FF Oneshoot [MyungYeol Couple] | A Memorable Regret

Light Abstract (74)

 

Title            : A Memorable Regret

Author        : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast            

– Kim Myungsoo

– Lee Sungyeol

Other

– Kevin Woo

Genre          : Sad, Shoujo-ai (No YAOI)

Lenght         : Oneshoot

Rating          : PG 16

 

Cast Lee Sungyeol adalah milik Kim Myungsoo dan Cast Kim Myungsoo adalah milik Author

Author bawa FF Khusus MYS…

Happy Reading

 

 

Seorang pria tampan kini tengah duduk berdua dengan seorang pria yang cukup di kategorikan imut. Mereka adalah Kim Myungsoo dan Lee Sungjong  Duduk bersampingan dengan sangat mesra membuat siapapun yang melihat mereka akan iri kepada Sungjong karena bisa duduk mengobrol berdua dengan Myungsoo yang notabene pria paling populer dan pastinya sangat tampan.

Dari kejauhan tampak seorang pria manis bernama Lee Sungyeol sedang memperhatikan Myungsoo dan Sungjong dengan tatapan sendunya. Ia menundukkan kepalanya membalikkan tubuhnya bersandar pada dinding sekolahnya.

Dengan gontai ia berjalan keluar gerbang sekolah. Menatap hujan yang mulai terjatuh menimpa tubuhnya yang lemah. Ia mainkan jemarinya di bawah rimai air langit. Sejenak ia tak merasakan lagi hujan yang menghantam basah tubuhnya. Ia mendongakkan kepalanya, payung… seseorang sedang melindunginya dengan sebuah payung transparan.

“ Kevin-ah “ sahutnya lemah.                       

Orang yang memayunginya itu adalah Kevin teman sekelasnya. Kevin membuat sesimpul senyuman dan melemparkannya pada Sungyeol namun Sungyeol menerimanya dengan senyuman pasrah yang dipaksakan.

“ Jangan bersedih, semua bukan salahmu ataupun salahnya. Semua ini terjadi karena roda yang berputar “ ujar Kevin mencoba memberi semangat pada Sungyeol yang di lihatnya sedang tak baik-baik saja.

Sungyeol mengangguk pelan mencoba tersenyum seikhlasnya.

∞     

  “ Myungsoo-ah “

Sungyeol menghampiri Myungsoo yang sedang duduk mematung seorang diri di kantin sekolah, padahal siswa-siswa yang lain sedang mengantri untuk mendapatkan makan siang mereka tapi Myungsoo.. Ia hanya duduk diam memperhatikan siswa-siswa yang lain.

Myungsoo tak menghiraukan Sungyeol, ia tetap diam tanpa mengalihkan pandangannya dan tak berniat sedikitpun untuk melihat Sungyeol yang kini sudah berada tepat di hadapan Myungsoo.

Panggilan-panggilan Sungyeol sama sekali tak tertangkap oleh telinga Myungsoo lebih tepatnya sengaja tak menggubris.

Kali ini Sungyeol tak merubah posisinya ia justru berdiri semakin dekat di hadapan Myungsoo dan itu membuat Myungsoo risih akan tingkahnya.

“ Yaa, apa yang kau lakukan ? Aku sudah menyuruhmu jangan pernah menggangguku lagi. “

Sungyeol diam menatap Myungsoo yang mulai pergi meninggalkannya. Myungsoo membenci dirinya… Myungsoo benar-benar membencinya… Ini bukan Myungsoo yang dulu yang pernah Sungyeol kenal, Myungsoo yang ini berbeda karena kesalahan yang Sungyeol buat tanpa izin dari Myungsoo.

Beberapa siswa yang melihat Myungsoo marah meninggalkan Sungyeol segera mengeluarkan ejekan kepahitan dari bibir manis mereka. Karena Sungyeol Myungsoo menjadi arogant, karena Sungyeol pula Myungsoo tak ingin lagi bersosialisasi dengan siswa lain kecuali Sungjong.

Sungyeol yang tak tahan akan hal itu menghampiri beberapa siswa itu dan tanpa perintah langsung memberi hadiah berupa sebuah pukulan yang cukup keras yang mampu membuat bibir siswa itu mengalirkan darah perlahan.

Semua siswa terkejut, bagaimana tidak Sungyeol yang di kenal sangat baik dan sangat membenci perkelahian kini dengan mudahnya memukul salah satu siswa dengan ganas.

Ternyata bukan hanya Myungsoo yang berubah, Sungyeol pun kehilangan dirinya yang dulu selalu ceria, senang berbagi, bercanda tawa bahkan sampai mengerjai siswa-siswa di Gyeongsan Sciense High School dan sekarang hanya ada Lee Sungyeol yang selalu murung, putus asa, dan lebih senang menyendiri.

Lagi-lagi Sungyeol harus melihat pemandangan yang menyakitkan. Myungsoo sedang menggenggam erat jemari tangan Sungjong. Sesekali merapikan rambut depan Sungjong, merangkul bahu ke kecil Sungjong, mengacak rambut hitam berkilau milik Sungjong.

Mereka berdua – Myungsoo dan Sungjong – berlalu melewati Sungyeol yang merasa seluruh tubuhnya seperti di sengat listrik, Fikiran yang berterbangan tak tentu arah, tatapan kosong menggelayuti perihnya hati Sungyeol saat itu.

Padahal matahari di atas sana dengan mudahnya sedang bersinar cerah tapi mengapa Sungyeol tak bisa melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Dia merindukan Myungsoo, merindukan sentuhan tangan Myungsoo yang selalu memeluknya dengan lembut.

Hanya Myungsoo yang bisa membuat Sungyeol tersenyum karena pada kenyataannya saat Myungsoo tak lagi ada di sampingnya, ia tak lagi memiliki seutas tali senyum pada dirinya bahkan Kevin yang selalu ada untuknya yang tak kalah terpujanya dengan Myungsoo tak mampu membuat Sungyeol menyungginggankan sedikit bibir pinknya.

Walau begitu Kevin tak menyerah, sekeras apa Sungyeol acuh pada dirinya Kevin tak pernah takut untuk terus berusaha mengembalikan raga Sungyeol.

Kevin melihatnya, semua yang terjadi pada Sungyeol Kevin melihatnya. Saat Sungyeol menangis, terkulai lemas bahkan sampai kehancuran hati Sungyeol saat melihat Myungsoo dan Sungjong, Kevin melihat itu semua.

Sungyeol menopang ranselnya, berjalan di bawah dinginnya udara kota Gyeongsan. Menapaki kakinya yang di seret lemas di atas lantai jalanan yang terbalut daun-daun kering. Menundukkan kepalanya dan sesekali menghela nafas panjang.

Tak ada banyak orang berkeliaran di luar sana, tampaknya udara yang terlampau dingin membuat semangat sebagian warga Gyeongsan enggan menginjakkan kaki di jalanan dan lebih memilih terkurung di rumah atau kantor tempat mereka bekerja.

Sungyeol mendengar langkah kaki seseorang di balik punggungnya. Ia berhenti dan orang itu melesat melewati Sungyeol. Mata Sungyeol terperanjat kepada orang yang baru saja melalui dirinya. Ia berlari mendapatkan orang itu dan mengambil lengan kekar milik orang itu.

“ Myungsoo-ah “

Dia Myungsoo, pria dingin yang telah di lukai hatinya oleh Sungyeol. Dengan gesit Myungsoo menghempaskan genggaman Sungyeol, memberi isyarat kepada Sungyeol untuk menjauh darinya. Tapi bukan Sungyeol namanya jika akan menyerah untuk mendekati Myungsoo dan mendapatkan hatinya kembali.

“ Ku mohon jangan membenciku “ lirih Sungyeol.

Myungsoo tersenyum kematian dengan sinis, menatap lekat bola mata Sungyeol yang terjaga sketsa-sketsa air kaca.

“ Kau yang membuatku membencimu “ pekik Myungsoo datar.

Ia berbalik meninggalkan Sungyeol yang nyaris saja mengizinkan permata-permata yang tersimpan di matanya bermain riang di wajahnya.

Dua hari sudah Myungsoo tak pernah mendapati Sungyeol menganggu dirinya lagi, Sungyeol bahkan tak pernah terlihat lagi di mana-mana. Dua hari itu semua siswa di kelas tak lagi mengacau bermain, semua diam membungkam mulutnya begitu juga dengan Kevin dan Sungjong.

Di ujung sana terdapat sebuah kursi kosong yang tak lagi di tempati oleh pemiliknya, Sungyeol. Awalnya Myungsoo merasa perubahan itu biasa saja dan masalah Sungyeol tak lagi terlihat, ia berfikiran  mungkin Sungyeol sedang sakit.

Tapi apa hubungannya dengan semua siswa yang mengunci bibir mereka dengan tidak adanya kehadiran Sungyeol ?

Jam istirahat Myungsoo menghampiri Kevin yang berada di halaman sekolah seorang diri. Ia ingin bertanya sesuatu pada Kevin yang raut wajahnya melukis kesedihan.

“ Kevin hyung “ panggil Myungsoo membuat Kevin menolehkan wajahnya ke arah orang yang menyebut namanya.

