FF Chapter [MyungJin Couple] | Love And Age Part 1

FFCover-Loveandage-part1

Title              : Love And Age [Part 1]

Author          : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myongsoo

– Park Hyojin

Support cast

– Kim Namjoo

– No Minwoo

– Kim Kyoung Jae

Genre              : Romance, Sad

Lenght            : Chapter

Rating             : PG 15

AUTHOR POV

 

          Musim dingin sudah mulai meracuni kota Seoul, Angin setiap detiknya menari di sepanjang jalan tanpa batasan waktu. Daun-daun yang tenang pun ikut menikmati tarian angin yang  menghempas mereka. Hyojin dan sahabatnya Namjoo yang baru saja meninggalkan sekolah mereka kini berjalan kaki untuk bergegas pulang, mereka bisa merasakan kedinginan udara kota Seoul siang itu. Candaan mereka mampu menghangatkan suhu tubuh mereka, walau pada logikanya itu mustahil.

          Tiba-tiba seorang pria berjas hitam yang tampak elegan menabrak Hyojin yang masih asik bercanda ria dengan Namjoo. Pria itu bernama Kim Myungsoo. Hyojin yang tersohor ke lantai jalanan meringis kesakitan, sedangkan sahabatnya Namjoo ikut terduduk memegangi lengan Hyojin.

          Myungsoo segera menolong Hyojin berdiri, seketika syaraf otaknya berhenti. Ia terdiam dalam waktu yang cukup lama setelah Hyojin menoleh kearahnya. Entah apa yang terjadi Myungsoo merasakan ritme detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

          Wajahnya… Sangat manis !! Batin Myungsoo.

          “ Ahjussi “ panggil Hyojin karena bingung dengan tingkah laku Myungsoo.

          Myungsoo tak mengindahkan panggilan Hyojin. Pada detik panggilan terakhir barulah Myungsoo sadar dari lamunannya. Myungsoo segera memegang lengan Hyojin berniat untuk membantu Hyojin berdiri.

          “ Sebaiknya kau lebih berhati-hati dan memperhatikan langkahmu agar kau tidak menabrak orang lagi “ ujar Myungsoo kemudian berlalu meninggalkan Hyojin dan Namjoo.

          Hyojin tercengang dengan kalimat yang di lontarkan Myungsoo, bukankah yang salah itu Myungsoo. Myungsoo yang menabrak dirinya lantas mengapa Hyojin yang diberi nasihat oleh Myungsoo.

          “ Mengapa semua orang dewasa hanya bisa menyalahkan seorang anak kecil, padahal anak kecil itu tidak bersalah “ ucap Hyojin dengan nada tinggi dan cukup lantang.

          Myungsoo yang saat itu bersama dengan seorang pria yang sebaya dengannya menoleh kearah Hyojin yang kebetulan Myungsoo belum terlalu jauh meninggalkan Hyojin dan Namjoo sehingga ia bisa mendengar jelas ucapan Hyojin barusan.

          Myungsoo kembali menghampiri Hyojin. Saat dirinya tepat sudah berada dihadapan Hyojin, ia justru menyentuh kening Hyojin.

          “ Gadis kecil kau sakit ? “ sahut Myungsoo datar seakan dirinya tak melakukan dosa apapun.

          Hyojin melongak kaget karena Myungsoo dengan berani menyentuh keningnya. Ia hanya bisa menatap heran Myungsoo.

          Myungsoo yang tak mendapatkan respon dari Hyojin melepaskan syal putih yang saat itu ia kenakan. Ia mengalungkan syal itu keleher Hyojin, dan sekali lagi Hyojin  benar-benar terkejut dengan tingkah laku Myungsoo tak terkecuali dengan Namjoo dan pria yang bersama Myungsoo.

          “ Tak apa, kau bisa mengembalikannya jika kita bertemu lagi. Sebaiknya kau segera pulang, cuaca hari ini tidak bagus untuk diajak bermain “ ucap Myungsoo tersenyum.

          “ Dan satu lagi aku tidak setua yang kau fikirkan jadi kau tidak perlu memanggilku Ahjussi “ sambungnya.

