FF Oneshoot [Myungzy Couple] All Because Of You

coverff=allbecause

Title          : All Because Of You

Author      : Vinwi Lee

Cast                    

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre         : Angst

Lenght       : Oneshoot

Rating        : G

 

Myungsoo, pria itu memegang erat kedua lengan Suzy untuk membantu Suzy berjalan. Suzy tak bisa berdiri sempurna melangkah. Kakinya bergetar setiap kali mencoba menyentuh lantai.

Ia harus berpegangan pada sesuatu jika ingin bergerak. Dua buah tongkat sudah menjadi teman baiknya 2 bulan terakhir ini. Tapi Suzy selalu enggan untuk menyentuh kedua tongkat itu di karenakan ia malu dengan keadaannya.

Fisiknya yang cacat akibat kecelakaan kecil yang tidak di sengaja membuat Suzy tak ingin berbaur dengan teman-temannya, bahkan untuk sekedar beristirahat di beranda rumahnya Suzy tidak ingin.

Ia juga tak ingin pergi ke sekolah lantaran setiap kali pergi kesekolah ia hanya mendapat penghinaan. Teman-teman di sekolahnya menjauhi dirinya bukan hanya karena kaki Suzy yang tak bisa berjalan tapi juga karena Suzy adalah siswa yang jahat. Tapi Myungsoo berhasil meyakinkan Suzy untuk tetap pergi kesekolah.

Kini hanya Myungsoo dan sahabatnya yang dengan sepenuh hati ingin berteman dengan Suzy.

Suzy terjatuh setelah beberapa langkah. Perlahan ia mengeluarkan cairan bening dari matanya yang berakhir di bibir mungil merah mudahnya.

“ Kita coba lagi “

“ AKU TIDAK BISA “

“ Kau tak bisa karena belum mencoba “

“ Aku sudah mencobanya “

Air mata Suzy semakin deras mengalir. Ia memukul-mukul kakinya yang tak berdosa. Myungsoo tak tahu harus berbuat apa. Ia memeluk Suzy dari samping. Dalam hatinya tersimpan perasaan bersalah setiap kali mendapati Suzy menangis tak berdaya.

“ Sesuatu takkan bisa terlaksana hanya dengan sekali coba. Kau harus mencobanya setiap kali agar itu bisa berjalan sempurna “

Myungsoo menuntun Suzy berdiri tapi Suzy menolaknya, akhirnya Myungsoo menggendong Suzy dan menaruh tubuh suzy di sofa. Suzy menidurkan kepalanya di badan sofa kemudian perlahan memejamkan mata.

“ Kau belum bersiap-siap ? “

Sahut Myungsoo setelah membuka pintu kamar Suzy. Ia melihat Suzy hanya duduk termenung di tepi kasur tempat tidurnya padahal sejam yang lalu ia sudah menyuruh Suzy untuk memakai seragam sekolahnya.

Myungsoo berjalan ke meja rias dan mengambil sebuah sisir berwarna putih. Myungsoo mulai menyisiri rambut Suzy yang terlihat begitu berantakan. Suzy menghempaskan tangan Myungsoo dari rambut panjangnya membuat sisir putih itu terlepas dari genggaman Myungsoo.

“ Aku tak ingin sekolah “

Myungsoo tersenyum, membungkukkan sedikit tubuhnya untuk dapat menggapai sisir yang terbaring di lantai. Ia kembali menyisiri rambut Suzy, mengikatnya dengan pita biru.

“ Pakailah seragammu, setelah itu kita akan sarapan bersama “

Myungsoo berjalan ke arah pintu, membukanya perlahan kemudian menutupnya kembali. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar Suzy. Tubuhnya terjatuh, ia usap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tak lama Myungsoo kembali masuk kekamar Suzy dan Suzy sudah cantik dengan seragam sekolahnya. Myungsoo mendekati Suzy dan memperbaiki dasi yang terkalung di kerah bajunya.

“ Kau ingat namamu kan ? “

“ Jangan terlalu mengkhawatirkanku “

Di kelas suasana riuh ketika istirahat. Para siswa mulai membicarakan Suzy yang hanya bisa duduk di kursinya. Jieun tak terima sahabatnya terus-terusan di rendahkan, ia menghampiri beberapa siswa yang menghina Suzy.