“ Apa yang terjadi ? Kenapa akhir-akhir ini kalian tak saling berbincang dan kenapa Sungyeol tak masuk sekolah ? “ tanya Myungsoo yang sejujurnya penasaran dengan Sungyeol.

Kevin diam, pandangannya melihat lantai di bawahnya. Myungsoo kesal berulang kali ia memaksa Kevin untuk berbicara dan sepertinya sangat susah bagi Kevin untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Myungsoo.

“ HYUNG “ nada Myungsoo sedikit meninggi.

“ Sungyeol… dia… dia sudah meninggalkan dunia ini “ gumam Kevin.

 Myungsoo tercengang, apa yang ia dengar ini sungguh tak bisa di terimanya dengan jernih. Ia menatap Kevin parau yang juga menatap dirinya dengan sendu.

“ Dua hari yang lalu ia mendapat sebuah kecelakan sepulang sekolah. Waktu itu aku melihatnya menangis tapi aku tak bisa menolongnya dari hal buruk yang menimpanya itu “

Myungsoo hanya diam membuat langit tiba-tiba saja berubah gelap.

“ Kau tahu Myungsoo, Sungyeol tak pernah berniat menyakitimu. Kau tak tahu betapa hancurnya dia saat terpaksa harus meninggalkanmu, kau tak tahu betapa sakit hatinya terluka saat melihatmu bersama Sungjong. Semua ini ia lakukan untuk Sungjong yang ternyata juga menyukaimu, kau tahu betapa dia sangat menyayangi Sungjong, adiknya “

Myungsoo terjatuh di lantai mendengar semua penjelasan dari Kevin. Kini yang tertinggal hanya penyesalan, rasa marah pada diri sendiri. Sungyeol orang yang ia anggap telah mengkhianatinya ternyata itu hanyalah fikiran pembodohan..

Menyesal.. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Myungsoo. Kehancuran hatinya saat ini sama besarnya dengan terlukanya hati Sungyeol saat Myungsoo membenci dirinya.

Tak bisa mengobati luka Sungyeol adalah kesalahan terbesar untuk Myungsoo. Kini tak ada yang bisa di lakukan selain menyesali kepergian Sungyeol, menatap hampa senyuman Sungyeol yang dulu.

Tak jauh sekitar 3m dari keberadaan Kevin dan Myungsoo, Sungjong berdiri kaku mendengar pembicaraan mereka, Dia menangis….

 

END

 

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

Iklan

FF Ficlet [Myungzy Couple] | Only Tears

coverff-Only Tearskjm

Title          : Only Tears

Author      : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast          

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre        : Sad

Lenght       : Ficlet

Rating        : T

Semoga suka…. 🙂

Aku melihatmu duduk di atas gedung sekolah, menenggelamkan wajahmu diantara kedua tanganmu yang bersandar pada lututmu. Menikmati setiap sentuhan air hujan yang meringkuk masuk membasahi tubuhmu dan tak peduli jika akan datang angin kencang nantinya yang mungkin akan memakanmu dalam dingin hempasannya.

Kau menangis, setidaknya itu yang ku ketahui dari isakan tangismu yang cukup jelas tertangkap oleh telingaku.

Kenapa ? Kenapa kau menangis ?

Apa yang membuatmu menangis ?

Aku menghampirimu, duduk disamping tubuhmu dan ikut merasakan kerasnya hantaman air langit yang terjatuh, hujan… sebuah anugerah dari Tuhan yang sangat aku cintai. Aku bertanya padamu dalam hening tapi kau hanya diam dalam selimut tangismu.

Tampaknya hujan tak lagi menemanimu namun kau tetap pada posisimu yang kali ini air matamu juga ikut berhenti mengalir. Tak lama kau bangun dari dudukmu, pergi meninggalkanku dan mengacuhkanku yang masih disampingmu.

Haruskah kau seperti ini Bae Suzy ?

∞            

 

 

Hari ini langit tersenyum cerah untukku, tapi kau… kau masih asik bersahabat dengan kesedihan. Kau duduk mematung di kursimu dan tak jarang menyembunyikan wajahmu.

Sepertinya kau tampak bosan dengan pelajaran Kang Songsaengnim hingga kau berkali-kali menutup wajahmu dengan buku. Tapi tunggu… tidak.. kau tidak bosan, kau sedang memikirkan sesuatu yang selalu saja mengiris tipis-tipis batinmu. Kau benar-benar kehilangan ragamu sampai-sampai tak mendengar desahan-desahan keras Kang Songsaengnim yang memanggilmu.

Akhirnya setelah beberapa kali mencoba memanggilmu, kau tersadar dari lamunanmu. Kang songsaengnim menyuruhmu keluar untuk mencuci muka tapi kau dengan acuh tak menuruti perintahnya, kau mengambil ransel putihmu kemudian melangkah keluar kelas.

Woohyun melakukan hal yang sama denganmu, ia berlari kecil menghampirimu agar bisa sejajar dengan langkahmu. Aku menatap kalian di pintu kelas. Suasana terkesan canggung tapi kau tak marah ketika Woohyun mengalungkan tangannya di bahu kecil milikmu.

Apa yang kau lakukan Suzy-ah ? Apa kau tak memikirkan perasaan kekasihmu yang melihatmu dengan santai di peluk pria lain ?

Kau tak peduli dengan kekasihmu yang berdiri terluka di depan pintu kelas ? Kenapa kau melakukan ini ?

Tak lama Woohyun melangkah menjauhimu hingga tak terlihat lagi oleh pandanganku yang masih memperhatikanmu. Ku lihat kau sedang duduk di kantin sekolah kita. Raut wajah murungmu membuat hatiku semakin terluka. Perih rasanya harus menyaksikan pertunjukkan ini.

Aku ingin memelukmu dalam dekapan yang lembut dan hangat, tapi aku tak bisa.

Kenapa ? Aku hanya ingin memelukmu.. Tak adakah kesempatan untukku melakukannya ?

Aku mencoba melangkahkan kakiku menghampirimu, namun terhenti dalam dua langkah kecil karena Woohyun sudah lebih dulu mengambil tempat di sebelahmu.

Woohyun mengatakan sesuatu padamu, entah apa kalimatnya aku tak bisa mendengarnya. Wajahmu tiba-tiba saja melukis kesenduan kalbu setelah mendengar ucapan Woohyun yang tampaknya sungguh sangat serius.

Dalam beberapa detik kau menangis, ya menangis lagi. Begitu mudahkah kau menangis ? Kau bahkan belum ada 24 jam setelah kemarin menangis ria di bawah hujan.

Woohyun menarik tubuhmu dalam pelukannya dan kau sama sekali tak menolaknya. Ku lihat ia mengelus lembut rambut panjangmu seperti yang dulu kulakukan kepadamu dan hanya sekali kulakukan.

Ini menyakitkan.. Kau menangis dalam pelukan Woohyun dan bukan padaku. Kenapa kau seperti ini Suzy-ah ? Apa yang telah ku lakukan padamu hingga kau selalu memberi tangis kehancuran untukku ?

Kau beranjak pergi bersama Woohyun dengan mobil AUDY miliknya dan aku mengikuti kalian di belakang. Kau dan Woohyun berhenti di suatu tempat, ya tempat dimana seseorang dapat mengirimkan seuntai doa untuk orang yang telah tiada.

Kau berhenti di depan meja salah satu orang yang telah meninggal dan meletakkan sebuket bunga kecil. Disana terletak dengan rapi sebuah frame foto dengan nama di bawahnya…. KIM MYUNG SOO….

 —- Kenapa kau meninggalkanku secepat ini Myungsoo-ah ? Apa kau tidak mencintaiku ? Kau seharusnya bertahan hidup jika kau mencintaiku….. —-

Lirihan itu… Lirihan yang keluar dari bibir manismu membuat tubuhku lemas seketika dalam penyesalan. Menyadarkanku dengan kejadian 4 hari lalu yang menimpaku saat ingin membeli hadiah ulang tahun untukmu.

Maafkan aku tak bisa bertahan melawan kecelakaan itu..

Maafkan aku harus membuatmu terus menangis…

Aku mencintaimu.. Dan akan terus mencintaimu hingga aku tak dapat lagi merasakan hal yang disebut cinta itu.

 

END

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Remember Love For Me

Cover-ff-remember-loveforme

Title        : Remember Love For Me

Author    : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Other cast

– Lee Byung Hun (L.Joe)

Genre        : Sad, Drama

Lenght       : Oneshoot

Rating        : T      

Author Note           : Insiprasi FF ini Dari MV Kim Sunggyu – 60s. FF dan ide cerita FF ini murni milik Author, dan cast Kim Myungsoo aka L hanya milik Author seorang, bukan milik WoolimEnt, Inspirit, Elements, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

 

–Happy Reading–

Butuh kekuatan super bagiku meninggalkanmu, mungkin juga aku butuh ilmu sihir untuk terus mencintaimu. Semua takkan mudah bagiku. Hanya memberikan alasanpun aku tak sanggup melakukannya. Hatiku terluka, sangat terluka lebih dari yang kau fikirkan.

Sekarang, dan untuk selamanya aku duduk di cafe ini seorang diri. Takkan ada lagi seorang pria tampan bermata elang dan senyuman kematiannya yang akan duduk tepat di hadapanku. Memberikan candaan yang selalu berhasil membuatku tersenyum.

