersenyum padanya, bahkan untuk sekedar menoleh kepadanya aku tak akan pernah mau lagi.

Untuk terakhir kalinya aku melihatnya sedang menatapku kosong dengan entah apa makna dibalik tatapan pengkhianatannya itu.

2 minggu setelahnya aku dan Myungsoo benar-benar seperti orang asing. Dia penulis naskahnya dan aku hanya mengikuti naskah yang ia buat. Bukankah seperti ini tampak baik untuknya, walau aku akui aku memang sangat-sangat terluka menjauhinya, kehilangan dirinya, dan tak pernah mendengar suara lembut miliknya.

Aku menapaki lorong sekolah menuju kelasku. Di ujung sana, tepat di depan pintu kelas sedang terdapat dua sosok tengah tertawa begitu indahnya. Aku ragu untuk terus melangkah ke depan, tapi tak ada kesempatan bagiku untuk melangkah mundur karena bebarapa guru sedang bearada di belakangku memarahi dan memberi hukuman kepada dua orang siswa yang telah melakukan kesalahan.

Berani ? Tentu saja, aku akan menganggap seolah-olah di depan sana tak ada siapapun hanya ada angin lewat yang mengganggu kulit lembutku. Saat sudah sampai pada puncaknya dan akan melangkahkan salah satu kakiku menginjak lantai kelas, tubuh pria yang bernama Kim Myungsoo itu menghalangi jaalanku.

Aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan amarah, berteriak padanya agar ia menyingkir dari hadapanku. Nihil… dia tuli atau pura-pura tak mendengarku ?

Aku benar-benar muak terperangkap di antara kedua insan ini yang telah berkali-kali melukai hatiku. Ku dorong dengan keras tubuh Myungsoo hingga punggungnya mencium daun pintu dengan keras yang bisa kau prediksi bahwa itu sangat sakit.

10 jam berlalu, jarum jam sudah menunjuk pukul 5 sore yang mengharuskan semua siswa harus meninggalkan sekolah. Aku mengabulkan permintaan itu dengan meninggalkan sekolah secepatnya.

“ Kau ingin pulang denganku ? “

Suara itu.. Suara lembut Myungsoo. Benarkah ini ? Dia mengajakku pulang bersamanya. Aku sangat senang, tak bisa terbayarkan betapa senangnya aku saat mendapati Myungsoo yang dulu.

“ A.. “

Aku tak sempat melanjutkan kalimatku setelah tak sengaja menangkap Jiyeon sedang berada di depan pintu kelas yang tampaknya sedang menunggu Myungsoo.

Apa Myungsoo mengajakku pulang bersamanya dan juga Jiyeon ? Semua kesenanganku kabur seketika setelah melintas beberapa fikiran-fikiran yang… enatahlah tak bisa di jelaskan.

“ Tak perlu, aku bisa pulang sendiri “ tukasku dengan nada sedikit meninggi.

Bukan rumah yang ku tuju setelah berhasil bebas dari gerbang sekolah, melainkan menginap beberapa jam di sebuah cafe kecil, cafe klasik yang tak terlalu besar namun masih tetap indah di pandang dengan mata normal. Memesan secangkir kopi dan sepotong kue kecil itu yang akan ku lakukan setelah berhasil mendapat tempat duduk dekat jendela.

2 jam sudah aku di cafe ini. Merasa bosan ? Tidak..Takkan ada seorangpun yang bosan jika berada di cafe ini bahkan meski hanya duduk berjam-jam lamanya tanpa membuka mulut sedetikpun. Aku mengusap wajahku menyandarkan tubuhku di kursi yang aku duduki, aku merasa enggan untuk pulang jadi aku bertahan sedikit lebih lama di cafe ini.

KLINGG….

Bunyi gemerling itu menandakan bahwa baru saja ada pelanggan yang datang memasuki cafe ini. Aku mengedarkan pandanganku yang semula menatap keluar jendela kini beralih melihat sosok pelanggan yang baru saja datang.

Tubuhku terkulai lemas di atas kursi setelah melihat sesuatu yang lagi-lagi mengikis permata ketabahanku di setiap detiknya.

Kim Myungsoo dan Park Jiyeon yang kini tengah duduk disalah satu meja tak jauh dari keberadaanku. Myungsoo mengambil makanan yang dipesannya, melayangkan makanan itu ke mulut mungil Jiyeon. Mengelap sisa makanan di bibir pink Jiyeon dengan ibu jarinya.

Aku rindu saat-saat itu, saat di mana aku dan Myungsoo makan bersama setelah pulang sekolah, saling bertukar sesuap makanan. Rindu saat Myungsoo memukul kepalaku, rindu saat Myungsoo tersenyum seperti yang ia berikan sekarang kepada gadis cantik dihadapannya.

Perih itu kembali menemani hatiku. Air mata yang bersorak ingin keluar tak mampu lagi terbelenggu. Aku berlari keluar cafe, terus berlari tanpa peduli kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang yang sewaktu-waktu akan menabrakku tanpa izin.

Aku terjatuh di pinggir jalan dengan air mata yang terus berjatuhan. Orang-orang sekitar yang melihatku hanya bisa memandang nanar keadaanku saat ini.

Menangis.. kenapa aku harus menangis ? Aku benci menangis seperti ini…

Kenapa aku harus lemah ? Kenapa aku terus-terusan terluka.

 Tak adakah satu kebahagian saja yang dengan senang hati mampir ke hatiku ?

Hangat… sebuah tangan mendekap tubuhku, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Kim Myungsoo kini sedang memelukku. Sekarang apa lagi ? permainan apa lagi yang akan di ciptakannya ?

Aku mendorong tubuhnya melepas pelukannya dengan kasar. Menatap dirinya dengan cairan bening yang tergerai lembut di wajahku. Dia menatapku dengan mata elangnya dan menghapus setiap tetes air mata dengan jemari tangannya.

“ Jangan menangis “ ujarnya lemah.

“ Pergilah, aku tak menyuruhmu berada di sini “

Sekali lagi dia memelukku. Pelukan dari Kim Myungsoo yang ku terima untuk pertama kalinya.

“ Maafkan aku membuatmu terluka terlalu lama tapi pada akhirnya aku mencintaimu “

Lagi Myungsoo mengucapkan kata itu lagi. Apakah kali ini sungguhan atau hanya sebuah lolucun baru lagi. Aku menghempaskan tubuhnya perlahan. Di wajah Myungsoo terlukis sketsa kabut kesedihan yang terkurung dalam penyesalan. Ku mohon jangan katakan padaku bahwa ini sebuah kepalsuan.

“ Tidak.. kau mencintai Jiyeon “

“ Kau salah. Waktu itu aku sungguh serius mengatakannya tapi kau tak meresponnya. Kau tak menerima atau menolaknya membuatku berfikir tak ada kesempatan untuk memilikimu… jadi aku mengujinya dengan cara seperti ini “

Isakan tangisku terhenti mendengar kalimat yang di lontarkannya. Myungsoo mencintaiku..

“ Permainan ini sudah berakhir dengan Aku Mencintaimu “

 Ku peluk tubuh Myungsoo dengan erat. Tak ingin melepaskannya walau hanya sedetik. Luka di hatiku dengan mudahnya terobati dengan pengakuan Myungsoo. Aku tak peduli dia membohongiku dan melukaiku selama ini yang aku pedulikan hanyalah mendapatkan kembali seorang Kim Myungsoo.

 Udara yang dingin dimalam hari menyelimuti pelukan kami yang di saksikan olah banyak orang yang melintas serta gelapnya langit kota Seoul yang tersenyum bahagia mewakili perasaanku.

END

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….