Rupanya ia tak cukup kuat untuk membela Suzy sendirian, terlalu banyak yang membenci Suzy jadi sekalipun Jieun mengancam mereka, itu takkan menyurutkan kebencian mereka pada Suzy.

Suzy mengambil tongkat yang berada di sebelah kirinya. Mencoba untuk berdiri walau itu sangat susah. Sebisa mungkin Suzy menghampiri Jieun dan itu tak mudah bagi Suzy.

Seorang siswi yang sudah benar-benar muak dengan Suzy, mendorong Suzy tanpa kasihan. Jieun marah, ia balik mendorong siswi yang tadi mendorong Suzy. Jieun berlutut menolong Suzy bangun, ia tolehkan kepalanya dan terhenti di pintu kelas. Di sana Myungsoo hanya berdiri diam melihat Suzy terjatuh.

Myungsoo duduk di tangga halaman sekolahnya. Ia menggosok-gosokkan tangannya kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. Jieun datang menghampiri. Berdiri di hadapannya dengan raut kebenciaan.

“ Kenapa ? “

Myungsoo dengan santainya bertanya pada Jieun yang menatap dirinya dengan penuh amarah.

“ Sampai kapan ? “

Jieun, dia tak suka jika Myungsoo selalu berada didekat Suzy. Meski Myungsoo hanya ingin membantu Suzy tapi tetap saja Jieun tak rela jika Suzy berada dalam lingkungan yang sama dengan Myungsoo.

“ Tak ada urusannya denganmu “

“ Aku akan pastikan kau menyesal jika Suzy tahu akan sebuah kebenaran “

“ Siapa yang lebih jahat aku atau dia ? “

Jieun terdiam. Myungsoo tertawa kecil. Ia langkahkan kakinya sengaja menabrak lengan Jieun.

Myungsoo duduk di kursi meja makan. Bola matanya terfokus pada gitar di pangkuannya sedangkan jemarinya masih saja tak ingin melepaskan senar-senar gitar itu. Sepertinya Myungsoo sedang mencoba menghibur dirinya yang kelelahan dengan bermain gitar.

Tiba-tiba dari arah belakang Suzy datang dengan secangkir kopi di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya berusaha keras menggandeng tongkat untuk membantu ia berjalan. Ia duduk di hadapan Myungsoo.

“ Kenapa kau selalu ada di rumahku ? “

“ Karena untuk menjagamu “

“ Aku bukan anak kecil yang harus di jaga “

“ Memang bukan tapi kau sedang sakit “

Mendengar itu Suzy membanting keras cangkir kopinya di meja, membuat Myungsoo terhenti dari aktivitasnya memetik senar. Pandangannya masih jatuh ke bawah gitar yang di pangkunya, ia tak sedikitpun berniat melihat wajah Suzy.

“ Aku tidak sakit. Kau harus ingat itu “

Suzy sebenarnya marah karena tak suka Myungsoo selalu mengatakan bahwa dirinya sakit tapi ia tak kuasa untuk berbicara kasar atau membentak Myungsoo

Suzy dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Apa yang telah terjadi ia lupa akan segalanya. Ia ingin menangis tetapi tak tahu karena alasan apa. Ketika ingin marah, hal itu tidak bisa di ekspresikan olehnya.

Myungsoo memakai sepatu sport berwarna biru miliknya, kemudian membalut tubuhnya dengan jaket abu-abu. Ia pergi ke sebuah rumah sakit tak jauh dari rumah Suzy. Membuka sebuah pintu kamar tempat seseorang sedang di rawat itulah yang Myungsoo lakukan.

Di sana, di tempat tidur serba putih itu terbaring seorang gadis berambut panjang dengan jarum infus yang menancap tangannya. Sebuah tabung oksigen  terpasang menutupi mulutnya.

Myungsoo mengambil kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur seorang gadis yang matanya terpejam itu. Ia ambil jemari gadis itu kemudian menyelimutinya dengan genggamannya.

“ Tolong tetaplah bertahan. Aku ingin mendengar suara lembutmu yang dulu selalu tertangkap oleh daun telingaku setiap waktu “

Myungsoo tersenyum melihat wajah gadis itu tapi kemudian setets air meluncur dari mata elangnya.

Myungsoo merasakan bahwa gadis itu membalas genggaman tangannya, semakin erat. Tak lama jemari gadis itu mulai melemah dan akhirnya terjatuh.