Aku Bae Suzy seorang gadis yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati Kim Myungsoo, pria dingin dengan tatapan pembunuhnya kini dengan bodohnya melepaskan Kim Myungsoo tanpa sebuah alasan.

Aku berjalan menapaki daun-daun kering yang menjatuhkan diri mereka dari pohon. Bertemankan angin malam yang membeku aku berdiri di pinggir jalan menatap sekeliling orang yang berlalu-lalang di hadapanku menginjakkan kaki mereka di zebra cross.

Seseorang di seberang sana berdiri kaku dengan tatapan kesedihannya. Tak berhenti menatapku dengan kehancuran yang ku lukis di hatinya. Membuang semua cinta yang tumbuh dengan indah dan dengan mudahnya kuhancurkan dengan satu kata.

Maafkan aku !!

Mungkin aku egois, menghancurkan secara sepihak tanpa memikirkan perasaanmu. Tapi aku lebih bahagia kau menikah dengannya, dengan seseorang yang membutuhkan cintamu lebih dari diriku.

∞            

 “ Kau baik-baik saja ? “

Seseorang bertanya padaku. Dia adalah Lee Byunghun. Sahabat baikku sekaligus saudara tiriku karena Ayahku menikah dengan Ibunya. Sahabat yang selalu menemaniku sejak sebelum ia menjadi keluargaku.

“ Tentu saja “ jawabku tersenyum sekaligus berbohong mencoba untuk terlihat bahagia didepannya mengganggap seolah-olah tak terjadi apapun.

“ Kau akan datang ? “

Aku mengangguk, tentu saja aku akan datang di hari pernikahan orang yang kucintai. Itu sangat mudah untuk kulakukan lebih mudah dari pada berjanji selalu mencintainya.

 “ Bagaimana kalau kita jalan-jalan di taman ? “ ajak Byunghun.

Mungkin aku bisa menerima tawarannya sekaligus melepas kegundahan yang sejak kemarin menyelimuti otakku. Aku dan Byunghun pergi ketaman untuk sekedar bermain-main.

“ Tunggu disini jangan kemana-mana “ ujar Byunghun.           

Dia meninggalkanku sendiri, entah dia akan kemana yang jelas aku hanya bisa mengikuti nasihatnya untuk menunggu disini sampai dia datang. Aku menatap punggung Byunghun yang sudah semakin menjauh, menyandarkan tubuhku yang cukup lelah.

Tak lama Byunghun datang dan memyodorkan ice cream coklat kepadaku. Aku pun tanpa berfikir lagi langsung mengambil ice cream coklat itu. Menyeruputnya sedikit demi sedikit.

“ Euumm sangat lezat “ ucapku yang masih memakan ice cream.

Aku dan Byunghun menikmati ice cream masing-masing dan tak jarang kami saling bertukar santap, Byunghun bahkan berkali-kali menyuapi ku dengan ice cream cappucinonya. Ya begitulah kami bersikap layaknya pasangan kekasih bahkan itu sudah sejak kami berumur 7 tahun.

Bisa di bilang kami adalah sahabat sejati yang akhirnya di persatukan oleh ikatan persaudaraan. Aku sungguh beruntung bisa memiliknya, sahabat yang akan selalu memberikan semua semangatnya untukku. Jika muncul pertanyaan siapa yang lebih tua dari kami ? sudah jelas Byunghun akan menjawabnya dengan antusias bahwa dia satu tahun lebih tua dariku..

Kini langit sudah mengecat dirinya berwarna oranye, sangat indah. Aku dan Byunghun bergegas untuk pulang. Saat kami melawati sebuah cafe klasik yang terletak tak jauh dari taman, aku tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat aku kenal dari luar cafe.

Jung Eunji gadis yang akan menjadi pasangan hidup Myungsoo kini tengah duduk dihadapan Myungsoo. Mereka bercanda ria Myungsoo bahkan terlihat selalu tersenyum menikmati kebersamaan mereka berdua.

Apa Myungsoo bahagia ?

Dia bahagia bersama Eunji ?

Jika benar, itu akan menjadi kabar baik dan buruk untukku. Aku mencoba untuk tak menangis, aku sudah bisa mengontrol diriku untuk takkan pernah menangis dengan semua tindakan yang kupilih.

 Tanpa sadar Byunghun menolehkan wajahku yang masih asik memperhatikan Eunji dan Myungsoo. Aku menatap Byunghun dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

“ Jangan dilihat “ ucap Byunghun.

Aku menundukkan kepalaku mungkin Byunghun benar, aku tak perlu terus memperhatikan mereka. Aku tak ada hubungan lagi dengan mereka. Dan tak terduga olehku saat aku ingin kembali melihat mereka, Myungsoo kini berada tepat disampingku. Dia hanya menatapku tanpa lagi memberikan senyuman kepadaku seperti saat aku dan dirinya masih bersama.

Dan saat ini aku benar-benar tak bisa mengurung cairan bening itu terus bersandar di mataku. Aku menumpahkan semuanya, membiarkan mereka keluar dengan riangnya.

Jari-jari Myungsoo dengan lembutnya menyentuh wajahku, menghapus air yang bercucuran di pipiku. Tak ada senyuman sedikitpun darinya membuatku semakin ingin menangis.

Aku menghempaskan tangannya yang masih mencoba menghapus air mataku. Kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan Byunghun yang masih terdiam kaku.

∞            

Duduk di kasur tempat tidurku saat malam hari sembari memainkan ponsel mungkin adalah kegiatan baru untukku. Aku memang belum bisa melupakan Myungsoo bahkan aku masih menaruh rapi frame foto kami berdua di meja tempat tidurku.

Ku letakkan ponselku dia atas tempat tidur meninggalkannya sendiri sedangkan aku pergi ke kamar Byunghun untuk sekedar mengobrol dengan dirinya.

_

_

Aku kembali ke kamarku untuk istirahat tapi sebelum itu aku sempat mengecek ponselku dan ada sebuah pesan baru dari Myungsoo.

–Temui aku di laut sekarang !!–

Untuk apa dia ingin bertemu dengan ku ? Entahlah apa yang difikirkannya saat ini. Selang beberapa detik ponselku bergetar sebuah pesan baru lagi dari Myungsoo.

–Aku akan tetap disini sampai kau datang.–

Oh Tuhan.. pesan pertamanya itu sudah satu jam yang lalu dan kini dia masih menungguku. Segera ku kenakan jaket putih yang ku gantung di lemari pakaianku. Berlari secepat mungkin agar Myungsoo tak terlalu lama menunggu. Langkah ku terhenti di pinggir jalan memastikan tak ada kendaraan yang melintas agar aku bisa menyeberangi jalan dengan selamat.

Ku lihat seseorang sedang duduk di tengah tarian ombak laut di malam hari. Dia pasti Myungsoo, aku melangkahkan kaki menghampirinya duduk tepat disampingnya.

Hening

_

Myungsoo tetap diam begitupun dengan diriku. Apa yang harus aku katakan, melihat wajahnya saja aku tak mempunyai keberanian. Sungguh ironis memang, semua tindakan yang ku pilih mampu merubah kepribadian Myungsoo yang selalu ceria menampakkan senyuman indahnya namun sekarang hanya ada ekpsresi datar dan dingin yang terlihat.

“ Kau baik ? Kau tidur dengan baik akhir-akhir ini ? “ tanyanya memecah keheningan.

“ Eumm “ aku mengangguk pelan dengan sedikit senyuman “ Kau baik ? “ lanjutku bertanya padanya.

“ Tidak sebaik yang kau harapkan “

Mendengar jawabannya kini aku mengerti. Aku mngerti perasaannya sama dengan yang saat ini aku alami. Haruskah aku menyakitinya seperti ini ? Jangan katakan apapun karena aku takkan sanggup mendengarnya.

“ Aku ingin merayakan perpisahan kita disini “ ujar Myungsoo membuatku terkejut.

“ Myungsoo-ah “

“ Yaa Bae Suzy… bukankah ini yang kau mau ? Berpisah dengan ku itu kan yang kau mau ? Aku akan mengabulkannya, mari kita mengakhirinya disini “

Suaranya sendu namun sangat tegas. Benar, memang benar aku yang menginginkan hubungan ini berakhir. Bukankah ini sangat bagus sesuai rencanaku. Tapi aku benar-benar tak bisa berbohong lagi, aku benar-benar… Tak bisa, tak bisa di jelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum.

Aku menatapnya dan kulihat pergelangan tangannya. Gelang itu ? Myungsoo masih mengenakannya. Ini buruk sangat buruk.

“ Tentu saja “ balasku

Myungsoo mendongakkan kepalanya ke arahku. Tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan mata elang yang kini tengah melihatku, bukan juga bibir manis dari Kim Myungsoo yang kini tengah tersenyum untukku. Semuanya.. semuanya tatapan dan senyuman kebencian.

∞            

Akhirnya hari ini tiba, hari dimana aku tak bisa mnegharapkan Kim Myungsoo untuk selamanya. Hari yang akan mengubah hidupku mulai detik ini. Aku mengenakan dress putih selutut berlengan pendek, gaun yang sangat manis. Sengaja aku tak memakai higheels karena aku lebih nyaman mengenakan sepatu sport berwarna putih kesayanganku.