          Benar-benar kejadian yang diluar nalar fikiran Hyojin, Myungsoo tanpa merasa bersalah sedikitpun melontarkan kalimat-kalimat yang benar-benar membuat Hyojin berdecak kagum penuh keheranan.

          Untuk pertama kalinya Myungsoo dapat merasakan jantungnya yang berdekup kencang. Tapi mengapa dengan gadis SMA. Wajahnya benar-benar manis Myungsoo bahkan tak berani menatapnya terlalu lama.

          Mungkinkah Myungsoo menyukai Hyojin, atau hanya perasaan sesaat karena wajahnya yang sangat manis.

          “ Kau tak seharusnya seperti itu “ ucap Kyoung Jae tiba-tiba yang tak lain adalah Myungsoo’s Hyung.

          Myungsoo tak menghiraukan Kyoung Jae hanya fokus dengan gitar yang saat ini berada dipangkuannya.

          “ Mengalungkan syal ke lehernya itu sungguh tidak pantas kau lakukan terlebih kau tidak mengenal gadis itu “ sahut Kyoung Jae yang kali ini merampas gitar dari pelukan Myungsoo.

          “ Apa itu sebuah tindakan kriminal ? Aku hanya kasihan melihatnya kedinginan “ balas Myungsoo yang akhirnya membuka mulut.

          “ Jika kau melakukan itu pada gadis seusiamu mungkin mereka akan jatuh hati padamu, tapi dia hanya gadis kecil yang mungkin akan berfikiran yang aneh-aneh tentang dirimu “

          “ Dia gadis yang pintar dia pasti bisa berfikir rasional “ sahut Myungsoo dengan bangganya dan dengan sedikit senyum tipis di bibirnya.

          Kyoung Jae menyerah dan melemparkan gitar Myungsoo yang berhasil di tangkap Myungsoo kemudian ia berlalu dari pandangan Myungsoo.

          Kini ponsel Myungsoo berdering, ia segera mengambil ponselnya yang terletak tepat disampingnya. Sebuah nama terpampang jelas di layar ponsel Myungsoo.  Myungsoo merasa malas untuk menjawab panggilan yang ternyata dari Ayahnya. Ia membiarkan ponselnya tergeletak tanpa menyentuhnya sedikitpun. Sudah berulang-ulang kali ponselnya berdering tapi ia tetap saja sibuk memetik senar-senar gitarnya.

          Ia tahu pasti Ayahnya akan membicarakan masalah perusahaan lagi dan menyuruh dirinya untuk menduduki posisi sebagai Direktur di perusahaan Ayahnya.

          Menjadi anak pemilik perusahaan terrbesar di Seoul tidaklah menyenangkan bagi Myungsoo. Ia sama sekali tak menarik minat untuk berurusan dengan pekerjaan seperti itu.  Ia lebih memilih bermain dengan gitar kesayangannya atau pergi kerumah Sungyeol sahabatnya.

          Walau begitu Myungsoo tetap menjalankan pekerjaan itu karena perintah Halmeoni yang sangat ia sayangi. Permintaan apapun yang diminta Halmeoninya meski itu tak disukai olehnya, ia akan tetap melakukannya karena ia sangat menyayangi Halmeoninya dan tak ingin mengecewakan Halmeoninya.

HYOJIN POV

 

          Hari ini aku bangun lebih pagi hanya sekedar untuk melihat matahari terbit. Sangat indah.

          Setelah puas melihat, aku pergi kekamar mandi bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Setelah keluar dari kamar mandi aku segera membalut tubuhku dengan seragam sekolahku. Seragam yang cantik dan juga sekolah favoritku.

Seoul Internasional High School memang sekolah yang cukup populer aku saja mengagumi keelitan dan keindahannya dan untung saja Ibuku mengizinkanku bersekolah di sana.