Myungsoo yang merasa khawatir segera memanggil dokter dengan panik. Myungsoo bertanya ada apa tapi sang dokter hanya diam membisu dan malah melepas tabung oksigen yang sejak 2 bulan lalu sudah menjadi alat bantu pernafasan untuk gadis itu.

Myungsoo memarahi sang dokter, mengusir sang dokter menjauhi gadis itu. Ia kembali menangis, tangan kirinya mengacak-acak rambut hitamnya

Myungsoo menangis dalam kehancuran. Ia tak percaya akan secepat ini kehilangan gadis yang tak berdaya itu. Siapa yang harus di salahkan atas semua ini ? Tidakkah Myungsoo tahu siapa orang itu yang kini juga menderita karena pembalasan Myungsoo.

“ Kenapa kau melakukan itu padanya ? Kenapa kau tega melukainya ? Kenapa kau melakukan ini semua ? Kau teman baikku, kenapa ? “

Suzy ketakutan mendengar banyak pertanyaan dari Myungsoo. Ia bingung kenapa Myungsoo berbicara seperti itu padanya sambil menangis. Apa yang telah ia lakukan ? Apa ia telah melakukan kesalahan yang besar sehingga membuat Myungsoo begitu marah pada dirinya ?

“ Apa yang telah ku lakukan ? “

Myungsoo menatap tajam Suzy, ia benar-benar terlihat marah bahkan lebih dari sekedar itu. Suzy yang tak tahu apa-apa hanya bisa tertunduk, mengingat-ingat sesuatu perbuatannya yang mungkin sangat fatal.

Suzy termenung duduk di kursinya. Seperti biasa suasana kelas selalu menciptakan gemuruh saat istirahat. Suzy melirik kursi yang kosong di belakangnya.

Tak ada Myungsoo, pria itu tak pergi ke sekolah. Sejak kejadian dimana Myungsoo marah padanya, pria itu tak pernah lagi muncul di hadapan Suzy padahal Suzy selalu berharap Myungsoo selalu ada di sampingnya.

Jieun mendekati Suzy dan berlutut di samping meja Suzy.

“ Kau sudah makan “

“ Sudah “

“ Kau sakit, kenapa kau hanya diam sedari tadi ? “

“ Jieun-ah “

“ Eumm “

“ Myungsoo pernah memarahiku dan mengatakan kenapa aku melakukan ini podanya dan kenapa aku tega melukainya. Melukainya ? Apa aku telah melukai sesorang yang berarti untuk Myungsoo ? “

Jieun diam. Ia bingung harus mengatakan apa. Suzy belum saatnya mengetahui semua yang telah terjadi. Jieun berfikir mungkin Suzy lebih baik mengingatnya sendiri daripada harus mendengar cerita dari mulutnya.

Beberapa siswa datang menghampiri Suzy dan Jieun. Salah seorang dari mereka mendaratkan pukulan di meja Suzy membuat Suzy dan Jieun tersentak.

“ Kau senang sekarang Bae Suzy ? “ tanya seorang gadis dengan paras cantik yang bernama Soojung.

“ Apa yang kau bicarakan ? “

“ Tentu saja, kau pasti bahagia kan Suzy-ah karena sekarang tak ada lagi yang menghalangimu mendapatkan Myungsoo “

Jieun menyahut dan membentak mereka. Ia tak ingin Suzy semakin tahu apa yang terjadi. Ini akan menjadi buruk jika Suzy mengetahuinya.

“ Yaa Lee Jieun, kenapa kau selalu membela orang yang bersalah ? Karena dia sahabatmu ? Kau setia sekali “

Jieun tak bisa menahan amarahnya ia menampar Soojung. Soojung yang tak terima memukul Jieun membuat gadis itu tersungkur ke lantai. Semua siswa yang ada di kelas itu terperangah melihat Soojung dan Jieun, salah seorang siswa laki-laki bahkan lari keluar kelas untuk menemui wali kelas mereka.

Sayup-sayup terdengar langkah kaki seseorang menuju arah kelas mereka. Perlahan pintu kelas terbuka.  Seseorang melangkah masuk, dia adalah Myungsoo. Tak perlu basa-basi lagi Myungsoo segera menghampiri Suzy, membantu Suzy berdiri dan membawanya ke halaman sekolah.