Byunghun dengan senang hati mengantarkanku ke pernikahan Kim Myungsoo dan Jung Eunji.

Pernikahan ?

Kim Myungsoo dan Jung Eunji.

_

_

Aku memasuki altar tempat pernikahan Myungsoo dan Eunji. Semua orang sudah berkumpul disana, duduk diposisi mereka masing-masing dan aku ikut mengambil bagian dan duduk di kursi yang masih kosong tepat di belakang mereka menyaksikan dimulainya acara pengikatan dua insan.

Kim Myungsoo terlihat sangat tampan dengan jas pengantinnya, benar-benar elegan dan menambah nilai plus akan ketampanannya. Jung Eunji pun tak kalah gaun pengantinnya memperlihatkan kecantikan yang lebih darinya, sangat serasi dengan ketampanan Kim Myungsoo. Dengan lembut langkahnya berjalan menghampiri Myungsoo yang mungkin sudah menunggu dirinya.

Acara pengikatanpun telah tiba. Haruskah aku berada disini menyaksikan Kim Myungsoo orang yang masih aku cintai bertukar cincin dengan seorang gadis yang aku putuskan akan menjadi pasangan hidupnya.

Tidak… aku rasa aku tidak akan melakukan itu. Aku terlalu sakit, ya sangat sakit karena tindakan bodohku. Aku beranjak dari posisiku melangkahkan kaki dari altar pernikahan. Terus berjalan mengikuti langkahku yang tak tentu arah.

Akhirnya aku memutuskan pergi ke taman, mungkin disana aku bisa lebih tenang.

_

Dan aku salah bukan tenang yang aku dapatkan tapi sakit yang teramat terus saja menghajar batinku.

Menangis.. hanya itu yang bisa ku lakukan. Menangis dalam kehancuran yang kuciptakan sendiri, menyesal dalam kepahitan yang ku taburkan di hatiku dan Myungsoo.

Air mataku tak henti-hentinya bermain di wajahku. Aku mencintai Myungsoo, sangat mencintainya dan aku benar-benar menyesal melepaskannya pergi.

_

Dan sebuah tangan kini sedang membasuh wajahku dengan lembut. Ia berlutut dihadapanku dengan senyuman yang selama ini aku rindukan.

“ Myungsoo “ lirihku.

Tapi kenapa Myungsoo bisa ada disini bukankah dia seharusnya sekarang sedang memasangkan cincin ke jari manis Eunji. Apa yang ia lakukan ? apa ia sudah gila ?

Dia mengahapus air mataku dan aku menggeleng-gelengkan kepalaku lemah sembari menjauhkan tangannya dari wajahku.

“ Ya aku sudah gila. Aku bodoh karena menuruti permintaanmu yang jelas-jelas kau tak tulus menginginkannya “ ujar Myungsoo seakan ia tahu isi hatiku.

“ Aku takkan menikah dengan siapapun karena aku hanya mencintaimu “ sambungnya.

Senyuman itu, senyuman asli dari Kim Myungsoo. Nyatakah ini semua, aku sedang tak bermimpi kan ?

Lagi, cairan bening mengalir dari mataku, aku menatapnya, dia masih sama hanya memberikan senyuman mematikannya.

Myungsoo menyelimuti tubuhku dengan pelukannya, erat namun lembut. Pelukan yang kurindukan kehangatannnya. Pelukan yang memberikan kesejukan dihatiku.

“ Berjanjilah akan tetap saling mencintai dan berhenti ketika kita benar-benar tak bisa melakukannya lagi “

END

 

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

FF Chapter [MyungJin Couple] | Love And Age Part 1

FFCover-Loveandage-part1

Title              : Love And Age [Part 1]

Author          : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myongsoo

– Park Hyojin

Support cast

– Kim Namjoo

– No Minwoo

– Kim Kyoung Jae

Genre              : Romance, Sad

Lenght            : Chapter

Rating             : PG 15

AUTHOR POV

 

          Musim dingin sudah mulai meracuni kota Seoul, Angin setiap detiknya menari di sepanjang jalan tanpa batasan waktu. Daun-daun yang tenang pun ikut menikmati tarian angin yang  menghempas mereka. Hyojin dan sahabatnya Namjoo yang baru saja meninggalkan sekolah mereka kini berjalan kaki untuk bergegas pulang, mereka bisa merasakan kedinginan udara kota Seoul siang itu. Candaan mereka mampu menghangatkan suhu tubuh mereka, walau pada logikanya itu mustahil.

          Tiba-tiba seorang pria berjas hitam yang tampak elegan menabrak Hyojin yang masih asik bercanda ria dengan Namjoo. Pria itu bernama Kim Myungsoo. Hyojin yang tersohor ke lantai jalanan meringis kesakitan, sedangkan sahabatnya Namjoo ikut terduduk memegangi lengan Hyojin.

          Myungsoo segera menolong Hyojin berdiri, seketika syaraf otaknya berhenti. Ia terdiam dalam waktu yang cukup lama setelah Hyojin menoleh kearahnya. Entah apa yang terjadi Myungsoo merasakan ritme detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

          Wajahnya… Sangat manis !! Batin Myungsoo.

          “ Ahjussi “ panggil Hyojin karena bingung dengan tingkah laku Myungsoo.

          Myungsoo tak mengindahkan panggilan Hyojin. Pada detik panggilan terakhir barulah Myungsoo sadar dari lamunannya. Myungsoo segera memegang lengan Hyojin berniat untuk membantu Hyojin berdiri.

          “ Sebaiknya kau lebih berhati-hati dan memperhatikan langkahmu agar kau tidak menabrak orang lagi “ ujar Myungsoo kemudian berlalu meninggalkan Hyojin dan Namjoo.

          Hyojin tercengang dengan kalimat yang di lontarkan Myungsoo, bukankah yang salah itu Myungsoo. Myungsoo yang menabrak dirinya lantas mengapa Hyojin yang diberi nasihat oleh Myungsoo.

          “ Mengapa semua orang dewasa hanya bisa menyalahkan seorang anak kecil, padahal anak kecil itu tidak bersalah “ ucap Hyojin dengan nada tinggi dan cukup lantang.

          Myungsoo yang saat itu bersama dengan seorang pria yang sebaya dengannya menoleh kearah Hyojin yang kebetulan Myungsoo belum terlalu jauh meninggalkan Hyojin dan Namjoo sehingga ia bisa mendengar jelas ucapan Hyojin barusan.

          Myungsoo kembali menghampiri Hyojin. Saat dirinya tepat sudah berada dihadapan Hyojin, ia justru menyentuh kening Hyojin.

          “ Gadis kecil kau sakit ? “ sahut Myungsoo datar seakan dirinya tak melakukan dosa apapun.

          Hyojin melongak kaget karena Myungsoo dengan berani menyentuh keningnya. Ia hanya bisa menatap heran Myungsoo.

          Myungsoo yang tak mendapatkan respon dari Hyojin melepaskan syal putih yang saat itu ia kenakan. Ia mengalungkan syal itu keleher Hyojin, dan sekali lagi Hyojin  benar-benar terkejut dengan tingkah laku Myungsoo tak terkecuali dengan Namjoo dan pria yang bersama Myungsoo.

          “ Tak apa, kau bisa mengembalikannya jika kita bertemu lagi. Sebaiknya kau segera pulang, cuaca hari ini tidak bagus untuk diajak bermain “ ucap Myungsoo tersenyum.

          “ Dan satu lagi aku tidak setua yang kau fikirkan jadi kau tidak perlu memanggilku Ahjussi “ sambungnya.

          Benar-benar kejadian yang diluar nalar fikiran Hyojin, Myungsoo tanpa merasa bersalah sedikitpun melontarkan kalimat-kalimat yang benar-benar membuat Hyojin berdecak kagum penuh keheranan.

          Untuk pertama kalinya Myungsoo dapat merasakan jantungnya yang berdekup kencang. Tapi mengapa dengan gadis SMA. Wajahnya benar-benar manis Myungsoo bahkan tak berani menatapnya terlalu lama.

          Mungkinkah Myungsoo menyukai Hyojin, atau hanya perasaan sesaat karena wajahnya yang sangat manis.

          “ Kau tak seharusnya seperti itu “ ucap Kyoung Jae tiba-tiba yang tak lain adalah Myungsoo’s Hyung.

          Myungsoo tak menghiraukan Kyoung Jae hanya fokus dengan gitar yang saat ini berada dipangkuannya.

          “ Mengalungkan syal ke lehernya itu sungguh tidak pantas kau lakukan terlebih kau tidak mengenal gadis itu “ sahut Kyoung Jae yang kali ini merampas gitar dari pelukan Myungsoo.

          “ Apa itu sebuah tindakan kriminal ? Aku hanya kasihan melihatnya kedinginan “ balas Myungsoo yang akhirnya membuka mulut.

          “ Jika kau melakukan itu pada gadis seusiamu mungkin mereka akan jatuh hati padamu, tapi dia hanya gadis kecil yang mungkin akan berfikiran yang aneh-aneh tentang dirimu “

          “ Dia gadis yang pintar dia pasti bisa berfikir rasional “ sahut Myungsoo dengan bangganya dan dengan sedikit senyum tipis di bibirnya.

          Kyoung Jae menyerah dan melemparkan gitar Myungsoo yang berhasil di tangkap Myungsoo kemudian ia berlalu dari pandangan Myungsoo.