Setelah kurasa semua yang kukenakan sudah terpasang rapi aku segera keluar kamar dan menuju meja makan untuk sarapan jika tidak Ibu akan memarahiku habis-habisan. Bisa dibayangkan sendiri hanya karena tidak sarapan kau bisa tidak diizinkan keluar rumah seharian dan itu membuatku takut karena biasanya sehabis pulang sekolah aku akan pergi ke sebuah Espresso Cafe yang tak terlalu besar hanya sebuah cafe  kecil.

Disana aku bekerja bersama Namjoo, bukan apa-apa aku hanya kesepian jika dirumah seharian tanpa seorangpun yang menamaniku. Dan jika Ibuku mengetahui aku bekerja di Espresso Cafe aku tak tahu hukuman apa lagi yang akan diciptakannya.

“ Hari ini kau tidak perlu sekolah “ sahut Ibuku memulai pembicaraan.

“ Apa ? Tapi kenapa ? “ tanyaku tak percaya.

Ibuku tak menjawab pertanyaanku dia hanya menatapku sesaat dan kemudian melangkah keluar rumah. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ? Menetap dirumah seorang diri seharian penuh ?

Aah Ibuku  benar-benar tak mengerti dengan keinginanku. Dia dengan kuasanya menyuruhku untuk tidak bersekolah, dia bahkan tak memberitahu alasannya kenapa.

Sudah berjam-jam aku hanya duduk di sofa memandangi layar televisi yang menyala, bermain-main dengan tombol remote yang berada digenggaman tangan kiriku berharap menemukan acara yang bisa menghilangkan kebosanan ini. Karena tak juga menemukan sesuatu yang menarik akhirnya aku memutuskan untuk masuk kerja lebih awal, lebih baik tubuhku kelelahan daripada harus lumpuh berjam-jam diatas sofa.

Seragam coklat dan topi putih yang kini kukenakan. Aku berdiri dibalik box kaca dan dengan setia menunggu pelanggan memesan kopi sesuai rasa favorit mereka masing-masing. Aku mendengar beberapa pelanggan wanita sedang membicarakan sesuatu, semakin terdengar jelas bahwa mereka sedang membicarakan Ayahku.

“ Benar-benar diluar dugaan, pria berwibawa seperti itu sanggup membunuh “

“ Itu karena ia menyelamatkan seseorang “

“ Tapi orang itu benar-benar tidak tahu berterima kasih. Seharusnya ia bisa memberikan saksi pembelaan agar bisa mengurangi hukuman pria itu “

Aku masih termenung mendengar ocehan wanita-wanita penggosip itu, apa mereka tidak tahu kalau aku adalah anak dari pria yang mereka bicarakan itu. Mereka kan penggosip sejati seharusnya mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih mengenai Ayahku.

Tapi ini memang bukan salah mereka, wajar saja jika mereka membicarakannya. Semua orang diluar sana juga pasti melakukan hal yang sama bahkan wartawan-wartawan sekalipun. Ini juga bukan salah Ayah atau salahku, ini semua salah seseorang yang aku sangat mengenalnya.

Seperti biasa aku dan Namjoo pulang bersama. Tapi kali ini aku jalan lebih dulu karena Namjoo harus mengerjakan sesuatu.

Aku menuggu didepan gerbang sekolah karena tidak mungkin aku meninggalkan Namjoo. Selama apapun ia aku akan tetap menunggunya karena itulah kami, Hyojin dan Namjoo yang selalu setia untuk menunggu dalam hal apapun.

Aku melirik jam tangan biru yang melilit pergelangan tanganku. Angin berhembus kencang meniup tubuhku yang sedang berdiri seorang diri. Langit yang cerah seakan tersenyum padaku dan awan-awan putih diatas sana seolah-olah ikut melindungiku dibawah sini.

“ Hyojin-ah “ sahut Namjoo tiba-tiba menyentuh pundakku.

Entah sejak kapan ia disitu aku bahkan tak mendengar langkah kakinya. Aku tersenyum dan kemudian merangkul tangannya, melangkahkan kaki bersama-sama karena itu yang selalu kami lakukan.

“ Mengenai laki-laki yang kemarin bukankah ia sangat tampan Hyojin-ah ? “ tanya Namjoo yang kujawab dengan senyuman tipis tak berarti.