Disana mereka saling canggung. Suzy selalu ingin bertanya apa yang terjadi tapi ia takut Myungsoo akan marah seperti waktu itu. Jika saja ada yang ingin memberitahu dirinya kesalahan apa yang telah di lakukannya mungkin ia bisa melakukan yang seharusnya ia lakukan untuk membayar perbuatannya.

“ Apa aku membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga ? “

“ Tidak, kau tidak melakukan apa-apa “ Jawab Myungsoo membuat garis lengkung di bibirnya.

“ Tapi kenapa semua orang membenciku ? “

Satu pertanyaan itu tak bisa Myungsoo jawab. Entah kenapa ia tak bisa membenci Suzy meski Suzy telah membuatnya kehilangan orang yang ia cintai.

Semua ini terlalu aneh untuk Myungsoo, ia membenci Suzy tapi juga merasa bersalah padanya. Semuanya terjadi begitu saja karena sebuah virus hati yang di sebuat iri. Tak ada yang tahu bagaimana semua ini akan berakhir, hanya bayang-bayang kepahitan serta duka yang semakin mendalam menaburi kehidupan Myungsoo dan Suzy.

Suzy menggeram kesal melihat dua insan di hadapannya saling bermain senyum bahagia.  Dia benci ketika selalu mendapati Myungsoo dan Jiyeon selalu bersama berbagi kemesraan. Apalagi ketika Myungsoo berubah tak pernah lagi mempunyai waktu untuk dirinya.

“ Suzy-ah kau ingin ikut denganku dan Myungsoo ke toko buku ? “

Kenapa Jiyeon harus menanyakan itu padaku ? Sudah pasti dia akan semakin memojokkanku dan tersenyum dalam hatinya bahwa dia adalah ratu kemenangan !!! Batin Suzy.

“ Tidak, kalian saja “

Tanpa pamit Jiyeon dan Myungsoo pergi meninggalkan kantin sekolah, membuat Suzy semakin membenci kedua makhluk Tuhan itu karena dirinya benar-benar tak diperdulikan.

Ia melempar gelas kaca berisi air berwarna merah yang sedari tadi ia genggam. Alunan kaca pecah mengedarkan pandangan semua orang untuk beralih menatap Suzy.

Ia mulai pergi meninggalkan tempatnya dan tak peduli dengan semua tatapan mengerikan itu. Tapi seorang siswi menghalangi langkah Suzy dan menyuruhnya untuk membereskan potongan-potongan gelas kaca yang tadi ia jatuhkan. Suzy lagi-lagi mengacuhkannya dan kembali melangkah.

“ Apa kau tidak punya otak ? Gadis bodoh “

Kalimat itu membuat Suzy terhenti dari perjalanannya. Ia balikkan tubuhnya dan mendekati siswi tadi.

“ Apa yang kau katakan ? “

“ Kau ingin aku mengulanginya ? “

Tanpa basa-basi Suzy segera menampar siswi di hadapannya itu, terdengar jelas bahwa tamparan itu sangat keras dan kasar. Semua siswa yang berada disana semakin menegang melihat kefrontalan Suzy yang jelas-jelas di luar terlihat manis dan anggun.

Di depan rumah Suzy, Myungsoo berdiri dengan dinginnya angin yang berhembus kencang. Melayangkan hempasan kedinginan untuk tubuh Myungsoo yang hanya terbalut seragam sekolah.

Berkali-kali ia ingin masuk tapi selalu diurungkan niatnya itu. Rambutnya yang tadi tertata rapi kini sidikit basah karena embun yang berjatuhan. Mata beningnya menatap kedua kakinya yang terbungkus sepatu. Jari-jari tangannya mulai membeku bersamaan dengan bibir merah mudanya yang bergetar kecil.

Suara pintu terbuka terdengar ditelinga Myungsoo. Suzy berada di balik pintu itu dan semakin terlihat jelas oleh Myungsoo ketika Suzy membuka lebar pintu rumahnya.

“ Kenapa kau ada disini ? “ tanya Suzy

“ Untuk menjemputmu kesekolah “

“ Aku tidak akan pergi kesekolah lagi “

“ Kenapa “

“ Harusnya aku yang bertanya kenapa ? Aku tak mengerti apapun tapi kenapa semua yang ada disekolah selalu memperlakukanku dengan buruk. Kenapa ? Apa aku membuat kesalahan ? “

“ Tidak, kau… “

“ Kau bahkan tak mampu memberikan jawabannya “

Myungsoo bodoh tak bisa menebak perasaannya sendiri. Tak berani mengungkapkan semua yang terjadi.Tak berani membenci Suzy walau Suzy telah menghancurkan hatinya.