          Kini ponsel Myungsoo berdering, ia segera mengambil ponselnya yang terletak tepat disampingnya. Sebuah nama terpampang jelas di layar ponsel Myungsoo.  Myungsoo merasa malas untuk menjawab panggilan yang ternyata dari Ayahnya. Ia membiarkan ponselnya tergeletak tanpa menyentuhnya sedikitpun. Sudah berulang-ulang kali ponselnya berdering tapi ia tetap saja sibuk memetik senar-senar gitarnya.

          Ia tahu pasti Ayahnya akan membicarakan masalah perusahaan lagi dan menyuruh dirinya untuk menduduki posisi sebagai Direktur di perusahaan Ayahnya.

          Menjadi anak pemilik perusahaan terrbesar di Seoul tidaklah menyenangkan bagi Myungsoo. Ia sama sekali tak menarik minat untuk berurusan dengan pekerjaan seperti itu.  Ia lebih memilih bermain dengan gitar kesayangannya atau pergi kerumah Sungyeol sahabatnya.

          Walau begitu Myungsoo tetap menjalankan pekerjaan itu karena perintah Halmeoni yang sangat ia sayangi. Permintaan apapun yang diminta Halmeoninya meski itu tak disukai olehnya, ia akan tetap melakukannya karena ia sangat menyayangi Halmeoninya dan tak ingin mengecewakan Halmeoninya.

HYOJIN POV

 

          Hari ini aku bangun lebih pagi hanya sekedar untuk melihat matahari terbit. Sangat indah.

          Setelah puas melihat, aku pergi kekamar mandi bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Setelah keluar dari kamar mandi aku segera membalut tubuhku dengan seragam sekolahku. Seragam yang cantik dan juga sekolah favoritku.

Seoul Internasional High School memang sekolah yang cukup populer aku saja mengagumi keelitan dan keindahannya dan untung saja Ibuku mengizinkanku bersekolah di sana.

Setelah kurasa semua yang kukenakan sudah terpasang rapi aku segera keluar kamar dan menuju meja makan untuk sarapan jika tidak Ibu akan memarahiku habis-habisan. Bisa dibayangkan sendiri hanya karena tidak sarapan kau bisa tidak diizinkan keluar rumah seharian dan itu membuatku takut karena biasanya sehabis pulang sekolah aku akan pergi ke sebuah Espresso Cafe yang tak terlalu besar hanya sebuah cafe  kecil.

Disana aku bekerja bersama Namjoo, bukan apa-apa aku hanya kesepian jika dirumah seharian tanpa seorangpun yang menamaniku. Dan jika Ibuku mengetahui aku bekerja di Espresso Cafe aku tak tahu hukuman apa lagi yang akan diciptakannya.

“ Hari ini kau tidak perlu sekolah “ sahut Ibuku memulai pembicaraan.

“ Apa ? Tapi kenapa ? “ tanyaku tak percaya.

Ibuku tak menjawab pertanyaanku dia hanya menatapku sesaat dan kemudian melangkah keluar rumah. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ? Menetap dirumah seorang diri seharian penuh ?

Aah Ibuku  benar-benar tak mengerti dengan keinginanku. Dia dengan kuasanya menyuruhku untuk tidak bersekolah, dia bahkan tak memberitahu alasannya kenapa.

Sudah berjam-jam aku hanya duduk di sofa memandangi layar televisi yang menyala, bermain-main dengan tombol remote yang berada digenggaman tangan kiriku berharap menemukan acara yang bisa menghilangkan kebosanan ini. Karena tak juga menemukan sesuatu yang menarik akhirnya aku memutuskan untuk masuk kerja lebih awal, lebih baik tubuhku kelelahan daripada harus lumpuh berjam-jam diatas sofa.

Seragam coklat dan topi putih yang kini kukenakan. Aku berdiri dibalik box kaca dan dengan setia menunggu pelanggan memesan kopi sesuai rasa favorit mereka masing-masing. Aku mendengar beberapa pelanggan wanita sedang membicarakan sesuatu, semakin terdengar jelas bahwa mereka sedang membicarakan Ayahku.

“ Benar-benar diluar dugaan, pria berwibawa seperti itu sanggup membunuh “

“ Itu karena ia menyelamatkan seseorang “

“ Tapi orang itu benar-benar tidak tahu berterima kasih. Seharusnya ia bisa memberikan saksi pembelaan agar bisa mengurangi hukuman pria itu “

Aku masih termenung mendengar ocehan wanita-wanita penggosip itu, apa mereka tidak tahu kalau aku adalah anak dari pria yang mereka bicarakan itu. Mereka kan penggosip sejati seharusnya mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih mengenai Ayahku.

Tapi ini memang bukan salah mereka, wajar saja jika mereka membicarakannya. Semua orang diluar sana juga pasti melakukan hal yang sama bahkan wartawan-wartawan sekalipun. Ini juga bukan salah Ayah atau salahku, ini semua salah seseorang yang aku sangat mengenalnya.

Seperti biasa aku dan Namjoo pulang bersama. Tapi kali ini aku jalan lebih dulu karena Namjoo harus mengerjakan sesuatu.

Aku menuggu didepan gerbang sekolah karena tidak mungkin aku meninggalkan Namjoo. Selama apapun ia aku akan tetap menunggunya karena itulah kami, Hyojin dan Namjoo yang selalu setia untuk menunggu dalam hal apapun.

Aku melirik jam tangan biru yang melilit pergelangan tanganku. Angin berhembus kencang meniup tubuhku yang sedang berdiri seorang diri. Langit yang cerah seakan tersenyum padaku dan awan-awan putih diatas sana seolah-olah ikut melindungiku dibawah sini.

“ Hyojin-ah “ sahut Namjoo tiba-tiba menyentuh pundakku.

Entah sejak kapan ia disitu aku bahkan tak mendengar langkah kakinya. Aku tersenyum dan kemudian merangkul tangannya, melangkahkan kaki bersama-sama karena itu yang selalu kami lakukan.

“ Mengenai laki-laki yang kemarin bukankah ia sangat tampan Hyojin-ah ? “ tanya Namjoo yang kujawab dengan senyuman tipis tak berarti.

“ Bukankah kau selalu memimpikan pangeran setampan drinya ? “ lanjutnya.

“ Dia benar-benar tampan dari apa yang ku impikan, tapi sikapnya kemarin itu sungguh aneh “

“ Lalu apa rencanamu ? “

Tidak bisakah sahabatku ini tidak bertanya terus atau mengganti topik pembicaraan, aku sedang tidak ingin membahas hal itu lagi mengingatnya saja aku benar-benar tak habis fikir dengan Ahjussi itu.

Aku menghentikan langkahku dan mulai membuka resleting ransel putihku mengambil sesuatu yang terbungkus.

Tak selang beberapa detik ponsel Namjoo berdering, ia pun segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Kulihat raut sedih diwajahnya saat sedang mendengar seseorang diseberang sana berbicara padanya.

“ Hyojin-ah sepertinya aku tidak bisa bekerja hari ini. Hyejoo sakit aku harus menjaganya “ ucap Namjoo murung.

“ Tak apa, aku akan mengizinkanmu. Pulanglah “

Namjoo tersenyum kemudian dengan gesit berlari meninggalkanku. Aku melihat punggungnya semakin jauh lantas aku melanjutkan perjalananku. Aku berjalan menundukkan kepalaku dengan kedua tangan kumasukkan di saku jas sekolahku. Aku berjalan lemas karena tak ada Namjoo dan sesekali menendang kerikil yang menganggu langkahku.

Langkahku terhenti karena seseorang berhenti tepat di hadapanku.

Kenapa dia berhenti didepanku ? Mengganggu saja.

Aku mendongakkan kepalaku dan kudapati orang yang berdiri di hadapanku saat ini adalah Pria yang kemarin bertingkah aneh padaku.

Dia membungkukkan badannya tapi aku hanya bisa berdiri diam tanpa kata.

Kenapa tiba-tiba dia bisa ada disini ?

“ Senang bisa bertemu kembali “ ucapnya.

Tapi aku tak senang bertemu denganmu Ahjussi bodoh.

“ Kenapa ? “ dia menatapku heran dengan senyuman manis penjilatnya itu.

Aku menyodorkan bingkisan yang kuambil tadi. Dia menatapku dan bertanya isi bingkisan itu. Bingkisan itu berisi syal putih yang waktu itu tanpa berfikir panjang ia berikan padaku.

Dia tersenyum dan bukannya mengambil bingkisan itu dia malah menanyakan namaku.

Apa dia gila ? Tidak mungkin kan aku berbicara dengan orang tidak sehat kejiwaannya.

“ Hyojin, Park Hyojin “ jawabku

“ Kau bisa memanggilku Myungsoo. Apa kau baru pulang sekolah ? “ tanyanya lagi dan akupun dengan lelah hati mengangguk.

“ Apa kau ingin makan siang denganku? “

Apa ? Apa yang dikatakannya ? Makan siang ? Ya ampun dia sudah gila atau tidak waras. Mengajak orang yang tak dikenalnya makan siang tanpa basa-basi, aku benar-benar merinding dibuatnya.

“ Maafkan aku, tapi aku harus segera pulang “ tolakku sedikit berbohong.