“ Bukankah kau selalu memimpikan pangeran setampan drinya ? “ lanjutnya.

“ Dia benar-benar tampan dari apa yang ku impikan, tapi sikapnya kemarin itu sungguh aneh “

“ Lalu apa rencanamu ? “

Tidak bisakah sahabatku ini tidak bertanya terus atau mengganti topik pembicaraan, aku sedang tidak ingin membahas hal itu lagi mengingatnya saja aku benar-benar tak habis fikir dengan Ahjussi itu.

Aku menghentikan langkahku dan mulai membuka resleting ransel putihku mengambil sesuatu yang terbungkus.

Tak selang beberapa detik ponsel Namjoo berdering, ia pun segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Kulihat raut sedih diwajahnya saat sedang mendengar seseorang diseberang sana berbicara padanya.

“ Hyojin-ah sepertinya aku tidak bisa bekerja hari ini. Hyejoo sakit aku harus menjaganya “ ucap Namjoo murung.

“ Tak apa, aku akan mengizinkanmu. Pulanglah “

Namjoo tersenyum kemudian dengan gesit berlari meninggalkanku. Aku melihat punggungnya semakin jauh lantas aku melanjutkan perjalananku. Aku berjalan menundukkan kepalaku dengan kedua tangan kumasukkan di saku jas sekolahku. Aku berjalan lemas karena tak ada Namjoo dan sesekali menendang kerikil yang menganggu langkahku.

Langkahku terhenti karena seseorang berhenti tepat di hadapanku.

Kenapa dia berhenti didepanku ? Mengganggu saja.

Aku mendongakkan kepalaku dan kudapati orang yang berdiri di hadapanku saat ini adalah Pria yang kemarin bertingkah aneh padaku.

Dia membungkukkan badannya tapi aku hanya bisa berdiri diam tanpa kata.

Kenapa tiba-tiba dia bisa ada disini ?

“ Senang bisa bertemu kembali “ ucapnya.

Tapi aku tak senang bertemu denganmu Ahjussi bodoh.

“ Kenapa ? “ dia menatapku heran dengan senyuman manis penjilatnya itu.

Aku menyodorkan bingkisan yang kuambil tadi. Dia menatapku dan bertanya isi bingkisan itu. Bingkisan itu berisi syal putih yang waktu itu tanpa berfikir panjang ia berikan padaku.

Dia tersenyum dan bukannya mengambil bingkisan itu dia malah menanyakan namaku.

Apa dia gila ? Tidak mungkin kan aku berbicara dengan orang tidak sehat kejiwaannya.

“ Hyojin, Park Hyojin “ jawabku

“ Kau bisa memanggilku Myungsoo. Apa kau baru pulang sekolah ? “ tanyanya lagi dan akupun dengan lelah hati mengangguk.

“ Apa kau ingin makan siang denganku? “

Apa ? Apa yang dikatakannya ? Makan siang ? Ya ampun dia sudah gila atau tidak waras. Mengajak orang yang tak dikenalnya makan siang tanpa basa-basi, aku benar-benar merinding dibuatnya.

“ Maafkan aku, tapi aku harus segera pulang “ tolakku sedikit berbohong.

“ Kalau begitu bisakah aku mengantarkanmu pulang ? “

Aigho… Sepertinya dia sedikit terganggu. Pertama ia dengan keberaniannya mengalungkan syal keleherku, tanpa rasa malu ia memberi tawaran makan siang bersama dan sekarang dengan wajah polosnya itu dia berkata ingin mengantarku pulang !! Dia bahkan tak mengenalku.

Apa ini yang selalu ia lakukan pada semua orang yang belum ia kenal. Benar-benar orang aneh.

Karena merasa risih dengan paksa aku memberikan bingkisan itu dan segera menghilang dari hadapannya.

“ Tunggu !! “

Langkah ku terhenti. Sekarang apa lagi ? Langkahku bahkan belum yang kelima. Aku mengela nafas mengirupnya dengan tenang dan menghempaskannya dengan lembut kemudian menoleh kearahnya.