Myungsoo juga tak pernah membantu Suzy dari perlakuan-perlakuan buruk yang di lakukan teman-temannya lantas kenapa Myungsoo merasa bersalah dan ingin merawat Suzy sampai Suzy sudah kembali menjadi dirinya yang dulu.

Kini ia sedang dalam posisi terlentang di kursi panjang di atas gedung sekolahnya. Ingatannya selalu melayang pada kejadian dimana ia mulai membenci dan merasa bersalah pada seseorang.

Hari ini Jieun menjenguk Suzy karena khawatir Suzy tak masuk sekolah sudah hampir seminggu. Ia duduk di samping Suzy sambil bercengkrama dengan sahabatnya itu.

Suasana hati Suzy ketika ada Jieun didekatnya selaklu berubah menjadi padang hijau luas yang ditumbuhi bunga-bunga cantik serta nyanyian dari sayap-sayap burung yang bertebaran. Ia bahagia karena masih ada Jieun yang menyayangi dirinya

Mereka tertawa sesaat tapi kemudian itu menjadi hening karena Myungsoo datang. Ia menarik lengan Suzy bermaksud untuk membuat Suzy ikut dengan dirinya. Tapi Jieun menghalangi itu, ia terlalu khawatir jika Suzy berada di dekat Myungsoo.

Myungsoo menatap tajam Jieun bertanya-tanya kenapa Jieun harus selalu berfikiran bahwa dirinya akan menyakiti Suzy.

“ Suzy tak boleh pergi denganmu “

“ Siapa yang membuat aturan itu ? Kau kah ? Memang siapa kau ? “

“ Ya aku yang membuatnya dan aku adalah sahabat Suzy jadi aku berhak melarangnya untuk berada didekatmu “

Myungsoo terkekeh mendekatkan wajahnya ke wajah Jieun sambil tersenyum sinis.

“ Apa kau akan bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukannya ? “

“ Itu kesalahanmu karena kau memilih Jiyeon sebagai kekasihmu “

Jiyeon ? Suzy mengingat nama itu. Suzy benar-benar mengingat nama itu tapi ia tak tahu apa hubungan gadis itu dengannya dan Myungsoo. Kekasih Myungsoo ? Jiyeon adalah kekasih Myungsoo lalu bagaimana dengan dirinya, kenapa ia ikut terlibat ?

“ Siapa Jiyeon ? “ tanya Suzy polos.

Semuanya terdiam membungkam. Sepertinya takut untuk menjawab pertanyaan Suzy.

“ Kenapa kalian diam saja ? Siapa Jieyon ? Apa sesuatu terjadi padanya karena diriku ? “

Suzy memegang kepalanya yang merasakan sakit yang teramat. Dadanya tiba-tiba saja menghalau sakit pilu. Entah, ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Samar-samar sedikit demi sedikit bayang-bayang sesuatu bermunculan di otaknya.

Jieun terkejut memegang bahu Suzy untuk memastikan apakah sahabatnya baik-baik saja. Suzy terjatuh mengeluh kesakitan sambil berteriak kecil. Beberapa detik kemudian pandangannya mulai kabur dan menjadi gelap seketika.

Myungsoo tak kalah khawatirnya dengan Jieun. Ia segera meraih tubuh Suzy, menidurkan kepala Suzy di pangkuannya, mencoba memanggil-manggil nama Suzy tapi tetap saja Suzy tak mampu mendengarnya dan tetap memejamkan matanya.

“ Suzy-ah kumohon dengarkan aku “

Rintihan Jiyeon tak diperdengarkan oleh Suzy. Suzy murka, hatinya benar-benar hancur karena mencintai Myungsoo dan harus menerima kanyataan bahwa Jiyeon sudah merebut hati Myungsoo dan semua perhatian Myungsoo.

Dia menangis dalam hatinya tapi ia benar-benar memasang wajah iblis. Saat itu semua siswa sedang berolahraga di ruang permainan bola basket. Suzy membawa Jiyeon ke atas gedung sekolah. Awalnya Jiyeon merasa Suzy ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya, ya memang penting untuk membuat ketakutan datang menghampiri Jiyeon ketika Suzy mulai  mendorong kepala Jiyeon ke dinding dan sukses mengeluarkan darah.