“ Kalau begitu bisakah aku mengantarkanmu pulang ? “

Aigho… Sepertinya dia sedikit terganggu. Pertama ia dengan keberaniannya mengalungkan syal keleherku, tanpa rasa malu ia memberi tawaran makan siang bersama dan sekarang dengan wajah polosnya itu dia berkata ingin mengantarku pulang !! Dia bahkan tak mengenalku.

Apa ini yang selalu ia lakukan pada semua orang yang belum ia kenal. Benar-benar orang aneh.

Karena merasa risih dengan paksa aku memberikan bingkisan itu dan segera menghilang dari hadapannya.

“ Tunggu !! “

Langkah ku terhenti. Sekarang apa lagi ? Langkahku bahkan belum yang kelima. Aku mengela nafas mengirupnya dengan tenang dan menghempaskannya dengan lembut kemudian menoleh kearahnya.

“ Aku harap kita dapat bertemu lagi “ ucapnya dan begitu saja meninggalkanku tanpa permisi.

Oh Tuhan… sepertinya dia benar-benar pasien rumah sakit jiwa yang kabur dari perawatannya.

Ini gila, sangat gila. Dia berharap bertemu denganku kembali ? Itu benar-benar menyimpang dari keinginanku.

Aku sungguh menyesal selalu memimpikan pangeran seperti itu. Sangat berbeda dengan pangeran yang ku impikan.

AUTHOR POV

 

          Hari itu Hyojin terlibat perkelahian disekolahnya. Hyojin memukul teman wanitanya hingga membuat teman wanitanya itu mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.

          Hyojin-pun tak kalah, ia juga mendapat pukulan di tangannya. Sebuah pukulan yang sangat keras dari tongkat besi hingga membuat tulang sendi tangan kanan Hyojin sedikit retak.

          Tak puas hanya memukul wajah teman wanitanya, Hyojin juga mendorong kasar tubuh teman wanitanya itu kedinding dan sukses membuat teman wanitanya meringis kesakitan dan akhirnya pingsan. Entah apa yang menuntut Hyojin melakukan itu semua, yang ia tahu saat itu hanya-lah perasaan marah yang berlebih dengan teman wanitanya itu.

          Hyojin masih duduk di sofa rumahnya terperanjat dengan kemarahan Ibunya yang tak pernah habis fikir dengan tindakan Hyojin. Hyojin tak berkutik dia dengan setia mendengarkan bentakan yang dilontarkan dari bibir Ibunya.

          “ Apa kau sudah gila ? Kau itu adalah seorang gadis, sekarang lihat temanmu !! Dia sekarang terbaring dirumah sakit dan belum sadarkan diri “

          “ Aku tak menyuruhnya seperti itu “ sahut Hyojin datar.

          “ PARK HYOJIN !!! Apa kau ingin seperti Abeoji ? Huh ? “

          Hyojin tersentak ia diam lalu tersenyum penuh keterpaksaan.

          “ Ya, aku ingin seperti Abeoji. Aku ingin berada di sel kantor polisi bersama Abeoji, jauh dari Eomeoni itu yang kuinginkan “

          Hyojin beranjak dari duduknya memerintahkan kakinya melangkah keluar rumah secepat mungkin. Panggilan dari Ibunya tak lagi ia pedulikan meski Ibunya sudah berulang kali meneriaki namanya tapi ia tetap acuh dengan semua itu.

          Dengan gontai ia pergi ke cafe tempat ia bekerja dengan tangan kirinya yang masih memegang tangan kanannya. Sakit itu yang pasti ia rasakan, untuk sekedar menggerakkan tanggannya sesentipun ia tak mampu.

          Hyojin membuka pintu kaca Espresso Cafe. Namjoo yang kebetulan sedang membersihkan beberapa meja dengan refleks melemarkan kain yang ia gunakan untuk membersihkan meja itu ke lantai.

          Namjoo menghampiri Hyojin yang terlihat tidak baik-baik saja. Ia menuntun sahabatnya itu ke salah satu meja mengambil kotak pertolongan pertama dan memperban tangan kanan sahabatnya itu.

          “ Kenapa kau memukulnya ? “ tanya Namjoo sedikit kesal dengan tindakan Hyojin.

          “ Hanya ingin memukul “ jawab Hyojin tak berdosa.

          “ Haissh.. kau ini selalu saja “

          Namjoo memukul kepala Hyojin tapi Hyojin tak sedikitpun marah atau meringis kesakitan ia hanya memperhatikan jemari-jemari Namjoo yang sedang asik memperban tangannya. Namjoo menyarankan Hyojin untuk kerumah sakit agar tangannya bisa mendapatkan perawatan yang efektif namun Hyojin dengan tegasnya menolak dan Namjoo-pun tak bisa berbuat apa-apa.

          Ia meninggalkan sahabatnya itu dan kembali mengerjakan tugasnya yang terhenti tadi.

Hyojin pun tak tahu apa yang harus ia lakukan beruntung Bibi Jang pemilik cafe tersebut memberikannya libur hari itu. Hyojin hanya bisa duduk manis memperhatikan Namjoo bekerja atau melihat beberapa pelanggan yang berdatangan karena pulang keumahpun tak akan berarti baginya.

          Tidak cukup membosankan bagi Hyojin duduk berpuluh-puluh menit di cafe itu. Dia hanya senang melihat banyak pelanggan yang berkeliaran keluar masuk mendorong dan menarik pintu kaca cafe itu.

          Namjoo datang dengan membawa secangkir Cappucino hangat kesukaan Hyojin. Ia sodorkan cangkir itu kepada Hyojin dan Hyojin-pun tersenyum mengambil secangkir Cappucino itu dengan tangan kirinya.

          “ Hyojin-ah aku dengar pria yang waktu itu adalah anak dari pemilik perusahaan sepatu terbesar di Seoul “

          “ Kau bahkan lebih kaya darinya “ ujar Hyojin sembari menyeruput Capuccino miliknya.

          “ Apa ? Tapi.. itu kan milik Arabeoji bukan milikku “

          “ Tak ada bedanya. Kau, aku dan Ahjussi itu sama-sama  anak pengusaha. Jika dia kaya, kau dan aku juga semestinya seperti itu walau nama kita tak ada didaftar harta itu Hahaha “ Hyojin tertawa lepas sedangkan Namjoo diam tak mengerti ucapan Hyojin.

          “ Hmm.. apa kau menyukainya ? “

          Tak ada secercah suarapun yang keluar dari mulut Hyojin, ia hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan sahabatnya itu.

          “ Bagaimana dengan Minwoo ? “ lanjutnya.

          Hyojin menatap Namjoo lekat menaruh cangkir Capuccino yang sedari tadi ia pegang. Menghela nafas dan sedikit memperbaiki posisi duduknya.

          “ Namjoo-ah… Tidakkah kau menyukainya ? “

          Mendengar ucapan Hyojin, Namjoo menundukkan wajahnya ia merasa seluruh energinya terkuras dan kini ia sangat lemah. Namjoo bangkit dan segera meninggalkan Hyojin. Hyojin tak merasa bersalah mengenai itu. Ia membiarkan Namjoo seperti itu tanpa mencoba menenangkannya.

          Dan tak diduga kini orang yang tengah membuat Namjoo lemas karena mendengar namanya tiba didepan mata Hyojin. Minwoo yang melihat Hyojin segera menghampirinya dan duduk tepat dikursi yang Namjoo tempati sebelumnya. Namjoo-pun merasakan kehadiran Minwoo tapi ia tetap berdiri mematung ditempatnya.

          Perasaan Namjoo kacau. Apakah ia harus ikut berkumpul bersama Hyojin dan Minwoo atau tetap diposisinya sampai ia benar-benar merasa tenang. Dan pilihan kedua jatuh ketangannya. Ia pergi ke dapur tempat cafe tersebut merebahkan tubuhnya ke kursi meja makan dan tak lupa menidurkan kepalanya sembari memendamkan wajahnya pada kedua tangannya.

          Setelah beberapa menit ia terbuai dalam kesendiriannya, seseorang dengan lembut menyentuhkan tangannya ke pundak Namjoo.

          “ Namjoo-ah “ suara yang lembut ciri khas seorang No Minwoo.

          Namjoo yang terkejut mendengar suara itu masih tak berani mengangkat wajahnya. Ia tetap diam hingga membuat Minwoo terus memanggil-manggil namanya.

          “ Pergilah, aku sedang tak enak badan dan aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk dirimu “ ujar Namjoo angkat bicara masih dengan wajah yang tenggelam.

          Minwoo tak menjawab apapun tangannya masih memegang pundak Namjoo. Sesaat kemudian Namjoo tak merasakan lagi ada sesuatu yang menyentuhnya, ia angkat wajahnya dan tak ada siapa-siapa disana hanya dia sendiri.

TBC

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

 

FF Oneshoot [Myungzy Couple] | Because I Want To Know Your Heart

Coverff-becauseiwant-toknowyour-heart

Title           : Because I Want To Know Your Heart 

Author       : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kim Myungsoo

– Bae Suzy

Genre         : Sad, Hurt, Fluff

Lenght        : Oneshoot

Rating         : G

Author Note           : Ide cerita murni dari otak Author tapi sedikit terinspirasi dengan salah satu FF Kpopers. Cast Kim Myungsoo aka L juga milik Author, hanya milik Tuhan dan Author *senyumMalaikatIblisDariSurga

— Aku Mencintaimu —

Dua kata yang diberikan Myungsoo untukku saat salju mulai mengurung kota Seoul. Tapi sepertinya itu hanya permainan canda belaka seorang Kim Myungsoo.