“ Aku harap kita dapat bertemu lagi “ ucapnya dan begitu saja meninggalkanku tanpa permisi.

Oh Tuhan… sepertinya dia benar-benar pasien rumah sakit jiwa yang kabur dari perawatannya.

Ini gila, sangat gila. Dia berharap bertemu denganku kembali ? Itu benar-benar menyimpang dari keinginanku.

Aku sungguh menyesal selalu memimpikan pangeran seperti itu. Sangat berbeda dengan pangeran yang ku impikan.

AUTHOR POV

 

          Hari itu Hyojin terlibat perkelahian disekolahnya. Hyojin memukul teman wanitanya hingga membuat teman wanitanya itu mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.

          Hyojin-pun tak kalah, ia juga mendapat pukulan di tangannya. Sebuah pukulan yang sangat keras dari tongkat besi hingga membuat tulang sendi tangan kanan Hyojin sedikit retak.

          Tak puas hanya memukul wajah teman wanitanya, Hyojin juga mendorong kasar tubuh teman wanitanya itu kedinding dan sukses membuat teman wanitanya meringis kesakitan dan akhirnya pingsan. Entah apa yang menuntut Hyojin melakukan itu semua, yang ia tahu saat itu hanya-lah perasaan marah yang berlebih dengan teman wanitanya itu.

          Hyojin masih duduk di sofa rumahnya terperanjat dengan kemarahan Ibunya yang tak pernah habis fikir dengan tindakan Hyojin. Hyojin tak berkutik dia dengan setia mendengarkan bentakan yang dilontarkan dari bibir Ibunya.

          “ Apa kau sudah gila ? Kau itu adalah seorang gadis, sekarang lihat temanmu !! Dia sekarang terbaring dirumah sakit dan belum sadarkan diri “

          “ Aku tak menyuruhnya seperti itu “ sahut Hyojin datar.

          “ PARK HYOJIN !!! Apa kau ingin seperti Abeoji ? Huh ? “

          Hyojin tersentak ia diam lalu tersenyum penuh keterpaksaan.

          “ Ya, aku ingin seperti Abeoji. Aku ingin berada di sel kantor polisi bersama Abeoji, jauh dari Eomeoni itu yang kuinginkan “

          Hyojin beranjak dari duduknya memerintahkan kakinya melangkah keluar rumah secepat mungkin. Panggilan dari Ibunya tak lagi ia pedulikan meski Ibunya sudah berulang kali meneriaki namanya tapi ia tetap acuh dengan semua itu.

          Dengan gontai ia pergi ke cafe tempat ia bekerja dengan tangan kirinya yang masih memegang tangan kanannya. Sakit itu yang pasti ia rasakan, untuk sekedar menggerakkan tanggannya sesentipun ia tak mampu.

          Hyojin membuka pintu kaca Espresso Cafe. Namjoo yang kebetulan sedang membersihkan beberapa meja dengan refleks melemarkan kain yang ia gunakan untuk membersihkan meja itu ke lantai.

          Namjoo menghampiri Hyojin yang terlihat tidak baik-baik saja. Ia menuntun sahabatnya itu ke salah satu meja mengambil kotak pertolongan pertama dan memperban tangan kanan sahabatnya itu.

          “ Kenapa kau memukulnya ? “ tanya Namjoo sedikit kesal dengan tindakan Hyojin.

          “ Hanya ingin memukul “ jawab Hyojin tak berdosa.

          “ Haissh.. kau ini selalu saja “

          Namjoo memukul kepala Hyojin tapi Hyojin tak sedikitpun marah atau meringis kesakitan ia hanya memperhatikan jemari-jemari Namjoo yang sedang asik memperban tangannya. Namjoo menyarankan Hyojin untuk kerumah sakit agar tangannya bisa mendapatkan perawatan yang efektif namun Hyojin dengan tegasnya menolak dan Namjoo-pun tak bisa berbuat apa-apa.

          Ia meninggalkan sahabatnya itu dan kembali mengerjakan tugasnya yang terhenti tadi.