“ Kau sialan Park Jiyeon. Kenapa kau harus datang dihidup Myungsoo dan merubah semuanya. Sejak adanya dirimu Myungsoo tak pernah lagi memberikan perhatiannya padaku, ia tak lagi ingin bermain denganku –TEMAN BAIKNYA SEJAK KECIL – Ia bahkan hanya berucap satu kata padaku setiap harinya. Kau tahu aku lebih dulu mencintai Myungsoo sebelum akhirnya kau datang dan memutar semuanya menjadi dipihakmu. Kau merebut semua perhatian teman-temanku, Kau merebut kasih sayang Ayah dariku. KAU SAMA SEPERTI IBUMU, IBUMU MEREBUT AYAHKU DARI IBUKU DISAAT IBUKU SEDANG SAKIT KERAS DAN SEKARANG KAU MEREBUT MYUNGSOO. KAU BRENGSEK “

Mata Suzy mulai dikepung oleh butiran-butiran yang mirip seperti kaca. Cairan bening meluncur dari matanya. Tapi ia melarang air matanya untuk terus terjatuh, ia menghapusnya dan tertawa kearah Jiyeon.

Ia berjalan mendekati Jiyeon, merampas kasar lengan Jiyeon dan menyeretnya ke tepi gedung.

“ Jika aku tak bisa mendapatkan yang kuinginkan maka kau harus mati “

Tanpa perintah Suzy dengan tenaga yang ia miliki mendorong tubuh Jiyeon ke bawah dan…

“ JIYEON-AH “

Sebuah suara memudarkan tawa iblis Suzy. Ia melihat sumber suara dan mendapati Myungsoo berdiri di hadapannya. Ia terkejut melihat bola mata Myungsoo yang menatapnya dengan kebencian. Myungsoo segera berlari untuk menolong Jiyeon dan ketika Myungsoo akan menuruni tangga tangannya sudah lebih dulu di tarik Suzy.

Suzy meminta maaf tapi Myungsoo sudah benar-benar membenci Suzy karena percuma Suzy meminta maaf pada dirinya. Ia tak percaya Suzy berani melakukan itu pada Jiyeon. Yang ia tahu Suzy adalah gadis terbaik yang ia miliki tapi kenapa sekarang gadis terbaiknya itu berubah menjadi orang yang tak punya hati.

Suzy tetap memegang erat tangan Myungsoo. Myungsoo berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Suzy, dengan keras ia menarik tangannya membuat Suzy yang menggenggam erat tangannya ikut terlempar membuat tubuh Suzy tak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat kakinya sudah berada diujung anak tangga yang paling atas.

Myungsoo terkejut melihat Suzy terjatuh dari tangga setinggi 7 meter. Kepala Suzy membentur pagar tangga membuat Suzy tak sadarkan diri.

Myungsoo melihat Suzy yang duduk membelakanginya. Sejak kemarin gadis itu tak mengucapkan sepatah kata untuk Myungsoo, sekedar untuk menyapapun tidak.

Saat jam pelajaran telah selesai Myungsoo mengikuti Suzy dari belakang. Walau Myungsoo melihat Suzy kesulitan untuk berjalan tapi ia sama sekali tak berniat untuk membantu. Yang ia lakukan hanya mengikuti setiap langkah gadis itu yang entah akan pergi kemana.

Suzy menyadari keberadaan Myungsoo tapi ia kembali tak perduli dengan itu, hanya fokus pada dirinya sendiri itu yang ia perdulikan.

Orang-orang mulai sibuk mencari perlindungan karena air langit yang kini sedikit demi sedikit terjatuh dari tidur panjangnya di awan hitam. Suzy tetap kukuh untuk terus berjalan hingga ia sampai ke suatu tempat yang ingin ia kunjungi. Myungsoo yang di belakangnyapun juga tetap pada pendiriannya mengikuti kemana langkah Suzy akan membawa dirinya bersama terpaan air hujan yang semakin deras.

Tak lama Suzy berhenti dan Myungsoo melakukan hal yang sama.

Lama — Cukup lama mereka berdiri di bawah dinginnya langit yang menangis. Sebagai pria Myungsoo tak berniat melindungi kepala Suzy dari hantaman hujan dan dengan teganya membiarkan Suzy sakit nantinya.