Ia tak benar-benar serius mengatakan itu karena ia sama sekali tak memberikan perhatiannya padaku. Myungsoo bahkan saat ini sedang mencoba mendekati seorang gadis yang ia akui, ia menyukainya. Dan itu sudah jelas menjelaskan bahwa Myungsoo hanya bercanda dan kata itu bukan menunjuk ke arah dua insan melainkan hanya ungkapan rasa sayang kepada seorang teman.

Tapi sejak hari dia mengucapkan kata itu, takkan ada satu siswa pun yang mendapati aku dan Myungsoo bersama. Ya, sejak saat itu Myungsoo memisahkan dirinya dariku, kami tak pernah bermain bersama lagi bahkan untuk sekedar pulang bersama Myungsoo tak mau melakukannya lagi.

Ku lihat Myungsoo sedang membaca sebuah buku di kelas, pekerjaannya saat jam istirahat. Aku menghampirinya duduk miring di kursi depan mejanya. Pandangannya tak berpaling dari bukunya, tak menghiraukanku seperti aku tak terlihat olehnya.

“ Myungsoo-ah “

“ Eummm “

Dia hanya berdehem kecil, ada apa dengannya ? Hanya untuk menjawab panggilanku dia tak juga mau.

“ Kau tak pulang bersamaku lagi hari ini ? “

“ Maafkan aku, tapi aku akan pergi dengan Jiyeon “

Myungsoo menutup bukunya menatapku sedetik dengan sedikit senyuman kematiannya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku.

Lagi, untuk yang ke 27 kalinya ia beralasan membuat janji dengan Jiyeon agar bisa menghindar untuk tak pulang bersamaku. Ini sudah hampir satu bulan kami tak pernah bersama karena semua alasan-alasan yang sama dari Myungsoo.

Begitu besarkah cinta Myungsoo pada Jiyeon hingga bisa melupakan ku sebagai temannya.

Jujur saja aku mencintai Myungsoo, aku bahagia dia mengatakan itu padaku dan aku terluka karena dia menjauhiku. Aku kesapian berhari-hari tanpa dirinya. Menangis karena dia tak ingin lagi bersama ku untuk sekedar menjadi temanku.

Dia manis dan hangat tapi semua itu hanya dirinya yang dulu sebelum ia berubah menjadi dingin setelah melontarkan kalimat itu.

“ Myungsoo-ah “

Tak ada jawaban dari seseorang yang kupanggil itu. Sangat kejam.. Beginikah dia memperlakukanku setelah berhasil memecahkan hatiku. Orang yang selama ini aku kagumi, orang yang mengaku menyayangiku sebagai temannya, orang yang selalu ada sejak 2 tahun terakhir untukku, tapi kini orang itu sudah tiada. Tak ada lagi orang yang akan menatapku dengan tatapan pemubunuhnya atau tersenyum dengan senyuman mematikannya… Yang ada hanya seseorang yang tak pernah menganggapku ada karena seorang gadis yang baru saja ia kenal tak lebih dari 4 bulan.

Aku pergi menjauh darinya dengan kesedihan yang memuncak. Tak akan… Tak akan lagi aku memanggil namanya, berbicara padanya, tersenyum padanya, bahkan untuk sekedar menoleh kepadanya aku tak akan pernah mau lagi.

Untuk terakhir kalinya aku melihatnya sedang menatapku kosong dengan entah apa makna dibalik tatapan pengkhianatannya itu.

2 minggu setelahnya aku dan Myungsoo benar-benar seperti orang asing. Dia penulis naskahnya dan aku hanya mengikuti naskah yang ia buat. Bukankah seperti ini tampak baik untuknya, walau aku akui aku memang sangat-sangat terluka menjauhinya, kehilangan dirinya, dan tak pernah mendengar suara lembut miliknya.

Aku menapaki lorong sekolah menuju kelasku. Di ujung sana, tepat di depan pintu kelas sedang terdapat dua sosok tengah tertawa begitu indahnya. Aku ragu untuk terus melangkah ke depan, tapi tak ada kesempatan bagiku untuk melangkah mundur karena bebarapa guru sedang bearada di belakangku memarahi dan memberi hukuman kepada dua orang siswa yang telah melakukan kesalahan.

Berani ? Tentu saja, aku akan menganggap seolah-olah di depan sana tak ada siapapun hanya ada angin lewat yang mengganggu kulit lembutku. Saat sudah sampai pada puncaknya dan akan melangkahkan salah satu kakiku menginjak lantai kelas, tubuh pria yang bernama Kim Myungsoo itu menghalangi jaalanku.

Aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan amarah, berteriak padanya agar ia menyingkir dari hadapanku. Nihil… dia tuli atau pura-pura tak mendengarku ?

Aku benar-benar muak terperangkap di antara kedua insan ini yang telah berkali-kali melukai hatiku. Ku dorong dengan keras tubuh Myungsoo hingga punggungnya mencium daun pintu dengan keras yang bisa kau prediksi bahwa itu sangat sakit.

10 jam berlalu, jarum jam sudah menunjuk pukul 5 sore yang mengharuskan semua siswa harus meninggalkan sekolah. Aku mengabulkan permintaan itu dengan meninggalkan sekolah secepatnya.

“ Kau ingin pulang denganku ? “

Suara itu.. Suara lembut Myungsoo. Benarkah ini ? Dia mengajakku pulang bersamanya. Aku sangat senang, tak bisa terbayarkan betapa senangnya aku saat mendapati Myungsoo yang dulu.

“ A.. “

Aku tak sempat melanjutkan kalimatku setelah tak sengaja menangkap Jiyeon sedang berada di depan pintu kelas yang tampaknya sedang menunggu Myungsoo.

Apa Myungsoo mengajakku pulang bersamanya dan juga Jiyeon ? Semua kesenanganku kabur seketika setelah melintas beberapa fikiran-fikiran yang… enatahlah tak bisa di jelaskan.

“ Tak perlu, aku bisa pulang sendiri “ tukasku dengan nada sedikit meninggi.

Bukan rumah yang ku tuju setelah berhasil bebas dari gerbang sekolah, melainkan menginap beberapa jam di sebuah cafe kecil, cafe klasik yang tak terlalu besar namun masih tetap indah di pandang dengan mata normal. Memesan secangkir kopi dan sepotong kue kecil itu yang akan ku lakukan setelah berhasil mendapat tempat duduk dekat jendela.

2 jam sudah aku di cafe ini. Merasa bosan ? Tidak..Takkan ada seorangpun yang bosan jika berada di cafe ini bahkan meski hanya duduk berjam-jam lamanya tanpa membuka mulut sedetikpun. Aku mengusap wajahku menyandarkan tubuhku di kursi yang aku duduki, aku merasa enggan untuk pulang jadi aku bertahan sedikit lebih lama di cafe ini.

KLINGG….

Bunyi gemerling itu menandakan bahwa baru saja ada pelanggan yang datang memasuki cafe ini. Aku mengedarkan pandanganku yang semula menatap keluar jendela kini beralih melihat sosok pelanggan yang baru saja datang.

Tubuhku terkulai lemas di atas kursi setelah melihat sesuatu yang lagi-lagi mengikis permata ketabahanku di setiap detiknya.

Kim Myungsoo dan Park Jiyeon yang kini tengah duduk disalah satu meja tak jauh dari keberadaanku. Myungsoo mengambil makanan yang dipesannya, melayangkan makanan itu ke mulut mungil Jiyeon. Mengelap sisa makanan di bibir pink Jiyeon dengan ibu jarinya.

Aku rindu saat-saat itu, saat di mana aku dan Myungsoo makan bersama setelah pulang sekolah, saling bertukar sesuap makanan. Rindu saat Myungsoo memukul kepalaku, rindu saat Myungsoo tersenyum seperti yang ia berikan sekarang kepada gadis cantik dihadapannya.

Perih itu kembali menemani hatiku. Air mata yang bersorak ingin keluar tak mampu lagi terbelenggu. Aku berlari keluar cafe, terus berlari tanpa peduli kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang yang sewaktu-waktu akan menabrakku tanpa izin.

Aku terjatuh di pinggir jalan dengan air mata yang terus berjatuhan. Orang-orang sekitar yang melihatku hanya bisa memandang nanar keadaanku saat ini.

Menangis.. kenapa aku harus menangis ? Aku benci menangis seperti ini…

Kenapa aku harus lemah ? Kenapa aku terus-terusan terluka.

 Tak adakah satu kebahagian saja yang dengan senang hati mampir ke hatiku ?

Hangat… sebuah tangan mendekap tubuhku, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Kim Myungsoo kini sedang memelukku. Sekarang apa lagi ? permainan apa lagi yang akan di ciptakannya ?

Aku mendorong tubuhnya melepas pelukannya dengan kasar. Menatap dirinya dengan cairan bening yang tergerai lembut di wajahku. Dia menatapku dengan mata elangnya dan menghapus setiap tetes air mata dengan jemari tangannya.