Hyojin pun tak tahu apa yang harus ia lakukan beruntung Bibi Jang pemilik cafe tersebut memberikannya libur hari itu. Hyojin hanya bisa duduk manis memperhatikan Namjoo bekerja atau melihat beberapa pelanggan yang berdatangan karena pulang keumahpun tak akan berarti baginya.

          Tidak cukup membosankan bagi Hyojin duduk berpuluh-puluh menit di cafe itu. Dia hanya senang melihat banyak pelanggan yang berkeliaran keluar masuk mendorong dan menarik pintu kaca cafe itu.

          Namjoo datang dengan membawa secangkir Cappucino hangat kesukaan Hyojin. Ia sodorkan cangkir itu kepada Hyojin dan Hyojin-pun tersenyum mengambil secangkir Cappucino itu dengan tangan kirinya.

          “ Hyojin-ah aku dengar pria yang waktu itu adalah anak dari pemilik perusahaan sepatu terbesar di Seoul “

          “ Kau bahkan lebih kaya darinya “ ujar Hyojin sembari menyeruput Capuccino miliknya.

          “ Apa ? Tapi.. itu kan milik Arabeoji bukan milikku “

          “ Tak ada bedanya. Kau, aku dan Ahjussi itu sama-sama  anak pengusaha. Jika dia kaya, kau dan aku juga semestinya seperti itu walau nama kita tak ada didaftar harta itu Hahaha “ Hyojin tertawa lepas sedangkan Namjoo diam tak mengerti ucapan Hyojin.

          “ Hmm.. apa kau menyukainya ? “

          Tak ada secercah suarapun yang keluar dari mulut Hyojin, ia hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan sahabatnya itu.

          “ Bagaimana dengan Minwoo ? “ lanjutnya.

          Hyojin menatap Namjoo lekat menaruh cangkir Capuccino yang sedari tadi ia pegang. Menghela nafas dan sedikit memperbaiki posisi duduknya.

          “ Namjoo-ah… Tidakkah kau menyukainya ? “

          Mendengar ucapan Hyojin, Namjoo menundukkan wajahnya ia merasa seluruh energinya terkuras dan kini ia sangat lemah. Namjoo bangkit dan segera meninggalkan Hyojin. Hyojin tak merasa bersalah mengenai itu. Ia membiarkan Namjoo seperti itu tanpa mencoba menenangkannya.

          Dan tak diduga kini orang yang tengah membuat Namjoo lemas karena mendengar namanya tiba didepan mata Hyojin. Minwoo yang melihat Hyojin segera menghampirinya dan duduk tepat dikursi yang Namjoo tempati sebelumnya. Namjoo-pun merasakan kehadiran Minwoo tapi ia tetap berdiri mematung ditempatnya.

          Perasaan Namjoo kacau. Apakah ia harus ikut berkumpul bersama Hyojin dan Minwoo atau tetap diposisinya sampai ia benar-benar merasa tenang. Dan pilihan kedua jatuh ketangannya. Ia pergi ke dapur tempat cafe tersebut merebahkan tubuhnya ke kursi meja makan dan tak lupa menidurkan kepalanya sembari memendamkan wajahnya pada kedua tangannya.

          Setelah beberapa menit ia terbuai dalam kesendiriannya, seseorang dengan lembut menyentuhkan tangannya ke pundak Namjoo.

          “ Namjoo-ah “ suara yang lembut ciri khas seorang No Minwoo.

          Namjoo yang terkejut mendengar suara itu masih tak berani mengangkat wajahnya. Ia tetap diam hingga membuat Minwoo terus memanggil-manggil namanya.

          “ Pergilah, aku sedang tak enak badan dan aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk dirimu “ ujar Namjoo angkat bicara masih dengan wajah yang tenggelam.

          Minwoo tak menjawab apapun tangannya masih memegang pundak Namjoo. Sesaat kemudian Namjoo tak merasakan lagi ada sesuatu yang menyentuhnya, ia angkat wajahnya dan tak ada siapa-siapa disana hanya dia sendiri.

TBC

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s