Suzy pun akan menolak jika Myungsoo melakukan itu dan lebih memilih terpenjara dalam hujan.

“ Sampai kapan kau akan terus mengikutiku ? “ tanya Suzy tapi Myungsoo hanya diam.

“ Sampai kau mendapat bayaran atas meninggalnya kekasihmu, Park… Ji… Yeon… “ sambung gadis itu.

Bola mata Myungsoo terbelalak tak percaya dengan kalimat yang keluar dari bibir manis Suzy.

Suzy sudah kembali !! Batin Myungsoo. Ia bahagia sekaligus takut.

“ Apa tongkat ini belum bisa membayarnya.. Myungsoo-ah ? “

Gadis itu ingin menangis lagi entah untuk yang keberapa kalinya tapi Myungsoo yang dihadapannya mampu membuat Suzy untuk menahan tangisannya.

Tanpa sadar Suzy masih menyimpan perasaannya pada Myungsoo dan itu satu alasan Suzy untuk memutuskan takkan lagi menjadi bagian dari hidup Myungsoo seperti saat dulu mereka bersama sebagai sepasang sahabat.

Suzy kini sudah mengingat semuanya. Ia sudah tahu kesalahan terbesarnya, ia sudah tahu kenapa Myungsoo memarahinya, ia tahu kenapa Myungsoo mau merawat dirinya disaat semua orang menjauhi dan membenci dirinya. Dan Suzy merasa takkan pantas lagi menjadi teman baik Myungsoo. Ia terlalu mencintai Myungsoo dan itu sesuatu yang berbahaya karena Suzy takkan rela jika Myungsoo bersama gadis lain.

Myungsoo membuka pintu ruang olahraga basket dan didalam sana ia menemukan Suzy sedang duduk manis dengan earphone ditelinganya. Gadis itu hanya memandangi ring basket tanpa melakukan aktivitas apapun, ia bahkan sejak pagi tadi hanya berada disana.

Sejak ia menginjakkan kaki disekolah itu pagi tadi, ia tak berniat untuk mendapatkan pelajaran, hanya untuk sekedar melewati kelasnya ia tak pernah berfikiran untuk melakukan itu.

Sejak hari itu juga Suzy tak berbicara pada Myungsoo. Saat Myungsoo datang kerumahnya Suzy tak lagi membukakan pintu untuk Myungsoo dan tentu saja Myungsoo juga takkan bisa masuk sendiri karena Suzy mengunci pintu rumahnya. Telfon dan sms Myungsoo juga tak pernah ditanggapi.

Myungsoo mendekat kearah Suzy berdiri tepat dihadapan gadis itu. Hanya dengan melihat sepatunya saja Suzy sudah tahu bahwa itu Myungsoo, sontak saja ia segera meraih tongkat di sebelah kanannya. Ia beranjak dari tenpat duduknya dan melangkah pergi tanpa sedikitpun melihat wajah Myungsoo.

Lagi-lagi Suzy menghindar. Myungsoo berlari dan menyetop langkah Suzy. Tatapan Suzy hanya tertuju pada lantai seperti tak berani melihat Myungsoo.

“ Kenapa kau menghindariku ? “

“ Aku tak menghindar “

“ Ketika aku menghampirimu dan saat itu juga kau beranjak pergi, apa itu tidak bisa disebut menghindar ? “

Bukannya menjawab Suzy malah kembali melangkah secepat mungkin.

“ KENAPA ? “ Myungsoo berteriak membuat suaranya bergema memenuhi seluruh ruangan. Suzy terlonjak kecil hingga ia reflek melepaskan tongkatnya dan tentu saja ia juga ikut terjatuh. Myungsoo berniat menolong tapi Suzy malah melempar tangan Myungsoo saat Myungsoo mencoba membantu dirinya berdiri.

“ Aku tak menghindar, itu hanya perasaanmu “

Suzy menunggu pesawat yang akan membawanya ke Singapure. Ia masih punya waktu 15 menit sebelum pesawatnya menaiki udara. Waktu itu ia gunakan untuk mengucapkan salam perpisahan pada Myungsoo. Ia masih duduk di ruang tunggu tapi Myungsoo belum juga datang.