“ Jangan menangis “ ujarnya lemah.

“ Pergilah, aku tak menyuruhmu berada di sini “

Sekali lagi dia memelukku. Pelukan dari Kim Myungsoo yang ku terima untuk pertama kalinya.

“ Maafkan aku membuatmu terluka terlalu lama tapi pada akhirnya aku mencintaimu “

Lagi Myungsoo mengucapkan kata itu lagi. Apakah kali ini sungguhan atau hanya sebuah lolucun baru lagi. Aku menghempaskan tubuhnya perlahan. Di wajah Myungsoo terlukis sketsa kabut kesedihan yang terkurung dalam penyesalan. Ku mohon jangan katakan padaku bahwa ini sebuah kepalsuan.

“ Tidak.. kau mencintai Jiyeon “

“ Kau salah. Waktu itu aku sungguh serius mengatakannya tapi kau tak meresponnya. Kau tak menerima atau menolaknya membuatku berfikir tak ada kesempatan untuk memilikimu… jadi aku mengujinya dengan cara seperti ini “

Isakan tangisku terhenti mendengar kalimat yang di lontarkannya. Myungsoo mencintaiku..

“ Permainan ini sudah berakhir dengan Aku Mencintaimu “

 Ku peluk tubuh Myungsoo dengan erat. Tak ingin melepaskannya walau hanya sedetik. Luka di hatiku dengan mudahnya terobati dengan pengakuan Myungsoo. Aku tak peduli dia membohongiku dan melukaiku selama ini yang aku pedulikan hanyalah mendapatkan kembali seorang Kim Myungsoo.

 Udara yang dingin dimalam hari menyelimuti pelukan kami yang di saksikan olah banyak orang yang melintas serta gelapnya langit kota Seoul yang tersenyum bahagia mewakili perasaanku.

END

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya….

FF Ficlet | Vinji Twins | Feeling Of Hate

Coverff-feeling-of-hate

Title           : Feeling Of Hate

Author       : Lee Ho Ji aka Vinwi Lee

Cast

– Kecin Woo

– Lee Chunji

– Choi Juniel

Genre       : Angst, AU

Lenght      : Ficlet

Rating       : PG 17

Seorang pria tampan bernama Lee Chunji tengah duduk di salah satu meja sebuah Bar, asik menikmati segelas bir miliknya. Bar yang kosong tak satupun ada pengunjung hanya tersisa beberapa pelayan Bar, ia sengaja menyewa Bar itu  entah apa alasannya.

Wajahnya melukiskan kebencian yang mendalam. Otaknya penuh rasa benci dan sebuah penyesalan yang tak berarti baginya. Sesekali ia tersenyum sendiri dan tak jarang bergumam kesal.

Seorang pria manis datang menghampirinya, ia tersenyum kepada pria itu.

“ Kevin hyung “ ujarnya.

Pria yang diketahui bernama Kevin itu lantas melayangkan pukulan ke wajah Chunji yang membuat Chunji tersungkur ke lantai dan berhasil membuat tubuh Chunji menyium lantai.

“ Ada apa denganmu hyung ? “ tanya Chunji heran.

Ia menyentuh bibirnya dan mendapati secarik darah mengalir pelan dari bibirnya. Ia tersenyum sinis, berdiri dan balik memukul Kevin.

Kevin tak mau kalah ia menghajar Chunji habis-habisan, memukul dan terus memukul Chunji hingga darah segar dengan perlahan mengalir dari kening Chunji. Pelayan Bar yang melihatnya hanya bisa diam mematung di tempatnya tanpa melakukan apapun untuk memisahkan dua bersaudara yang sedang berpartisipasi dalam perkelahian.

“ Kenapa kau terlibat pembunuhan Abeoji ? “ tanya Kevin dengan kemarahan yang mendidih.

Chunji tak menjawab ia malah memberi senyuman mengejek untuk Kevin dan masih asik menikmati pukulan demi pukulan yang di berikan Kevin. Chunji mendorong tubuh Kevin hingga membuat kepala Kevin membentur kaki meja dengan keras.

Chunji bangkit dari tidurnya membersihkan hoodienya dan sedikit merapikan kerahnya. Begitu juga dengan Kevin.

“ Lihat ini “ tukas Kevin menunjukkan bukti rekaman adiknya terlibat pembunuhan Ayah mereka sendiri.

“ Aku akan mengirimkan ini kepada Pengacara Lee “ lanjutnya

Chunji terdiam ia terlihat tenang tapi tidak dengan perasaannya. Ia khawatir mungkin itulah yang ada di perasaannya saat itu, ia terus bertanya bagaimana Kevin bisa mendapatkan rekaman itu.

Sejenak ia melangkah mundur dan memasukkan tangan kanannya ke saku hoodie hitamnya. Tampaknya ia ingin mengambil sesuatu dari dalam sana. Kevin terus bertanya meminta pengakuan dari Chunji bagaimana bisa adiknya tega membunuh Ayah kandungnya sendiri.

Chunji mengeluarkan sebuah pistol dari saku hoodienya dan tepat mengarahkannya ke Kevin.

“ Sebelum kau mengirimkan rekaman itu, aku akan lebih dulu mengirimmu ke surga agar kau bisa bertemu Abeoji “ pekik Chunji

Kevin diam dalam posisinya, ia menatap lekat mata adiknya itu.

– 1 detik

– 3 detik

– 5 detik

Bukan Chunji jika ia tak berani melakukan apapun. Sebuah peluru berhasil ia tancapkan tepat di lambung Kevin dan tak butuh waktu lama bagi Kevin untuk terbaring di lantai dengan darah segar yang mengalir deras dari tubuhnya.

Chunji menghampiri Kevin berlutut di dedapannya sembari tertawa penuh kekejaman.

“ Kau tahu kenapa aku membunuh Abeoji… Karena aku membencinya itu karena dia selalu membanggakanmu tapi denganku… Aku hanyalah seberkas sampah dimatanya. Dan kau tahu kenapa aku juga melakukannya padamu.. Karena.. aku mencintai Juniel dan kau telah mengambil hatinya dariku “ jelas Chunji tersenyum dan terus tersenyum.

Kevin tak bisa berucap, yang ia lakukan hanyalah memegangi perutnya dan melihat adiknya yang berubah entah sejak kapan. Yang Kevin tahu Chunji adalah orang yang selalu ceria dan menyayanginya, Chunji tak pernah marah atau membantah apa yang diucapkan olehnya.

“ Kevin-ah “

Sebuah suara menghiasi telinga Chunji dan Kevin. Chunji mendongakkan wajahnya dan mendapati sosok gadis cantik yang ia cintai. Ia berdiri tersenyum kepada gadis itu yang ternyata adalah Juniel.

Dengan sedih Juniel menghampiri Kevin, sejenak airmatanya meronta ingin keluar dan Juniel memberikan izin akan hal itu. Ia menatap Chunji dengan kemarahannya, dan…

PLAK

Sebuah tamparan meluncur ke pipi Chunji. Masih dengan menangis ia bertanya kepada Chunji.

“ Kenapa kau lakukan ini pada Kevin ? KENAPA ? Huh ? “ lirih Juniel terluka.

Kini Chunji semakin jadi, ia menarik tubuh Juniel dan menguncinya di dinding Bar, memegangi erat kedua bahu kecil milik Juniel.

“ Karena aku tak suka kau mencintainya “

Chunji mendekatkan wajahnya ke wajah Juniel dan dengan sigap tanpa basa-basi mulai melumat bibir Juniel, memegang tengkuk Juniel untuk memperdalam ciumannya. Tapi Juniel masih berusaha menutup rapat mulutnya.

Juniel mencoba mendorong tubuh Chunji namun Chunji sangat tepat dan pintar untuk mengunci tubuh Juniel sehingga tak memberikan sedikit ruang untuk Juniel memnberontak.

_

_

Kevin yang ternyata masih hidup membangunkan tubuhnya tanpa sepengetahuan Chunji. Ia mengambil botol kaca di meja tampat Chunji minum tadi dan memukulkan botol kaca itu ke kepala Chunji.

Chunji terkejut dan menghentikan aktivitasnya. Beberapa serpihan kecil botol kaca telah menancap di kepala Chunji dan langsung sukses membuat Chunji terjatuh ke lantai dengan lemah dan menutup matanya dalam beberapa detik.

Juniel yang melihatnya hanya bisa berdiri diam dalam ketakutannya. Ia melihat Kevin tersenyum kepadanya masih dengan memegang sisa potongan botol kaca yang ia pukulkan ke kepala Chunji tadi.

Kevin melepaskan sisa potongan botol kaca itu dan Juniel menghampiri dirinya. Juniel mendekap erat tubuh Kevin dan tanpa ragu Kevin membalasnya. Tak lama pelukan Kevin semakin melemah dan iapun terlepas dari dekapan hangat tubuh Juniel. Ia terjatuh di kaki Juniel dengan mata yang tertutup membuat Juniel hanya bisa menangis dalam kesunyian menggenggam lembut jemari Kevin.

END

 

◊◊◊

Let’s comment readers…..

Halo author baru  nih… Kasih apresiasi kalian buat author donk..

Berbuat baik itu indah loh readers, so jangan sombong-sombong comment ya…