Saat keresahan menghantui Suzy akhirnya Myungsoo datang 5 menit sebelum Suzy pergi. Myungsoo terenga-engah mengatur nafasnya karena sepertinya ia berlari untuk sampai di tempat Suzy menunggu. Suzy tersenyum dan tanpa sadar memeluk Myungsoo.

“ Maafkan aku “

Suzy melepaskan pelukannya. Raut wajah Myungsoo menggambarkan kesedihan dan Suzy bisa menebak itu. Sekuat hati Suzy mencoba untuk tetap tenang di depan Myungsoo.

“ Maaf, mungkin kesalahan yang ku perbuat tidak akan bisa mendapatkan permintaan maaf. Mungkin juga takkan bisa di bayar dengan apapun, tapi mungkin aku bisa mendapatkan sedikit balasan yaitu menyesal. Aku mencintaimu dan aku tak pantas untuk menjadi sahabatmu lagi apalagi untuk sampai mendapatkan hatimu.. itu hal yang mustahil “

“ Suzy-ah… Aku.. “

“ Terima kasih karena sudah ingin menyempatkan waktumu untuk menemuiku disini “

Perintah untuk segera menaiki pesawat sudah terngiang di telinga Suzy. Segera ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah seharusnya. Tanpa di ketahui Myungsoo Suzy melangkah meninggalkan Myungsoo dengan air mata yang mengalir pelan.

“ Suzy-ah “

Panggilan itu Suzy mendengarnya dan dia tak ingin merespon. Sejenak mata Myungsoo berkaca-kaca, hatinya perih menerima kenyataan bahwa Suzy akan meninggalkan dirinya terlebih ia sama sekali tak bisa berbuat apapun untuk menghentikan takdir didepan matanya.

Sosok Suzy semakin menghilang dari pandangan Myungsoo, ia terjatuh ke bawah dengan air mata yang juga bermain riang di pipinya.

“ Aku tak ingin kau pergi Suzy-ah…. Kenapa tak kau biarkan aku mencoba untuk mencintaimu “

FIN

Author sebenarnya malu buat post FF ini, solanya alurnya gak asik buat Author, ini juga kurang maksimal.. Tapi daripada percuma Author bikin ya udah deh dipost aja,,, Semoga aja ada yang suka..

Author butuh komen berupa kritik ya…

Gomawo ^^

30 thoughts on “FF Oneshoot [Myungzy Couple] All Because Of You

  1. Satu kata. Bingung._. oh oke, sejujurnya bagus kok. Feelnya juga lumayanlah dapet, tapi aku ga ngerti alurnya wk-.- #o’ot
    Oh iya, alesan Myungsoo baik sama Suzy buat bales dendam itu kok aku ga ngerti ya._. terus kenapa temen-temen Suzy benci Suzy? Karena kejadian dia dorong Jiyeon atau apa?
    Udahlah, aku bingung mau komen apa wk. Oh iya, itu kenapa endingnya harus gantung coba?-.-
    Keep writing thor^^

  2. Daebak….
    Ceritanya keren, aku pling suka myungzy dgn genre angst sad kyk gini.
    Meskipun hrus sabar gara2 endingnya psti sad/gantung, tpi gapapa kok.
    Sekuel ya thor…hehehe

  3. 안녕~ Myungzy shipper here ㅋㅋㅋㅋ , thor yang kece , please buat sequel nya 네 ? ;A; gak rela mereka pisah gitu ajjjaaaa (╥﹏╥) malldo andwe ! Jeball yah thor ,,, but over all this FF 대박 !

  4. Keren . Sad ending again . Demen amat author bikin yg sad ending . Sequel dong thor kasihan Myung tuh nunggu suzy kagak pulang” 3 kali lebaran*LoL #dikira bang toyib kale ya😀

  5. Keren . Sad ending again . Demen amat author bikin yg sad ending . Sequel dong thor kasihan Myung tuh nunggu suzy kagak pulang” 3 kali lebaran*LoL #dikira bang toyib kale ya😀 .

  6. sebenernya suka ma ide ceritanya..
    dari awal cerita aku dibuat penasaran knapa suzy jd ca2t,knapa myung baik ma suzy tp jg membencinya,knapa jieun ga suka myung dekat ma suzy…n smua terjawab dikisah flash back suzy,jiyeon ma myung…nyesek bnget ceritanya thor

    tp endingnya kurang nampol thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s